kamis bersama hujan

Selalu ada yang berbeda di hari Kamis. Di musim penghujan ini, hujan kerapkali bertandang di waktu Kamis dan membikin banyak hal berubah. Mengubah rute perjalanan. Mengubah plan yang telah tersusun rapi. 
 
Kata Sapardi dalam puisinya; mencintaimu tak perlu menjadi ricik. Apakah hujan berbangga dengan itu? Kotaku basah. Air menggenang. Mengubah ricik yang imut menjadi kesah. Anakanak riang mengguyur tubuh di bawah derasnya riak. Ibuibu mengomel, mengerutuki cucian yang tak kunjung kering. Mobil, motor berusaha menghindari hujan. Mencari cela untuk bersembunyi. Pelajar, pejalan kaki, mengambil daun pisang sebagai payung; sebagian membuka payung berwarna. Menutupi kepala. Lainnya, mencoba menutupi kepala dan seluruh tubuh dengan tangan yang begitu mungil.
 
Ini tentang hujan. Tentang nikmat. Tentang kode penghuni langit dan bumi.
 
*** 
 
Olehnya, hujan datang membawa ujian. Berjuang melawan segala rasa yang muncul lebih agung daripada keberhasilan. Setiap target yang kita capai di dunia, hanyalah ujian tahap berikutnya. Maka, di siang ini bertemu dengan adikadik guna berbagi dan mengingatkan dalam kebaikan adalah rindu dan ketetapan yang telah tertulis. Siang ini kami berbagi perihal sabar. Bagaimana menyikapi hal dengan bijak tanpa  tergesa terlebih kaum hawa yang terkadang tak logis dalam mengambil keputusan akibat terlalu terbawa kekhawatiran (hehehe, emang gua apa coba?)
 
Mencoba memahami kekuatan dan kesabaran untuk bertahan. Tentang menunjukkan hati pada ketentuan, teguh, dan yakin akan segala sebab akibat. Lingkaran tadi lebih menyerupai sebuah persegi panjang dibanding kata 'lingkaran'. Namun, tak mengurangi semangat untuk tetap belajar menerima.
 
''Itu ujian kita, kak. Sesuai kadar keimanan yang kita miliki. Jika di sayangNya, akan diberiNya cobaan, jika tidak maka dia  abai. Jika kita marah padaNya akan ketetapan maka suatu waktu DIA akan marah. Begitu kan, kak? HR. Tirmidzi kalau gak salah?"
 
Kami berbagi senyum. Anakanak itu semakin beranjak siap untuk 'menjadi'. Tidak semua, tetapi mereka telah berusaha sesuai kemampuan. Dan, benar itulah ujian tiap diri yang berusaha agar tetap hadir atau mangkir dengan alasan yang ada. Tiap tiap kita miliki pilihan. Well, ketika memilih... genggam pilihan itu dan jadikan sebuah kewajiban. Jangan berusaha menjauh, tetaplah mendekat.
 
*** 
 
Nampaknya hujan kamis ini dan kamis sebelumnya hanyalah peristiwa alam yang tetap harus disyukuri dan nikmati. Menyesapi sedikit aroma hujan dan menggenggam satu satu rintik lalu menangkupnya dalam takupan tangan adalah hal menyenangkan (bagi sebagian orang termasuk aku). Tidak perlu tergesa dalam melakukan hal. Seperti hujan, turun ke bumi sesuai siklus serta kemudian berdamai lalu mencipta pelangi.
 
Tiap memori yang terselip selagi hujan bertandang di bumi adalah satu bagian lain yang tak mungkin terpisah.
 
Waktu menunjuk pukul 14.30... pertemuan ini segera berakhir. Pekan depan, di hari dan waktu yang sama kami akan bertemu lagi dan mungkin dengan waktu yang lebih lama. Semoga kita tetap menjadi hujan yang menyejukkan. Yang dirindukan di tengah jiwa gersang. Yang memberi kebermanfaatan untuk mengairi sekitar.
 
allahumma shayyiban nafii'an.
 
*** 
 
hujan
:
aroma
pelangi
baris air
kenangan, dan
mecintaimu seperti hujan
(kadang deras juga sebaliknya
bahkan kadang aku tidak mengingatmu lagi
untuk sekian lama
hingga kau hadir;
mengubah segalanya)
 
*** 
 
 
diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 20-22 april 2017 | - 8:22 am 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a