RINDU ITU CINTAKAH?
Saya pernah membaca sebuah kalimat (entah dibuku, google, atau mana--lupa--) bahwasanya, dalam sebuah hubungan tak perlu saja cinta atau tok sayang melainkan ada pembukusnya. Nah, loh? Yang dimaksud ternyata adalah IMAN. Waduh, kok ada iman? Nyangkutnya dimana? Pikiran pendek saya mulai mendominasi otak yang gaduh.
Dalam kehidupan, IMAN memiliki peran besar. Tidak hanya sekadar pengisi kewajiban aja seperti yang dipelajari dari teka, esde, hingga esema kalau iman itu ada enam. Iman kepada (1)... (2)...,...hingga (6) melainkan keenam itu dipahami hingga lahirlah wujud konkretnya. Bahasa guru sih, biar teori gak sekadar teori, yuk praktik!
C I N T A pada dasarnya adalah fitrah Ilahiah kepada seluruh makhluk. Makhluk hidup. Setidaknya, kita adalah sesama makhluk. Jika bukan makhluk maka kita adalah ciptaan. Jika kita bukan ciptaan maka kita bukanlah siapa-siapa. Jika kita bukan siapasiapa, lantas siapa kita sebenarnya? Tiap memiliki muasal yang terkadang tak dapat dicerna oleh logika. Lupakan sejenak tentang cinta yang membikin para pelaku mabuk, saking dahsyatnya arti dari cinta yang mampu menyatukan hormon si pemanah dan pemegang kaca. Dua makhluk berbeda jenis jatuh, terperangkap karena perbedaan dalam satu rasa bernama cinta mampu buat diri yang terkena maupun yang berada di sekeliling korban seakan tengah berada di antara jurang kehidupan. Mengapa? Nah, di sini menariknya. Jangan tanya kapan terakhir kali saya jatuh dan cinta. Itu di luar konsep saya dalam penulisan ini. Tapi, tak mengapa, saya akan bahas sedikit.
Jika ditanya: Apa itu cinta?
Kewajiban.
Mengapa?
Hak.
Kapan?
Sedari dulu.
Bagaimana?
Wah, apanya? (Kuk saya balik nanya seh???)
Ya, rasanya. Gimana?
Ya, seperti itu.
Jelasnya?
Like, rujak maybe!
Suka?
Iya.
Tidak suka?
Iya, terkadang.
Siapa yang pertama?
Dia. (Hoohoho)
Kapan?
Long time ago.
Terakhir?
Like yesterday, i fall this moment.
Sure?
Yes. I mean, kiding ^^
For?
No, tidak. Tidak ada keraguan, seperti itu cinta.
The Last, dimana dia...?
Di sini. (Saya tanpa ragu akan menunjuk letak dimana organ bulat kecil tak beraturan itu berada).
It's me, about love. And you? Ingin berkomentar atau menjawab dalam hati? ap tu yu, guys.
Back to topic...
Cinta... Lima huruf. Terangkai jadi kata dengan pelbagai tafsir. Beberapa waktu terakhir, saya teringat postingan seorang teman sosmed tentang hujan dan cinta. Aih, dibubuhi rindu pula. Jadi, cinta itu merindu atau rindu itu mencinta? Dan, tepat di Desember denga penghujan yang datang membawa aroma kerinduan. Kepiluan. Saya, sebenarnya tidak ingin mem-vonis mereka yang tengah dilanda magnetmagnet merah muda (kok cinta identik dengan merah muda,ya?) dengan istilah alay, belum bisa jaga mata, hati, dan keluar dari jalur syariat tetapi, cinta ya, seperti itu. Datang dan pergi sesuka hati tanpa memerdulikan si korban.
Ada banyak hal dalam kamus cinta: mulai dari jatuh cinta hingga bangun cinta lalu jatuh cinta putus cinta hingga cinta berjenis monyet, ababil nan buta pula. Berperan sebagai pengamat (saya bukan pelaku, yah--hanya pengamat--guys), mereka yang tengah terkena syndrome falling in love pasti akan meradang dan kejang-kejang terlebih gap-tek. Seakan baru belajar teknologi, sebuah benda kecil tak kan pernah luput dari genggaman. Terlebih, bibir yang senyam-nyum tanpa lelah. Satu yang buat mereka seakan melayang; rindu. Seakan adonan, maka rindu adalah komponen yang tak dapat dipisahkan maupun dihilangkah keberadaannya demi suksesi perasaan yang tak lagi carut marut itu.
Mereka berhadap-hadapan dalam jarak sekitar satu meter. Pasangan manik mata masing-masing saling melotot, seakan bola mata yang seakan hendak keluar itu sudah tak sabar ingin berbenturan. Seakan ingin menciptakan nuansa seirama dengan pancaran bola mata, dua pasang tangan, dua pasang kaki, dua buah mulut, dua buah hidung, dua buah kepala, dua buah tubuh itu ... bergetar. Menegang. Memeras pori-pori sehingga mengucurkan butir-butir keringat, yang terus menderas sehingga mirip tangan-tangan kekar para koki yang memeras santan dan memisahkannya dari ampas. Memacu darah lebih kencang, sehingga paras-paras mereka terlihat lebih merah dari biasanya, karena pembuluh darah mendekati kulit, memenuhinya. Aku membayangkan, jika saat itu sebilah pisau digoreskan, mungkin darah akan mengucur lebih deras dari biasanya. (AFIFAH AFRA, MABAAHALAH)
Ia telah basah: Cinta, oleh rindu. Yang kita namai pujaan. Rindu itu cintakah? Yang selalu kita hadirkan bersama rasa yang basah. Terkdang, selalu sok rapuh dan lemah. Ah...! Apakah rindu semudah itu bisa dikalkulasi lantas hasilnya adalah cinta?
Sudahlah. Kuperhatikan, sepanjang hari, langit tak lagi terbata-bata mengecat warna birunya. Hanya angin terburu-buru berhembus. Wahai hati, hati-hati jangan sampai rindumu porak-poranda dak rusak binasa. Kau tahu bukan? Rindu itu mudah goyah dan mudah berpaling.
Lantas, rindu itu cintakah?
18 Desember 2015 | 10:51pm
Komentar