tanpa jeda

Setelah dzuhur tadi kita sempat mangkir dari janji yang telah kita sepakati; ashar ini aku bertolak menujumu. Menemu ketidak pastian yang kita ciptakan. Mendung sempat datang tadi, dibarengi sedikit rintik tetapi itu tidak berlangsung lama. Setelahnya, mentari benar datang dan berkali lebih terik dari tadi. Berkali lebih cerah. Aku bahkan perlu menutup sebagian wajahku; menyisakan pelipis dan sepasang mata yang selalu enggan menatapmu.

Maka, ashar ini aku bergegas. Di tempat biasa, aku menunggu. Kali ini, aku tidak mendapat tempat nyaman seperti biasa. Bahkan untuk duduk, aku harus memilih tempat yang ekstra ekstrim. Baiklah. Ini kali tanpa hamparan laut. Tanpa awan juga langit. Dan, tentu tanpa kamu. Aku tahu kamu tak akan datang.

***

Jubelan kabel listrik bermuatan siap menghantar daya. Aku tidak memikirkan banyak hal selain ingin menceritakan banyak hal selama 2 hari ini. Aku suka saat kamu berkata, "tak usah memikirkan apa yang belum berguna. Tak usah memikirkan orang lain, belum tentu mereka memikirkanmu. Tak usah. Tak usah. Dan, tak usah. Kamu cukup menjaga kedua mata, telinga, dan indera lain milikmu agar melakukan tugasnya dengan baik."

Aku suka, ketika dengan tibatiba kamu serupa Shinichi Kudo. Di saat yang tepat kamu datang. Membawa obat penenang tanpa resep dokter dan menungguku hingga lelap. Begitu banyak saran yang tercatat dalam plannerku; tentangmu.

Aku suka, melihat kamu bergaya dengan sederhana bersama para ibu dan anakanak manis. Idealismu tak kau jadikan patokan untuk membatasi diri. Kamu baik dengan gayamu. Syal biru yang terlilit membuatmu (tentu) menjadi lebih cool.

Aku suka, ketika jemarimu mulai sibuk mengotak atik perabotan dapur. Aku tahu, sedikit lagi dapur akan mengepulkan asap dan kau akan menyajikan sesuatu yang lezat. Bahkan jika hal itu gagal, kau tetap menyajikannya dengan harapan kami merasa apa itu. Benar. Kami tak membiarkannya begitu saja. Setelah melihat sebentar, kami rasa kami akan menghabisinya.

Aku suka, saat kelima jemarimu membakarkan obat nyamuk bagi kami. Mengipasi kami yang diserang pasukan nyamuk. Menjaga kami yang terjaga di tiap malam. Menyuapi kami yang rewel di pagi hari. Mengeramasi rambut kami yang tergerai panjang. Mencubit sedikit bagian tubuh kami yang mulai mengeras perlahan. Menjemput serta mengantar ke sekolah juga menyiapkan bekal.

Aku suka melihatmu berpakaian panjang dengan jilbabmu. Aku suka saat kau bersama rombongan ibu mengetuk rebanarebana masjid. Menyediakan menu berbuka. Juga, mengamat keliahaian tanganmu saat menggenggam pisau dapur juga perkakas lainnya.

Aku suka menatapmu diamdiam. Bahkan hingga salah memanggil orang yang serupa denganmu. Ah... betapa lucunya aku.

Aku diamdiam mencoret foto yang kau potret puluhan tahun silam. Aku kira itu akan menjadi lebih baik dengan spidol yang bermata tipis. Namun, aku salah. Gambar itu menjadi semakin abstrak. Berubah. Absurd. Kamu sudah melihatnya, kan?

Aku diamdiam membohongimu. Tidak memberitahumu banyak hal yang aku ketahui. Bukankah sifat ini aku ambil juga secara diamdiam darimu atau kau yang memberikannya diamdiam padaku? Aku melakukan semuanya dengan diam.

Aku pernah membuatmu kesal. Sering. Tetapi kau tidak pernah marah untuk jangka waktu yang lama. Aku tidak tahu bagaimana rasanya itu, tetapi dari situ aku belajar untuk tidak menjadi pribadi pendendam. Aku belajar darimu bagaimana cara memaafkan dan marah dalam diam.

Aku pernah membencimu.

Aku tidak tahu kalau ternyata ada hal yang hingga kini samasama tak pernah kita ceritakan bersama. Sementara waktu kita semakin habis. Aku tidak tahu, tentu aku memang tak pandai mencurahkan hal yang kurasa secara langsung. Aku hanya dapat tersenyum dan berkata semua baikbaik saja.

Aku semakin tidak ingin kehilangan. Kehilangan kamu. Aku tidak merasa semua baikbaik saja sampai aku kembali bertemu kamu. Aku harus bertahan sampai saat itu tiba. Kamu obat penawar yang baik. Adalah segalanya.

Aku, kini menatap banyak lahan kosong. Mencoba memetakan tiap lahan dan mengisinya dengan impian. Aku tidak tahu apa ini akan terealisasi atau tidak. Aku tidak mengerti bagaimana cara berekspresi.

Yang aku tahu, aku mencintaimu.

***

Kedewasaan kamu, membuat aku percaya: aku harus mempertahankan kebersamaan ini. Sejauh apapun jarak memisahkan kita. Kita akan tetap bersama. Aku harus bertahan.

Aku tidak ingin menyimpan harapan. Menyimpan perasaan. Aku hanya akan menjaga hati hingga sang pemilik kembali. Biarkan kita seperti ini, sampai kita tahu apa yang benar untuk kita lakukan. Biarkan kita saling tak menahu untuk hal yang tak pernah kita beritahu untuk sesama kita.

Aku benarbenar menunggu saat itu tsnpa banyak berharap. Lalu memelukmu tanpa jeda. Setelah itu, aku akan berpura lupa pada kesibukanku yang membikin kita akan pisah (lagi).

***

Sampai jumpa. See you soon.
***

diah a. said - seorang pembelajar
Kendari, 24 April 2017 | 15:43 pm



Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a