Let It Go (3)

Sepuluh mata yang terbenam di ufuk barat adalah waktu yang kucinta dipenghujung waktu. Sepuluh nafas yang terdesah di ujung resah adalah rindu yang kutanam dalam. Sepuluh peluh yang meluap di akhir kata adalah pertahanan terakhir. Sepuluh tambah dua fonem yang terucap adalah a-k-u s-a-y-a-ng k-a-m-u

...........................................CUKUP...........................................

Wajah november mengembara ini kali. Cari air. Cari darah. Cari kata. Cari curi cara. Segala menjadi halal. Adakah kewajiban mencinta dengan menyederhanakan suatu hal?

Pagi tadi, orangorang berkerumun di suatu ruang; ceritakan kamu, dia, dan kami (tentu). Saya tidak terlalu paham tentang dimensi ruang yang mereka cakapkan. Terkadang saya mengangguk setuju jika sepaham. Menggelengkan kepala tanda kekonyolan. Senyum tipis menertawakan atau diam tanpa kata menjadi pemerhati + peninjau terbaik. Mungkin ini efek dari tidak nyenyaknya tidur semalam. Bukan tentang rindu tapi ini tentang masa depan(g) yang tengah dipertaruhkan di antara eksistensi about all. Saya tidak dapat menyembunyikan segala suatu dalam mimik polos. Kekanakkan. Saya hanya akan melenggang keluar. Setengah berlari, berjalan langkah cepat, dan menunduk lalu memandang sekitar. Hal sama terjadi berulang kali tidak ada lagi yang namanya ragu. Semua lumrah terjadi. Semua akan tetas sepeti telurtelur cicak di dinding rumah yang mulai keropos.

"Hei, kau terlalu sempit berpikir!"

Segala mendengar. Ini bukan kebodohan tapi ketelodoran. Menjadikan suatu  yang pantas menjadi tidak pantas dan melupakan hal baik demi setetes peluh tak ber-nas. Kita menyebutnya sia-sia. Kamu, ya, bahkan mengenalnya dengan istilah 'gila'. Is it right?

Mulanya, kita bicara perihal masa depan. Saya adalah masa depan dan dia adalah masa lalu (yang selalu menguntit). Kita tidak mengenal di masa sebelumnya (ingat, tidak sekalipun) sampai kita bertemu di suatu ruang dimana kita terpaksa harus saling mengenal, mengingat, menyebut, dan menghubungi satu dan lainnya. Menjadi sebal saat apa yang menjadi prioritas menjadi hal sunnah.

"Hei, kau bilang sunnah?"
 "Tidak. Sedikit terpleset, maksudku biasabiasa saja."

Saya harus bosan mendengar dongeng seputar tuan putri yang bangun dari tidur panjang setelah dicium pangeran. Dunia nyata tidak seperti itu. Kita bangun pagi lalu angin entah berhawa positif atau negatif datang menghardik. Lalu dunia dalam sekejap menjadi begitu sempit. Refleks kita (baca: saya) menarik selimut hangat, atau dengan malasnya bangun membikin secangkir susu (saya tidak begitu menyukai teh) dan menghangatkan tangan saya (semuat-muatnya)mengelilingi cangkir. Jadi mengasyikkan saat cerita lalu yang baik datang. Dan tidak, matahari mulai terbenam. Ini malam ke delapan menjelang kepergiannya, dan sepuluh hingga sebelas hari ke depan saya masih akan menulis matahari tersebut.

Hanya ingin mengatakan, sepuluh - sebelas hari dari matahari yang akan kita lewati, saya mencoba untuk m-e-n-c-i-n-t-a-i-m-u; seperti dia yang sedia lantunkan doa untukmu; seperti dia yang setia dampingimu; seperti dia saya nantinya.

Ya, seperti itu (saja).*Silah menebak
.
.
.
.
Dy. Kendari, 8.11.2015 @8:09pm

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a