Dari Ujung Negeri
sekolah itu bermimpi. bersekolah itu keberanian. menamatkan sekolah itu luar biasa. menjadi sesuatu seusai bersekolah adalah kebanggaan. (*)
***
"Nama anak itu banyak." Demikian kata seorang ibu paruh baya di sela menanti pembagian rapot. Dia terlalu terbiasa dan sudah membiasakan diri untuk sendiri.
Sosoknya biasa saja. Sebagai seorang kakak dan panutan untuk adikadiknya yang belum paham apa-apa saat itu dia terlalu banyak belajar tentang kehidupan 'yang begitu keras'. Dia bukan siapa-siapa, hanya anak kecil yang sedang tumbuh dan berkembang dalam meng-eksplor jati diri. Dia berjuang untuk belajar dan memahami serta berbagi.
Diberi kesempatan untuk bekerja di Bumi Allah sebagai penebar dan penerima manfaat adalah suatu kesyukuran luar biasa. Hal yang dipahaminya bahwa bekerja saja selagi mampu sesuai kemampuan dan batas semangat yang terus dipacu dengan waktu agar selaras dan menghasilkan karya apik. Dengan semangat dan pemahaman, dia berjuang dari ujung negeri membawa banyak cita-cita serta harapan orang sekitar. Sebuah nilai luhur yang coba diterapkannya dengan tulus. Satu hadist yang hingga kini teguh menjadi tuntunan baginya adalah agar hidup dengan menapaki jalan apapun rintangnya. Hadapi. Berjalan di muka bumi, berpetualang mencari nikmatNya yang tak terkira, dan memantaskan diri agar kelak bertemu kekasihNya di syurga (aamiin).
Maka, dengan bergegas, dia menggotong segala cita dan harapan ke sebuah kota baru yang belum sama sekali ia tapaki. Ia bermodalkan tekad dan doa ibu. Ia tak begitu banyak dikenal selama sekolah hingga kini. Kecenderungan mendekam dalam kelas ketika istirahat sedang berlangsung atau menjadi penghuni perpustakaan adalah pilihan bijak ketika perut tak benar keroncongan saat waktu penuh kebebasan itu menyapa.
Betapa dia bukan siapa-siapa. Kau bahkan akan sulit mencarinya. Hanya segelintir orang (orang tertentu) yang mengenalinya. Well, ketika berada di kota baru, berusaha untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini digandrungi adalah keharusan. Di detik-detik terakhirnya, dalam sekarat tugas akhir dia masih mengokohkan tapak dan menegakkan tubuh agar dapat berdiri tegap serta sigap atas segala pelik kehidupan.
"Apa yang kamu dapatkan ketika bersamanya?"
"Tidak banyak. Tetapi saya banyak belajar ketika bersamanya. Bagaimana menghadapi seseorang ketika emosi sedang labil lalu berusaha untuk selalu tersenyum (sesuka tidaknya kita dengan orang tersebut). Kemudian, dia begitu sabar menghadapi kami yang bandel. The last, keburukannya adalah dia suka bekerja seorang diri ketika harapan yang ditanamnya pada seseorang tak lagi bernama harapan melainkan beban atau abai dari orang tersebut."
Suasana lengang. Sore itu, semua menjadi biasa saja. Sebab orangnya biasa semua. Bagaimanapun akhirnya, kita semua berasal dari ujung negeri dengan visi misi yang berbeda. Ada yang sama. Ada yang tidak jauh berbeda pula. Terkadang, hidup yang sedang dijalani tak sesuai dengan arti hidup yang sebenarnya. Maka, berusaha untuk tetap bertahan atas jalan yang dipilih bukan lagi pilihan tetapi kewajiban. Diri harus membuktikan cinta yang ikhlas pada sekitar, mempertanggungjawabkan kehadiran di bumiNya sebagai wakilNya, dan menyampaikan perihalNya.
Alangkah baiknya, seandainya kaumku mengetahui. Bersebab apa kiranya kaumku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.
QS. Yaasin: 29
Untuk menjadi seperti itu, segala usaha keras dibutuhkan. Bagaimana mencintai diri sendiri, menghasilkan emosi yang stabil, mencintai saudara, hubungan dengan pencipta serta ciptaan. Yang sejati itu, yang ikhlas mencintai, yang berasal dari biasa saja dengan kesadaran yang sangat tinggi dan terus belajar agar hidup tak sekadar hidup mulia. Namun, meninggalkan karya serta syahid.
Hm, gaes... tugas kita hanya berjuang. Bertahan. Komitmen. Jangan cepat menyerah dan kecewa juga gagal. Itulah sejatinya berproses. Proses itu harus terus belangsung selama hayat masih di kandung badan, dan serahkan hasilnya pada Sang Maha Pengatur segala kebijakan.
***
Anak itu masih duduk di pojokan. Mengamat hamparan biru dan julangan pepohonan; pemukiman di depannya. Negeri ini nampak jelas lanskapnya. Maka, ia mencoba untuk hindar dari kehausan akan puja/i. Nampaknya dia mulai sadar ketika sendiri itu datang, dia mencoba untuk memisahkan dua titik yang saling bertolak belakang atas nama kekhawatiran yang berlebih.
DARI UJUNG NEGERI... perjuangan itu jangan ditinggalkan. Jangan diperjuangkan seorang diri tanpaNya dan tanpanya.
DARI UJUNG NEGERI... jangan meninggalkan perjuangan karenanya, terlebih karenaNya sebab suatu waktu Dia akan meninggalkanmu.
DARI UJUNG NEGERI... jaga hati tetap untukNya. Kalau diibaratkan bulan adalah aku, dan kamu matahari. Meski berada di langit yg sama, kita gak ditakdirkan untuk bersatu. (SAF)
DARI UJUNG NEGERI... percayalah: Mimpi akan menjadi kenyataan ketika dibarengi usaha dan kedekatan denganNya.
SUDAH sejauh mana mimpimu(ku) terealisasi, gaes?
___
diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 17.4.17 | 1:33 pm

Komentar