i've live a thousand lives
Well... Untuk hari ke-empat saya masih kokoh bersemedi didampingi buku-buku yang ternyata menagih untuk dibaca. Ya, telah banyak buku yang terdampar dalam bak pengumpulan karya dan semua layaknya pemandangan yang begitu jauh untuk dijangkau. Selama ini buku-buku itu terpajang praktis.
Buku-buku tersebut saya pilah menjadi beberapa tempat. Buku wajib baca. Buku penting tidak mendesak. Dan kumpulan buku penutup--Habis baca bentar langsung tutup gitu-- hehe.
Ketika sendiri dan menatap bacaan dengan variasi usia, saya lebih sering menjadi seorang thinker for future. Untuk jangka yang saaaaaaaaaaaaaaaaaaaangat panjang. Yang biasa dikonsepkan dengan baik, kini menjadi lebih baik dan benar. Saya menjadi seorang yang lebih merunutkan suatu sebab akibat kemudian membuat bagan. Menggambar pohon. Merunut dari akar hingga pucuk. (Gambar tidak terlalu bagus, jangan dibayangkan. Cukup liat aja gambar di samping kanan tulisan).
Buku menjadi teman terbaik. Untuk curhat. Meditasi. Berpikir--analitis kritis atau malas berpikir--. See the world. And then, menjangkau sejauh mana saya menjadi kudet (kurang update) terhadap informasi sekitar. Bersyukur saya diberi fasilitas yang dapat menjangkau hingga tulisan ini terbit, saya masih dapat berpikir dan beraktivitas walau terbatas--sangat terbatas--. Beraktivitas di atas sebuah tempat empuk tanpa perlu gerak. Yaps, saya bahagia dengan itu.
Jarak antara rak buku serta si empuk tidak terlampau jauh membuat pergerakan menjadi lebih mudah. Ditambah, disisi si empuk, beberapa eksamplar buku terbentang. Haha, saya seperti suka menghambur segala sesuatu. (Dan, lagilagi, kondisinya seperti pada gambar. Tumben searching langsung dapet yang pas gitu).
Jika ada yang bertanya, lebih memilih berkarib buku atau manusia, maka saya akan memilih buku. Saya harus jujur. Jujur disayang mama papa, THR lebaran dari om tante pun naik tiap tahunnya, plus dikasihi Dia. Wkwk.
im serious. Buku memberi tahu segalanya tetapi segalanya tidak didapatkan dari buku. Pebaca butuh pengamatan di luar. Agar objek tak sekadar subjek. Saya memandang jauh ke depan, banyak yang mengabaikan hal ini. Saya prihatin. Ah, percuma.
Baiklah, kembali ke leppy. Alhamdulillah saya masih dapat menggerakkan jemari dengan baik. Penglihatan sudah mulai sempurna menerang. Dan, saya masih tetap belum beranjak terkecuali membuka pintu-pintu. (sementara pintu hati saya masih tertutup, hiksss)
"...a room without books
is like a body without a soul"
Saya banyak menggantung harapan dari bukubuku. Boleh jadi karena sikap introvert yang tak kunjung membaik atau sikap diam untuk menjaga.
Saya percaya pada apa yang saya baca. Saya percaya pada apa yang saya dengar jika telah melakukan filter kabar tersebut ke sumber akurat.
Saya ingat, Pendiri Bangsa ini mengatakan, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, dan Done...
Saya menjadi jas merah. Maka pada mereka yang selalu mengumbar untuk hal yang ingin dibenarkan. Maaf.
Maka untuk mereka yang kebanyakan ber-twit tanpa melihat kenyataan. Maaf.
Diam untuk bergerak.
Bergerak untuk berubah.
Berubah untuk berkarya.
Berkarya untuk bertahan.
Bertahan untuk bertahta.
Baca. Baca. Baca.
Tidak sekadar buku.
Melainkan keadaan, situasi.
Jadilah penerjemah yang cerdas.
Penganalisis yang handal.
Jadilah.
Do. Know ur passion.
Segerakan apa yang menjadi cita.
Tuntaskan. Keadaan bukan suatu alasan.
"...some see a weed,
***
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 21.10.2016 | 10:30 am





Komentar