Sepotong Pagi di Kota Hujan (2)
Inilah pagiku. Pagi kita. Pagi di Juni yang tak hujan. Sedang Sapardi sibuk menerjemahkan Juni yang basah dan kita tentang pertengahan tahun. Dimana abang-abang sibuk menyiapkan pundi-pundi rupiah, ibu-ibu dipinggir jalan menggamit lengan lelaki pemanggul goni. Meraup sisa-sisa keringat yang berjatuhan demi membuat dapur tetap mengepul.
Inilah pagiku. Pagi kita. Pagi di Juni yang telah beranjak. Kini pagi di penghujung Oktober yang basah. Embun masih menetap pasrah di dedaunan. Deru motor, langkah anak sekolah, sahutan ember tetangga, nyalak kuali yang bergesek sudek, juga tangis bayi yang belum benar lelap.
Inilah pagi. Dengan segenap rutinitas juga kisah. Aku menyukai pagi. Aku menyukai sepotong kisah di tiap harinya.
Di sepotong pagi, ada tawa lepas yang ikhlas. Ada tatapan cerah yang teduh. Ada wajah berias tana keluh. Tanpa kerutan. Aroma parfum sekeping dua keping receh. Bau embun. Juga panas setrika. Bahkan musik beraneka rupa.
Pagi kita tak melulu sama. Meski berada di atap yang sama. Kita memiliki frekuensi yang berbeda. Mod. Keinginan. Kebutuhan. Sekitar. Tak ada yang sama.
Pagi kita, berbeda. Pagi itu bunyi angklung ber-do-re-mi-fa-sol, tempias senyum kawan, dan kipas sate. Tak ada sate, tetapi itu cukup mewakili perasaan.
Pagi. Selamat pagi!
***
Cerita tentang pagi boleh berbeda. Kita hidup di kuadran yang berbeda. Tidak sama. Awan pagi kala itu cerah. Kumpulan awan di bawah burung terbang seperti kumpulan mentega putih yang sengaja dihambur pasca mixer. Well, mengingat itu, saya merindu saat mixer memixer bareng ibu dan adek.
Gugusan awan yang cantik. Entah pulau apa di dy bawahnya. Saya benar lelah saat itu. Mengejar flight di Kota Daeng dan Halu Oleo yang menanti untuk membahas sekelumit kisah. Cerita pagi itu belum selesai. Terus berlanjut sampai saat ini.
Dan di pagi yang selalu berbeda, ada syukur yang selalu terucap. Pagi ini aku akan beribadah,. Meskipun berat. Siapa tahu nanti malam aku mati (Imam Ghazali). Juga pagi tidak selalu indah. Potongan ceritanya terkadang menyesakkan. Namun, begitulah cara pencipta mencipta hal. Tidak selalu dibungkus dengan indah. Sama perihalnya dengan kado. Tidak perlu dibungkus dengan cantik. Kadang, Tuhan membungkus suatu hadiah dengan masalah tetapi menyelipkan berkah di dalamnya.
Mari bersyukur. Nikmat-Nya tak pernah selalu disangka. Dia Sang Maha Pemberi Kejutan Terbaik.
"dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya."
-QS. An-Nahl: 53-
.
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 26.10.2016 | 8:30 am


Komentar