sepanjang pagi hingga malam

Ada bunga yang membawa cerita di tiap pagi. Perihal aroma, embun, angin, dan kumbang; juga pasang mata yang menatap untuk melanjutkan perjuangan bersama. Pagi dan seabrek rutinitas. Pagi dengan sigap mengambil jiwa agar tak bermalas-malasan. Bukan hanya kita yang menciptakan agenda, Pagi pun have his plan. Bagaimana kemudian kita bertemu dengan orang baru atau lama juga berpisah baik dalam jangka waktu yang lama atau secepat mungkin.

Pagi kemudian mengawal setiap waktu. Menjejal seluruh rutinitas hingga malam beranjak dan kita siap untuk kembali berbagi cerita  bersama bintang yang mengetuk loteng. Bulan yang cahayanya pantul sebagian di jendela kamar. Semua telah siap.

Kemudian, dia duduk bersila. Sesekali mengganti posisi. Menaruh dengkul di stas dagu. Merapatkan kedua lutut juga menselonjorkan kaki. Mencoba untuk dapat senyaman mungkin. Menyerahkan catatan harian pada langit. Tanpa tinta juga hanya. Hanya cerita yang lancar meluncur dari kedua bibir. Kadang berhenti; menarik napas atau mengingat yang terlupa.

Sepenuh hati, mencoba yang terbaik. Menjadi yang sekarang, yang baru di tiap harinya. Dia tidak paham bagaimana memahami orang. Namun dia mencoba memahami. Mencoba dan mencoba.

Aku percaya padanya. Aku yakin pada apa yang digenggamnya. Pagi itu, aku melihat dia menggenggam setangkai bunga. Hari ini bunga yang segar. Rupanya dia telah mengganti binga layu kemarin. Tetapi matanya redup, kakinya melangkah letih. Dia mungkin belum melepas kata; dia gagal lagi menerjemah hati. Sepanjang hari ini hujan tidak datang. Bunga di pekarangan tetap mewangi penuh warna. Dia duduk di pojok membawa sebuah buku lusuh berwarna hijau. Jauh di depannya, puncak kepastian melambai.

Di pojok, kawanan rumbia menaunginya dari makian matahari. Sehampar kata mengelebat lalu kabut di matanya. Aku kadang membersamai kesehariannya. Dia masih gagap merangkai kata untuk diucap. Dan, 30 menit berlalu; dia masih menunduk. Menatap wajah ponsel yang mungkin seumpama cermin. Dia hanya menatap wajahnya sendiri.

***

Rasanya hatiku yang berdebar melihatnya menggenggam bunga yang berbeda pagi ini. Dia datang tanpa senyum lebar. Namun matanya menampakkan senyum itu. Aku tidak mengingat detail tetapi dia telah berusaha menjadi yang terbaik.

Ada perasaan yang menusuk. Benar, itu bukan mawar terlebih anggrek apalagi Rafflesia Arnoldi. Itu hanya bunga yang mekar tepat terkena sinar matahari di pukul sembilan setelah itu akan kembali menguncup. Dia tak membiasakan memberi hal seromantis itu. Dia bukan pemain drama handal; maka kuakui aksinya pagi itu.

Aku tahu dia tulus. Nafasnya tentu lebih terbirit dibanding denyut jantung. Tangannya yang tak menggenggam apapun nampak bergoyang berusaha mencari genggaman. Maka, aku ingin datang menggamit tetapi tak bisa.

Pulanglah. Pulang.
Mendengarmu kabarmu baik saja sudah cukup.
Kamu temanku. Kita masih berteman, bukan?

Maka, esok aku akan datang (lagi). Mengambil bunga yang kau petik di pekarangan depan rumah. Aku janji, tidak membawa hati yang sayu. Aku akan kembali dengan hati yang berbunga. Hatiku seakan pekarangan. Aku menanam serta merawatnya dengan baik. Aku tidak membiarkan penguntit mengusili sedikit pun.

Betapa sukarnya menyusun ranting agar kembang mekar dengan elok. Olehnya, aku melafadzkan namamu. Bukan sebagai nama. Bukan sebagai doa. Tetapi bunga itu untukmu. Satu waktu, jika bibitnya semakin sukar tumbuh aku akan mengganti dengan tanaman lain. Kemarin, usai beranjak dari pertemuan lain, aku menemu satu. Terlihat merona.

Aku segera sadar. Tiada lagi yang membantumu menyiram tanaman. Itulah mengapa kau mengikat seikat kembang tiap paginya untuk kau bagi agar bunga yang mekar itu tak layu dipekaranganmu. Aku lupa kau penyuka kebahagiaan. Kau tak menyukai da yang muram. Maka, aku menyuka matamu. Kau baik dalam hal itu.

Nampaknya, aku terlihat berkhayal. Tetapi tidak. Sudut mataku sembab. Menggenangkan kenangan.

***

Keduanya penyuka bunga. Penyuka kesederhanaan dan simple person. Keduanya memadukan karakter dengan apik bahkan dengan kesamaannya, mereka menjadi kesatuan yang pas.

Kalian tahu, bungabunga yang mekar di tiap paginya adalah cinta yang merekah sejak semalam. Dimana bunga tidur hingga adzan subuh berkumandang, keduanya sibuk mengeja taman. Hingga bungabunga itu menyapa keduanya dengan berusaha untuk tumbuh dengan baik. Para bunga berusaha menjaga warna agar tetap merona. Mempertahankan bebauan agar didekati kumbang juga mengikhlaskan satu tangkai dari mereka terambil untuknya. Untuknya.

Mereka saling memberi.

Malam akan segera datang. Dan, mereka akan kembali saling menerka. Mencoba menebak nama yang tertulis. Mereka tak saling mengenal. Mereka mencoba menjadi teman yang kekal.

Maka, di sepertiga malam saat bungabunga tertidur... dengan diam mereka merawat dengan penuh kehati-hatian. Hhh... Betapa. Inilah kehidupan yang penuh rencana. Lima Puluh Ribu tahun lalu, hati yang tersembunyi telah saling mengenal tetapi tak memberi tahu.

Separuhnya nafasnya tak tergesa. Separuhnya tergesa. Dia memohon. Satu nama. Untuk itu, bersama bunga yang mekar di taman tiap paginya dia menanti. Dia dan dia; saling bertukar kabar lewat penduduk langit. Menitipi rindu dengan gelisah. Kadang mereka goyah. Itulah daya. Bertahan dengan kemampuan adalah pertahanan atas sebuah aqad.

Kelak, tak hanya bunga mereka yang berkawan tetapi mereka pun. Karena sehati. Menepiskan hal yang rumit menjadi ujian untuk menjadi satu.

***

Bunga yang kulihat siang tadi telah layu daunnya. Aku gagal memberi penyegar dan menyimpannya dalam wadah agar tetap terjaga. Semoga dia baik baik saja.

***

diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 28.4.2017 | 14.46 pm





Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a