yang terbaik bukanlah yang tercepat

HASIL BELAJAR adalah sesuatu yang tersisa dari semua yang terlupa.
(Media Indonesia, 11 Maret 2013)

*** 
Suhu udara tak benar panas. Siang ini di dalam ruang ber-AC ditambah remahan tawa ibuk-ibuk yang sibuk menceritakan penampilan 'pedangdut' semalam, seorang bapak sibuk mengurus perlengkapan 'entah apa' serta seorang mahasiswa berjilbab di pojokan dengan dua tumpuk buku di kanan dan kirinya. 

Burung di luar, lebih dari satu selalu siap bercuit-cuit tanpa henti. Anak-anak di luar pun merengek. Sesekali terdengar suaranya lantang ingin pulang ditambah rengekan khas. Langit tampak mendung tetapi tidak akan turun hujan. Rabu ini saya ingin bercerita tentang apa saja yang terlintas.

Tidak ada yang spesial. Namun, berada di tempat ini adalah hal yang menyenangkan. Saya kerap sengaja datang tanpa tujuan apaapa selain membaca bukubuku gratis di tempat ini. Saya dapat mengambil jenis buku apapun. Mengelilingi tempat ini tanpa diawasi mata tajam penjaga ruang dan tanpa sedikitpun memikirkan kocek yang keluar. Cukup membayar ongkos angkot dua jurusan yang berbeda selama pulang-pergi; selebihnya tak ada.

Setelah beberapa bulan tak berkunjung, saya menyempatkan diri. Kali ini dengan memboyong banyak buku di tiap rak 'pendidikan'. Yaps, saya tengah merampungkan studi akhir. Pelbagai jenis buku tentang pendidikan termasuk jurnal pendidikan tak luput dari tarikan jemari di tiap rak. Meja saya penuh dengan buku. Tempat itu senantiasa lengang, tak banyak pengunjung. Bahkan untuk bulan April, saya adalah pengunjung ke lima setelah April genap berusia 12 hari dan satu-satunya mahasiswa yang berkunjung. Saya harus mengejar studi. April semakin berlari menuju Mei sementara tugas akhir yang kubuat semakin banyak yang kugubah.

*** 
Teringat sebuah cerita tentang mahasiswa di masa akhir dari 8 semester normal yang dimiliki. Bagaimana kemudian cibiran si mahasiswa ketika 6 semester menduduki puncak predikat 'jenius' tetapi menjadi yang pelan tapi pasti bergerak. Temanteman yang selama ini slow down baby di dalam melangkah mengejar matahari; beberapa di antaranya telah menyandang gelar impian. Dalam kondisi seperti ini, saya hanya dapat mengatakan aku mah apa atuh. Saya tidak dapat menyalahi takdir dan segala keputusan yang telah saya putuskan. Bagaimanapun ini perihal masa depan yang akan berpengaruh pada masa saat ini. Saya harus memikirkan dengan baik apa yang harus saya lakukan tanpa ketergesaan. Apa yang baik, belum tentu yang baik menurut kita jika disandingkan dengan ketetapanNya. Saya percaya pada apa yang menjadi keputusan untuk para hambanya. Maka, selain berusaha dan berdoa,  apalagi yang dapat saya lakukan sebagai makhlukNya yang lemah?

'Diah, kapanmi kamu ujian?' ; 'Sudah konsulmi?' ; 'S.Pd-mi?' ; 'Sa kira kamumi yang duluan' ; and the other statement. Alhamdulillah, saya tidak merasa down ketika ditanya hal seperti itu. Saya akan bergerak semampu dan sekuat apa yang dapat tubuh saya bisa. Memaksakan diri dan tergesa dalam situasi tertentu kurang baik, bukan?

Maka, di tiap time schedule yang dibuat ada doa di dalamnya. Tidak hanya sekadar menuliskan apa yang menjadi agenda harian, mingguan, serta bulanan tetapi target yang harus benar dicapai. If you fail to plan, You plan to fail. Is't right?



Ya Allah, perbaiki urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaiki duniaku, karena disitulah urusan kehidupanku. Perbaiki urusan akhiratku, karena kesanalah aku akan kembali. Jadikan hidupku ini ebagai tambahan kesempatan untuk memperbayak amal kebajikan dan jadikan kematianku sebagai tempat istirahat dari setiap kejahatan. (HR Muslim dan Tirmidzi)


*** 

MENJADI mahasiswa semester akhir bukanlah suatu dosa besar. Yang dibutuhkan ketika menyandang status mahasiwa akhir adalah ketabahan dan sabar yang luas. Keseimbangan langkah menuju perbaikan adalah indikator yang harus dipenuhi. Strata satu adalah ladang raksasa, saya lebih suka menyebutnya laboratorium raksasa. Dimana para pelaku dapat ber-eksperimen sesuka hati dan terus mencoba jika gagal bahkan dapat merasa, melihat, serta men-judge sesuatu. BAHTERA ini adalah persiapan. Maka persiapkan diri untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Belajar, mengajar, dan sigap mengambil pembelajaran dariapa yang di ajar. Sebab kita akan menua dan menyesal beberapa tindakan yang tak terpikirkan; yang mengapa tak kita lakukan saat masih muda dulu. (Saya, alhamdulillah kini masih termasuk usia muda tetapi tidak produktif. hikss)

"Allah menyeru manusia untuk menyiapkan diri bagi kehidupan akhirat yang sejahtera." QS 10: 25

*** 
Ruangan ini menjadi semakin riuh. Laptop saya mulai lobet sementara dari tadi apa yang saya cari tidak saya dapatkan untuk referensi studi akhir. Akhirnya, saya memilih menyelesaikan satu esai untuk lomba penulisan yang diadakan salah satu HIMMPAS UNIVERSITAS NEGERI di Indonesia dan menyetor satu tulisan di my blog.

Ah, nampaknya langit mulai cemberut. Mendung mempercepat kelam di waktu dzuhur. Saya harus bergegas sebelum basah-basahan (lagi). Tiga hari sudah saya berpesta di tengah hujan deras kota. Menyenangkan tetapi membikin saya sesuatu esok harinya (hehehe).  Apapun itu, tetap produktif. Sembari menyelesaikan tugas akhir, segala  puji bagiNya telah memberiku kesempatan untuk membantu pembentukan  salah satu laboratorium di tempat yang insyaAllah suatu saya akan saya pijaki (entah dalam tajuk apa nantinya). Terus bermanfaat, menebar kebaikan.

Menjadi yang terbaik, tak harus menjadi yang tercepat dalam mengejar. (Diah, selain mengejar toga-apa yang kamu kejar lagi? | Diah, setelah mendapat toga, apa lagi yang akan kamu dapatkan?)
.
.
.
.
.
diah a. said - pembelajar
Kendari, 12.4.2017 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a