diah anindiah said

"wa ode... yang mana orangnya?" tanyanya saat  itu. si empunya nama segera menyahut.
"diah anindiah said?" tanyanya kembali.
"hadir, pak."
"diah anindiah said. apa arti nama ananda, nak?"
... krik krik krik

suasana sunyi beberapa detik. yang ditanya terdiam.
"saya suka bertanya nama tiap anak didik. di setiap nama pasti memiliki arti. apa arti nama kamu, nak?"
"belum tahu, pak."
"nanti cari tahu, ya."
"iya, pak." jawabnya tersenyum lalu menunduk menahan kata.

___

DIAH ANINDIAH SAID. Anak itu duduk di depan. Sebelah kiri paling pojok, selangkah kakinya bergerak maka ia akan berada di luar ruangan. Kursi favorit selama tiga tahun kuliah. Selalu berada di ujung dan terkadang, sesekali jika terlambat maka ia akan duduk di belakang.

Saat itu, bersama bapak yang murah senyum. baik hati dan tidak sombong. dengan wajahnya yang tawadhu (alhamdulillah, ini beneran mantemen), tepat pukul 10.00 beliau masuk di kelas kami dan mulai mengabsen kami satu per satu. hampir se kelas ditanyai hal yang sama. saya seperti biasa, memiliki keunikan sebab nama yang didominasi dengan pengulangan huruf vokal menjadi objek beliau.

beliau kerap ingin mengetahui nama kami. tiap nama memiliki arti bahkan dapat disangkut-pautkan dengan nama jodoh kelak (eaaa, ini kata bapak).

"nama saya bulan. pacar saya, matahari. sungguh indah." itu sepotong kalimat yang saya kutip dan catat di satu lembar kertas saat mata kuliah bapak sedang berlangsung. banyak lainnya, tetapi sedang tidak ingin baper... hehe

jauh sebelum itu, sebenarnya saya pernah bertanya. sejak usia SD, nama kerap menjadi satu identitas unik untuk saya sendiri. well, saya memiliki beberapa nama panggilan sesuatu kultur orang yang memanggil. teman ayah yang seorang chinese, memanggil Lian. tetangga biasa menyebut Dian. temen ngaji dan sekolah hingga kini, Diah. Guru ngaji Nindi. guru bimbel, Said. dan, my lovely family call me... kakak. Kakak siapa? Kakak . . . :)

akibat dari banyaknya nama, suatu waktu saat mamak dan ayah sedang berkumpul, saya bertanya. mengapa? tidak ada jawaban spesial seperti mi goreng yang ditambah telur, suwiran daging ayam, cabai keriting seiris dua iris, serta potongan sawi. nama yang biasa.

diah anindiah, akan mengingatkan pada halimatus sa'diyah. seorang ibu susu rasulullah saw., seorang yang telah menjadi mulia dan penuh rizki setelah diamanahkan untuk menjaga rasulullah. sedang said, thats my fathers name. pemberian ayah, sejenis marga dari garis keturunan ayah. sayang, kami bersaudara, cewek semua sehingga otomatis said tidak akan berlanjut pada anak kami (eh). back to my name, saat pesantren kilat ketika kelas 4 SD, guru agama sekolah sebelah yang menjadi pemateri sirah rasulullah membawa materi tentang rasulullah ketika telah mengurusi biduk negara. tersebut sebuah nama, Zaid bin Tsabit. Saya seketika menarik sebuah garis kecil: Zaid, mungkin orang tua kakek almarhum H. Said terinspirasi dari nama sekretaris rasul tetapi karena Z sudah dilafal maka berganti S. hehe

saya narik simpulan nama berarti doa. penanda dan petanda. selebihnya, sila mantemen artiin ndiri. 

lalu, mengapa saya menulis nama saya sendiri? ini sejenis konferensi pers. wkwkw (ngerasa penting banget gueh). nama tersebut memang mudah diucap. coba aja: DIAH ANINDIAH SAID. But, coba mantemen tulis? gak jamin gue bakal bener.

beberapa penulisan yang buat saya terkecoh dan kerap tidak menganggap diri saya ada dalam sesuatu walau kesalahannya dapat ditolerir (diah, egois banget lo!). check it out (10 aja, itupun masih....).
(1) diyah anindia sait
(2) diyah aninda sait
(3) diah anindaiah said
(4) diah aninda said
(5) diah anindi syaid
(6) diah anindra syait
(7) diah anindia said
(8) diah anindyah said
(9) dyah anindya syaid
(10) diah anida said

apa yang terjadi? mudah diingat. sulit ditulis. terlihat sepele tetapi jika salah itu menyebalkan. bahkan sangat fatal jika kesalahan pada penggunaan akta, ijazah, pun sertifikat tidak akan berlaku terlebih identitas seperti ktp, sim, de el el yang kerap digunakan selama aktivitas sehari-hari.

saya kerap mangkir dari suatu agenda karena nama saya salah ditulis. juga tak pernah mengambil sertifikat (tanpa memperdulikan siapa yang ber-tanda tangan) karena nama saya yang salah ditulis. termasuk, dipanggil dalam suatu forum. sungguh, ini egois dan kekanakan. namun, beginilah cara saya untuk menghargai sebuah nama.

menulis sebuah buku juga menuliskan keseluruhan isi buku secara khusus sangat sulit. begitupun dengan nama. nama seseorang identik dengan bagaimana pembawaannya kelak. bahkan ada yang hanya dengan mendengar nama kemudian mengetahui karakter si dia. OMG. nama dibawa seumur hidup hingga tak lagi hidup. berat.

maka, belajarlah dari hal-hal kecil. panggillah teman dengan nama yang mereka sukai. kenalilah teman, walau sebatas mengingat nama lengkap mereka. tidak mudah memang, tetapi jika dijalankan dengan ikhlas, pasti bisa. apalagi, jika memiliki teman dengan nama yang sama, maka itu lebih mudah diingat. saya pun, dengan wajah dan banyak nama yang saya temui membuat saya harus mengingat nama lengkap mereka dibanding nama panggilan. kalau hanya nama panggilan terkadang akan tertukar dan itu terjadi hingga kini.

nama adalah pemerian orang tua. adalah doa. tak usah digubah untuk mengikuti tren de es be. 
___

DIAH ANINDIAH SAID. nama yang sederhana. terimakasih mamak dan ayah yang telah memberi nama. thats my full name and this my nickname: DIAH. Just call me with it.

___

mari bersama belajar.
salam pelajar.

kendari, 5 april 2017 |11:28 am
diah anindiah said

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a