Mama Eya: di Balik Tegarnya Seorang Perempuan
Dua hari saya terjebak. Tetiba mengingat masa lampau. Mengundang orangorang yang telah pergi untuk kembali hadir mengisi hari.
Dua hari saya termangu. Menjelang ashar, bukan karena keringat dingin yang kerap menghantui selama empat hari terakhir melainkan munculnya dia yang kerap saya jahili dan terkadang saya tak sabar untuk bangun pagi kemudian memutar tivi dan bersama kami menonton salah satu channel kesukaan kami, Mamah dan Aa.
Dua hari yang berat dibanding ujian yang memasuki hari ke-empat ini. Merubah segalanya. Tidak lagi menatap dinding langit kamar melainkan memaksa untuk dapat duduk. Saya belajar duduk selama 5menit. Tak sanggup. Duduk kembali. Tak sanggup. Duduk lagi. Begitu seterusnya hingga saya dapat duduk dan memangku sebuah laptop.
Saya mengingatnnya. Saat pulang sekolah, tidak ada suara. Sunyi. Saat pergi sekolah, suara tivi memenuhi ruang. Tayangan berbau islami tak pernah dilewatkan. Wajib bagi kami, cucunya pergi ke sekolah tiap hari = kewajiban baginya untuk menimba ilmu lewat tv elektronik.
Semua tinggal masa lalu. Dan, masa lalu hanya dapat dikenang.
***
Beberapa menit lalu, rumah kami rusuh. Saya, Ikrar, Dinda, dan Mama Eya bersaing memperebutkan piala the most of ribut. Walaupun saya menjadi kakak, kadangkala ketika kumpul bersama sebagian jiwa kekanakan saya muncul.
Puas bermain ributributan terlebih Ikrar Mom telah menatap tajam "khas" ke arah kami. Kami berhenti. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Kami melanjutkan ke sesi berikutny. Apalagi kalau bukan berfoto. Cekrek cekrek. Dapat gambar, lihat sekejap, jelek hapus, bagus simpan. Selalu seperti itu. Saya lupa siapa yang memotret gambar di atas. Saya bahkan tak lagi ingat di mana saya selepas itu. Kamera resmi beralih tangan. Kemungkinan ada dua, jika bukan berada di kursi samping kanan maka pastinya kaki saya telah bergerak lebih dalam menelusuri tempat dimana soto ayam berada. Thats me.
Dalam hidupku, banyak sekali kejadian penting yang terjadi di pagi hari. Dan senja. Termasuk saat menuliskan kisah ini. Seperti senja sepekan yang lalu, purnama nyaris sempurna mendekat. Saya merasa tengah berada di Bogor--kebetulan saat itu purnama dan saya berada di jalan ambang batas Jakarta dan Bogor--.
Pagi ketika pertama mengenalnya. Saya menghela napas. Sejak pertemuan yang sengaja kuputuskan karena hobi membaca yang selalu dilarang. Yaps, saya yang telah fasih berjalan, berlarian, dan berbicara sejak usia setahun menjadi seorang pecandu buku. Bapak yang tiap pulang kerja membawa buku loakan atau buku kas koperasi hasil rapat akhir tahun. Tetangga yang senantiasa membawakan majalah "Bobo" anaknya untuk diberikan cumacuma pada saya hanya karena saya terlalu aktif, cerewet, dan ... tebaklah
Kebiasaan baca saya mulai ditekan. Dilarang membaca. Segudang buku dalam sebuah ruangan khusus dilarang untuk disentuh. Walaupun kadang bukan saya yang menyentuhnya, tetap ganjaran atas tidak boleh tersebut beralih di pinggang, lengan, maupun paha saya. Sebagai sulung atas seluruh cucu, ikhlas dan tegar adalah jawaban. Diam.
Setahun yang saya habiskan bersama perempuan yang akrab saya sapa Nenek. Setahun yang mengerikan tetapi menjadikan karakter itu tertanam sampai sekarang. Gegara bukubuku yang tak boleh dibaca--saya tidak pernah membacanya, secuilpun terkecuali memegang-- saya menjadi seorang pelawan. Masa kecil sebelum setahun berkunjung ke kampung saya habiskan dengan memanjati rak-rak buku Bapak. Membongkar karton berisi buku. Mewarnai buku yang sama sekali tidak bergambar. Bahkan saya membaca bukubuku era reformasi di saat anak seusia asyik menikmati bacaan lain.
back. Saya berazzam, kelak bukubuku yang telah saya miliki siapapun boleh membacanya saat bertandang ke rumah. Kelak, saya akan berbagi apa yang saya baca pada lainnya. Kelak, buku yang saya miliki akan saya beri pada mereka yang butuh. dan kelak kelak lainnya.
Dia benar. Kami akan banyak mengambil pelajaran darinya. Dia yang takut akan pesawat tetapi kekeh ingin naik pesawat. Takut naik motor tetapi cemberut manja ketika tidak diajak berkeliling. Takut makan pedas, tetapi ketika dia memasak justru masakannya terasa pedas, dan as you know... Itu pedas sekali!
Tetapi kami tetap tertawa. Terbahak. Mengomeli sembari si adik runner up one menimpali, "Kan Juara 1 Tingkat RT, kok masakannya gini?" Semua kembali tertawan. Makan. Menghabiskan. Dan lanjut pada rutinitas masingmasing. Malam menggantikan siang-siang menggantikan malam.
Mamak benar. Mama Eya tidak selalu salah dalam segala hal. Dia mengajari kita dengan baik namun kami yang salah menafsirkan. Kami terlalu pandai untuk menganalisis dan mencatut pelbagai praduga. Tidak selalu harus jadi the one. Tidak harus selalu jadi kakak terbaik. Tidak harus selalu.
Saya harus paham bahwa luka bagaimanapun dia, akan sembuh. Akan tetap terobati. Mencoba dan ikhlas untuk memaafkan adalah jawaban terbaik. Saya tidak perlu menggadaikan kesibukanku hanya untuk mengingat masa lalu menyakitkan. Tentang cubitan, jumlah permen yang tak kunjung dibagi rata, tatakan kasih, tatapan sayang, dan pelukan juga ciuman manis pada pelipis. Tidak pernah. Tidak harus selalu.
Saya tidak sekuat. Tidak kuat. Kuat seperti kamu. Tidak kuat seperti Mama Eya atau Mamak. Saya telah membiasakan diri untuk kuat di saat sulit 'keadaan apapun' tanpa melibatkan >2 orang. Tanpa Mamak pun Mama Eya tahu.
Hal itu menjadi biasa. Dari Mama Eya saya belajar untuk tegar. Belajar bagaimana agar orang lain dan kelak cicit tidak merasakan apa yang saya rasakan. Tidak ada lagi yang melarang saya memegang kompor. Menyalakan kompor. Memasak. Mencuci pakaian. Tidak ada lagi yang diamdiam menangis tengah malam untuk saya. Saya tidak berharap banyak. Semoga Mama Eya tetap kuat.
Kita memiliki mimpi bersama bukan. Janji untuk menghadiri wisuda tahun depan. Lebaran bersama di kampung. Menjenguk sanak keluarga. Memperpanjang kembali dan meluruskan lagi tali kekerabatan.
Kita memiliki mimpi yang belum sempat ditetaskan. Menjadi terkendali atau tidak saat melepas bayang seseorang adalah kesalahan. Kesalahan akibat belum mampu melupa masa lalu dan kesalahan tidak menerima masa depan.
Kita sanggup berjumpa dan tak sanggup melupa. Kita siap temu tapi tak siap pisah.
Semua itu menyesakkan.
Hanya membuat khawatir.
Baiknya, diapakan?
Terimakasih.
Banyak hal yang sampai kini belum dapat saya pecahkan jawabannya. Seperti teka-teki. Saya hanya tahu, dibalik tegarnya karang ada bayangmu.
Dibalik tegarnya ibu, ada bayangmu selain bayang kami.
Dibalik ketegaran, ada Sang Pencipta yang tak pernah lelah memberi kasih.
"aku lebih menyukai kisah yang sepotong di
pagi hari atau senja..."terimakasih
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 21.10.2016 | 7:50 pm


Komentar