Menuju Bahtera (1)




Kemana lagi berlari, mengejar harapan yang sempat mengalah?

Terlalu pagi untuk menceritakan hal melankolik. Terlalu dini usia untuk mengatakan hal hal rumit tentang masa depan. T-e-r-l-a-l-u.

***

   Ada yang tak  lelah menanti. Terus mempertahankan nafas baru di tiap waktunya, untuk meminjam dan membuat kedamaian. Berdirinya antara mawar yang 'sok' tegar di tengah galaknya ombak pada bebatuan karang.

   Ada yang tak lelah berikhtiar. Terus merapal kekata di tiap waktu terlebih saat waktu diijabahnya doa. Salah satunya hujan. Beberapa waktu lalu, kotaku diguyur hujan. Cukup lama hingga dalam seminggu payung tosca terus mengikut, bersemedi dalam tas punggung.

   Ada. Ketika yang lain sibuk mengumpat hujan, lainnya sibuk. Jika para ibu mengumpat sebab sementara melakukan pekerjaan rumah tetiba hujan dan tidak ada yang dapat mengangkat cucian di jemuran. Para bapak kesal terduduk beberapa jam di kendaraan akibat macet. Ibu ibu di pasar baik penjual atau pembeli yang tak sempat menyiapkan payung pun melakukan hal serupa. Ada yang salah? Tidak. Semua bergantung pada kesadaran masing jiwa untuk tidak lelah berucap syukur.

   Hujan pun bawa berkah. Di sudut lain, beberapa tidak memerdulikan hujan. Asyik denngan rutinitas masing masing. Namun, yang lain sibuk memanjat langit. Mencari pasangan huruf menjadi kata agar sampai dan diamini penduduk langit. Doa yang kemudian berlabuh. Entah, pada muara yang menjadi tujuan atau sebaliknya.
   Perahu laiknya doa. Tak perlu takut akan tubuhnya dihempas ombak, itu adalah kepastian dirinya untuk tetap tegar. Perahu tak perlu takut jika tak ada penumpang dalam perjalanannya. Perahu takut bila nakhoda-nya tak tahu arah kemana harus berlayar. Dermaga mana yang harus dituju. Apakah dermaga menjadi tujuan atau stasiun?

sumber gbr:  Doc. Pribadi Penulis ... Dermaga Semen Tonasa, Lapuko, Moramo

   Biarlah dia memandang. Barangkali hanya ingin memandang dalam jarak sesuka hati yang ditahunya itu boleh. Biarkan dia menunggu. Sebab telah diberitahukannya, itu bukanlah dermaga. Hanyalah tepian kota yang sesekali disinggahi pemilik.
   Biarlah dia menduga. Barangkali dia belum jenuh menunggu. Adakalanya alasan musykil menjadi jawaban telak atas perihal yang tidak kebanyakan orang mengetahuinya. Biarkan dia mengamati dermaga dalam artian sebenarnya. Kemudian, ajari dia tentang masa air yang dapat membuat perahu mengapung. Seperti doa, doanya yang kini terus merangkak.

*** 

  Hei, Kamu...  Ya, kamu: Jangan lupa bahagia. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Seperti apa riakan ombak oktober, november, hingga desember bahkan seberapa kuat perahu kita melintasi samudera. Jadilah nakhoda untuk perahumu. Nakhoda yang baik, kuat, tegar, dan cerdas. Tidakkah kau curiga bahwa angin di depan menunggu dan ingin berkarib?

   Jadilah bahagia. Jangan lupa bahagia. Tetaplah berbaik sangka.

"Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit. Maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak."
-HR. Ahmad- 

.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 13 Oktober 2016 | 7:00 am  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a