apakah aku punya bapak?
Biar
kuberitahu sedikit tentangnya: Tentang BAPAK.
Saya selalu (merasa) memiliki(nya).
Tidak banyak kenangan yang ada tetapi cukup untuk membuat waktu menoleh ke
belakang.
Delapan tahun bukanlah waktu yang
baik untuk mengatakan bahwa kesempatan benar-benar telah merenggut kebersamaan
yang seharusnya menjadi hak paten pribadi. Terkadang saya berpikir sejenak dan
memutuskan suatu keputusan entah bijak atau tidak: Apakah saya punya ayah? Apa
yang membuktikannya? Apakah saya punya ibu? Apa yang membuktikannya?
Desember yang basah: bau hujan,
belahan aspal, hingga durian yang menusuk indera penciuman. Desember
benar-benar arogan, tetapi cukup diselipkannya satu momen spesial untuk para
wanita. HARI IBU. Ribuan (orang yang dapat saya jangkau baik nyata pun maya)
menghambur kata “happy mother’s day” dengan dibubuhi intrik lainnya. Selalu
seperti itu, tidak pernah berubah. Mengapa? Tiap tahun, ada hari dimana tanggal
dan waktu tersebut menjadi teramat spesial padahal tidaklah seperti itu adanya.
Jika kita mengungkap kata, “happy mother’s day” dan aku sayang ibu pada 22
Desember, maka 364 hari lainnya tidak cukupkah untuk mengucapnya dan kita
menyempatkan diri hingga membutuhkan satu hari sebagai selipan? Come on, ini
memperingati atau merayakan?
Back to topic: Apakah aku punya
ayah? Sejak kecil, saya selepas mengganti pakaian seragam te-ka, maka saya
akan berlari menuju kantor ayah. Siapa ayah? Dialah lelaki pertama yang
kukenal; yang pertama mengumandangkan iqamat dan adzan di telinga saya; yang
pertama namanya kusebut pasca dapat berucap; yang pertama kutahu namanya; yang
pertama ada di hati; dan yang selalu teringat (he’s never die). Saya (kecilnya)
sulit lepas dari lelaki yang kupanggil ayah (jika tengah manja) dan bapak
(dalam keadaan normal--tetapi lelaki itu menginginkan kami memanggilnya dengan
sebutan ayah--pen). Ada masa dimana saya tidak dengan fasih dapat mengucap
namanya dan saat dimana saya teramat fasih mengucap serta memanggilnya--bapak.
Endapan kenangan itulah yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini ditambah
membludaknya status selamet hari ibu.
Saya berbakat menjadi penguntit
(pengawal khusus bapak). Si kecil dengan sikap sok pintar karena berhasil
mendengarkan torehan prestasi yang dimiliki sejak balita membikin saya semakin
‘buandel’. Pulang sekolah saya akan bergegas berganti pakaian, mencarinya, dan
bila tidak ada saya akan bertanya pada ibu--saya memanggilnya mamah--tentang
keberadaan lelaki itu. ‘Di kantor!” Wih, kaki kecil ini segera berlari. Jarak
antara kantor bapak dan rumah tidak begitu jauh + lari maka jarak tempuh tak
sampai 5 menit. Lari, guys... Hal itu berlangsung hingga saya menginjak kelas
lima es-de. Saat akan naik ke kelas 6, bapak pindah ke rumah dinas yang
letaknya cukup jauh dari kantor pun sekolah kami sehingga saya tidak lagi dapat
menguntitnya seratus persen. Seperti koin, inilah sisi kebaikan yang saya punya
dari hasil menguntit: (1) saya miliki banyak teman; baik itu teman kantor
bapak, para eks, anak teman bapak, pun pedagang yang biasa hilir mudik di depan
kantor, (2) tas saya selalu penuh cemilan :D mulai gula-gula, ciki-ciki (snack)
hingga minuman dan tentu, lembaran penyambung hidup (hehehe), dan (3) waktu
untuk bebas bermain di luar rumah lebih buanyak...
Apakah waktu dan bukti itu tak
terdokumentasikan? Hm... Sejak usia 4 tahun dimana saya telah dapat membaca,
berhitung, berbicara-mengomentari + menjadi penerjemah bahasa latin (R.R.A.S)
terlebih memanjat segala (hyper-aktive) dengan teramat baik, saya lebih mendedikasikan terhadap ruang
tamu nan luas yang bapak bangun. Lelaki itu, dia tidak pandai dalam arsitektur
ruang (jelas, dia bukan lulusan strata arsitek) tetapi alamiah bakat membangun
sepertinya memang dijiwai para lelaki (is’t right?). Di tiap kamar dan ruang
(terlebih ruang tamu) menjadi perpustakaan. Dengan berisi buku-buku multi tema,
saya jika siang berada di luar bermain hingga adzan ashar baru pulang dan
adzhar maghrib kembali bersemedi. Kemana saya saat ba’da ashar? Mandi, makan,
belajar, nonton. Gak tidur siang? Tidak ada dalam kamus dan schedule,
terkecuali jika mamah dan bapak mulai berkeliling mencari duo putrinya, maka
dengan berat langkah kami harus benar-benar dituntun untuk mencapai kasur empuk
di astana.
7653 hari... Apakah aku punya ayah? Iya. Jujur, saya takut kehilangan dia. Teringat statue salah satu pegiat
maya, baiknya di hari ibu panjatkanlah doa agar ibumu dan ibunya dapat bersatu,
berbesan. Oalah, pun bapak seperti itu. Lalu di 7653 hari yang kumiliki apa
yang telah saya beri untuk mereka? Pelaksanaan shalat 5 waktu, memakai hijab,
serta berilmu. Apakah telah cukup? Apakah saya akan seperti ini jika tidak ada
bapak? Saya tidak bisa menjawabnya. Hanya bersyukur, setidaknya setetes mani
itu berlarian, bertarung ke sel telur untuk dibuahi. Apakah setetes mani itu
saya?
Kenangan ini akan saya pertahankan.
Belum ada kesiapan dari saya pribadi untuk melepas sesuatu terlepas dari
pembahasan keseharian teman-teman mengenai para bunga yang mekar di taman
kumbang.
Apakah bapak selalu memikirkanku? Mungkin, saya selalu ada dalam pikirannya (ingatan). Dia mendekati senja untuk
mengurai kembali benang yang telah lama kusut bahkan kepulanganku kemarin tidak
membuahkan jawaban. Bukankah pulang adalah jalan terbaik dan dengan pulang maka
kita akan menemukan muara dimana rindu bersemayam? DAN, saya lagilagi gagal
untuk menyatukan hati. Saya tidak pernah menjalin cinta demikian intens dengan
bapak pun mamah. Saya tumbuh bersama buku dan kenangan. Kepedihan yang baru
kumengerti tahun demi tahun di masa dewasa, bahwa bahasa cinta, bukan hanya
terdiri dari bicara. Tulisan, pemikiran, jejak peninggalan, gerakan tubuh;
bagian dari komunikasi yang tak terjabarkan panca indera.
Love without passion and commitment
is
impossible (dy)
*Selamat hari Ayah. Tanpa lelaki
bernama ayah, dunia tidak akan pernah melahirkan pahlawan.
dy. a. said
Kendari, 23 Desember 2015 | 9.01 pm wita
Komentar