Let It Go (2)

Meja itu dipenuhi tawa...

Aku bisa menebak, pada akhirnya cerita ini sampai padamu. Cerita tentang segala hal yang kita pertentangkan selagi logis dan rasa tak satu. Aku bisa meramu, pada waktu yang jemu lihat tingkah kekanakkan dua, tiga, empat,..., sepuluh jiwa yang tandas dilindas masa. Seperti itukah? Tidak. Maaf, aku terlalu hiperbola.

Lupakan aku, kembali pada saya:
...
   Dia tidak ada. Pun di rumah, ladang, dan setapak sepanjang desa ibu dan bapak. Saya sudah berasa tidak memaksa diri berpikir keras untuk menyusulnya tapi kegugupannya buat hampir seluruh orang sekitar tambah resah.

   April 2014; Saya akhirnya pulang membawa rindu yang menumpuk dalam almari. Separuh telah luruh dalam perjalanan. Kutandaskan dikaram kapal yang kulewati. Sisanya  masingmasing berdiam di beberapa tempat yang tidak kuketahui. Lelaki itu (lagi) menjemputku. Saya tidak perlu menunggu banyaknya orang yang lalu lalang. Begitu kapal sandar di dermaga, dengan kokoh langkahnya tegap bersigap menuju kabin (hanya ada satu kabin) tempatku rebah berapa jam terakhir. Tangannya masih kokoh, pundaknya, hanya saja remahremah mulai bermunculan hiasi hitam kepala. Masih seperti dahulu, tidak banyak perubahan. Sebenarnya ketidak-dekatan itu memicu sebuah keinginan untuk bertemu lebih dari sekedar ngobrol biasa. Saya tidak ingin menghabiskan waktu  yang begitu singkat ini untuk sekedar ngalor ngidul dan menatap wajah senja yang begitu lama ingin kutanggal sejenak.

   Tidak ada hal khusus. Perjalanan itu dengan sisa tenaga dan kenangan menjadi solusi mutakhir mengemban misi khusus. Bukan suatu yang mudah untuk merancangnya. Pertemuan singkat. Hingga kini, saat cerita ini benarbenar tak ubahnya fiksi saya masih merasakan rindu itu. Tak pernah tuntas. Tidak ada yang mencoba menuntaskannya. Tidak ada yang ingin mengalah.

   Saya mungkin mengambil ego miliknya. Tertanam dalam diriku. Kini, menjadi lebih baik, lebih dapat saya kendalikan. Ya, memang tidak lagi seperti dulu tapi cukup daripada saya harus berbaring gelisah berteman kucuran keringat kekanakkan.

   Dua pekan itu, tak lebih bahkan kurang dari dua pekan. Tulisan ini menjadi tidak begitu terstruktur. Saya keliru. Bahkan benarbenar keliru. Nilai sejarah yang selama ini kubanggakan (standar) karena tidak begitu menyukai mata pelajaran sejarah sedari sekolah menengah pertama buat saya menjadi buta. Setahun terakhir saya lebih banyak merenung. Padahal di hari-hari sebelumnya, saya memang suka merenung. Tidak ada yang dapat mengetahui tabiatku secara pasti terkecuali jika dia adalah seorang yang memiliki keterampilan membaca pikiran de el el.

   Saat saya bangun dan bergegas pergi, dia  tidak ada lagi. Pun di rumah, ladang, dan setapak sepanjang desa ibu pun bapak. Sendiri menatap pepohonan coklat di depan, sendiri menatap gamang langit, sendiri  menahan gigil, sendiri tawakan  kenangan, sendiri rasa pedih, dan sendiri menerawang masa lalu yang tak kuketahui. Saya hanya mendengarnya melalui cerita.

   Oh ya, beberapa (hanya dua orang sebenarnya) kawan menyebutku M-EL-A-N-K-O-L-I-S benarkah? Saya terkadang menganggap hal itu adalah sebuah kekonyolan. Entahlah. Masing-masing diri  bebas ber-ekspresi.  Saya  bahkantidak dapat melihat ke-melankolis-an itu berkembang dari karakter seorang bocah seperti saya. Saya kecil berbeda dengan saya di tahun setelahnya dan setelahnya. Tidak ada kesamaan. Ada sosok yang hilang begitu saja. Begitu saya panggil maka dia pergi, lembut. Begitu kutatap, dia tersenyum lantas kudekati bayangnya memutih. Apa yang dia lakukan?

   Terakhir, masih ada maaf yang keras menggertak dalam bibirnya yang tipis. Mata itu mulai mengabut. Saya; Apa lagi? Kabut itu... Tulisan ini menjadi semakin abstrak.

MAAF. egois memang tetapi manusia selain MAAF dan TERIMAKASIH apalagi yang dapat diperbuatnya? 

...
Dia tidak benarbenar berusaha mengabaikanku. Dengan gemetar, gengsi itu terkoyak dan berganti pinakkan rindu yang tetas di pipi. Semakin sulit.

...
.
.

.
Dy. Kendari, 29 Oktober 2015 _ 7:26WITA
   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a