That's the Way

"Masa usia jangan disiakan
sebab ia tak 'kan kembali. ..."

    Itulah kalimat yang sempat teringat. Kumpulan kata yang terus menjadi bayangku. Entah mengapa, entah siapa. Dalam senandung langkah, semua terurai begitu saja. Sekikis duka ditambah sepercik suka, ada harapan dalam pengorbanan, so simple. 

    Di berbagai kesempatan, satu dua kerikil menyempatkan mampir. Si sandal jepit tidak pernah sekalipun terdengar ber-ah-ih-uh. Hidup mungkin seperti itu, tidak selalu susah dan sesusah serta semudah yang kita bayangkan.
   Beberapa kawan asal nyeletuk, "Kamu kok betah di situ? Perasaan gak ada perubahan. Netap deh!" Bersama angin, tanya itu telak terjawab, "Damai!" Namun, ada alasan lain. Kembali pada teori sandal jepit tadi, mau sandal jepit kelas maribu, sapuluh ribu, duapuluh ribu, hingga tusan ribu tak mempengaruhi fungsi sandal tersebut sebagai penjajah tanah, pemijak rasa, dan penadah rasa. Tingkat kasta penghasil kesejahteraan penjual tidak akan sekalipun mempengaruhi kedudukan sandal yg terus di bawah, se-elegan apapun itu.

   Jika dicermati, kehidupan seperti itu, kiranya. Seorang tidak akan selalu di atas. Ada kalanya bergeser, berpindah tempat. Ada yang stabil bahkan bertahan berapa lama di tempat yang sama namun ada yang hanya beberapa waktu saja. Ada jangka waktu/periode yang telah di tetapkan. Tak bisa pula dielakkan. Menunggu.

Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.

    Ukirlah torehan-torehan yang telah di gariskan sejak memulai berlari. Teruslah berbuat pencapaian, jangan berhenti di tengah jalan. Jadilah sandal jepit yang tak pernah mengikuti langkah, alur yang telah ditetapkan. Jadilah seorang yang tak mudah putus asa walau kerikil dan batu berjatuhan, bergelinding menindih. Yakinlah, janji-Nya adalah pasti.

   Berjuanglah... Waktu bisa menjadi pedang kapan saja. Selama matahari bersinar, selama semangat itu masih ada teruslah berkarya. Sepasang sandal jepit tak pernah meninggalkan tuannya. Itulah kita, sami'na wa'atha'na.

    Berbagi semangat untuk semangatkan diri sendiri dan ayo berdakwah untuk mengingatkan diri sendiri. Berharap ada manfaat dalam diri sehingga mampu membagikan kepada orang lain.

“Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)

 ________________________
 Hai, pemuda, semangat mendaki gunung impian. Aku, menunggumu di atas sana. See you! :)


dy. Kendari, 24 November 2015 | 8:20 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a