Tanpa Judul



(Lagi-lagi) malam ini ada yang hilang. Entah dalam bentuk jiwa, kata, atau rasa. Aku telah lama jauh berdiri di sini tetapi kamu telah lama juga tak gerak. Aku menunggu berjalan sementara kamu harapku berlari. Aku melangkah--maju-- kemudian kamu memundur.

***

00:10 am
Aku ingat, malam dimana bintang sesekali muncul di atas atap tetangga dan kita mengintipnya hingga sepertiga malam kemudian berbicara jujur tentang apa yang kita "kamu" impikan.


Aku ingat, malam dimana kita mulai menjadi karib dan tak sengaja pertanyaan untuk kalian dan jawaban serta pernyataaan untukku ada. Aku sangat mengingat.

Mau kujabarkan? Aku bukan penjabar yang baik. Bukan pula pecinta aljabar.

Baiklah. Sejam sebelum kita benar-benar enyah dimakan kantuk, aku mendengar apa yaang kau ucap dengan seksama. Tentang masa depan yang kau idamkan. Jauh sebelum itu, kau sempat menanya perihal siapa dia.

Ya, siapa dia. Dia yang menjadi sosok. Jujur, aku tidak miliki hal seperti itu. Kau bukan orang pertama yang menanya. Kemudian kamu lagi-lagi bertanya, siapa yang kukagumi? Bosan menanya, kau mengatakan satu hal yang tak semestinya kutahu. Aku takut masa depan berubah dan mesin doraemon tak lagi mampu mengubah takdir.

Saya takut, dia memilihmu. Saya tahu, banyak di luar sana mengangumi. Saya pun takluk.


Aku diam. Sebegitu takutkah? Siapa yang ditakutinya? Aku masih diam sesekali tersenyum, berusaha menanggapi. Dan, dia pun terdiam. 

00:30 am 
Di, kamu tahu? Banyak hal yang nampak dan kamu tidak merasakannya. Saya tahu, banyak pula yang tidak menerima kehadiranmu dan tidak mengerti atas sikapmu, tuturmu, dan diammu. Saya tahu. Itulah mengapa, saya takut. Saya takut.

00:40 am
Jarum jam semakin ribut.
Aku seperti biasa, sibuk menguliti kuku-kuku-ku. Melihat mana yang tak ramping, menata selimut dengan apik, memandang langit-langit kamar, dan sesekali melirikmu. Kamu masih terdiam.

Jarum jam masih ribut. Aku berkata perlahan, ingatkah kau perihal Hafshah binti Umar bin Khattab? Ingatlah, kemudian beritahu aku jika kamu sudah mengingatnya.

Kamu masih terdiam. Bahkan hingga, titik nol beralih ke angka satu. Baiklah kuceritakan. Perihal Utsman bin Affan ra, Abubakar ash Shiddiq, dan Rasulullah. Aku telah mengetahui apa yang kau inginkan. Aku menaati para pendahulu yang begitu tegar dan setia.

Semakin larut. Bahkan hingga tertidur, kau terus katakan: Takut. Haruskah aku berjanji? Kau mengiyakan. Iya, aku tidak dengannya.

***

Ibu pernah bercerita, kelak jika sudah waktunya... Menemu siapa, tak usah tanya mengapa. Tak perlu khawatir, kita punya Allah untuk melewatinya. Telah ada langit yang menuliskan segala. Berusaha, akan dimudahi segalanya. Kamu doa, ibu doa, bapak doa, dan dia doa.

Nak, kamu percaya? 
Apa itu?
Akan ada yang bertamu dan itu tak pernah tertukar.



dy a. said
Kendari, 9 Oktober 2016 | 7:06 pm 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a