Pulang

Pekerjaanku adalah menangkap cahaya. Menangkupnya yang jatuh dan papa dalam jemari.
Pekerjaanku adalah menadah waktu. Mengitarinya untuk kubuai dalam catatan semu.
Pekerjaanku adalah
...
merindu.
Ya, merindu. Bukan kamu, tapi Dia.

Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri. Tiada berkawan makhluk hidup. Dia memilih duduk memojok tanpa suara. Dering ponsel pun tiada. Dia benar-benar sendiri.

Orangorang ketawa hi hi; melihatnya sendiri. Dia tetap diam. Kenyamanan menikmati desktop 29 inchi membuatnya tak bergeming. Bocah berlari, nyanyi,  dan terpelanting di depan tak disambutnya. Orangorang sibuk mengoceh bak menunggu ketel mendidih, ia masih mematung sesekali mengerjapkan mata. Terkadang menahan senyum. Orangorang lalang, pandangannya selalu awas tanpa merubah gerak tubuh. Orangorang pergi; dia masih sendiri.
Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri.

Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Duduknya kian gelisah. Kucur keringat tetes dan sangkut di tisu; kain tipis mudah sobek. Benar firasatku, dia memang ingin sendiri. Ceritanya, seharusnya di sampingnya (bangku) itu harus terisi. Entah dimana, entah mengapa si pemilik tak kunjung datang. Hingga di detik berikutnya tanya adalah jawaban musykil yang gentayangan dibenaknya. Menyimak nuansa adalah baik. Ini kali tiada lagi mencari cinta, kata Bung Chairil Anwar meskipun tukang ojek, supir bus, penjual sayur, pedagang asongan, kondektur, dan satpam setia berpakaian senada di tiap harinya; setia menadah kerja yang sama tiap waktunya; setia hatur kata yang sama tiap saat; setia laku pun sama hingga kapan.


...

"Aku tahu: Kini lebih banyak luka yang terpendam dibanding senyum yang terlukis. Seberapa banyak air mata tersirat dibanding sayang tersurat. Sekelam apa masa lalu dibanding masa depan. Sebersih apa hati untuk jiwa yang hitam. Jika mataku tak pandai sandiwara, cukup. Kuberi titah jemari usaikan cita."

"Aku tahu: Kini separuh hidup mengabdi waktu. Separuh kata menaruh harap. Setitik nelangsa merasa goyah. Sekerdil asa hempas takut."

"Aku tahu: Kita mencoba (bersama) mengarungi hidup guna menjadi petarung handal, penakluk badai handal, pecinta rasa ter-apik, dan penenun rindu tersohor. Sepandai apapun kita, sejauh apapun kita melangkah, se-tidak peduli- apapun kita terhadap apa-apa itu yakinlah Dia selalu Maha Pemurah untuk menerjamahkan cerita sebagai akibat dan sebab yang kita butuhkan. Mungkin segelas kafein semisal kopi maupun teh hangat di pagi yang dingin cukup membuat tubuh yang meringkik dingin tak lagi bersembunyi dalam selimut. Mungkin sepiring lalapan pun kasuami* tak begitu mengenyangkan untuk malam yang lapar.  Namun, selalu ada alasan untuk pulang. Pulang ke rumah. Pulang memenuhi panggilanNya. Pulang menjemput takdir. Pulang menuntaskan rindu. Pulang menata rasa. Pulang untuk peduli pada masa. Pulang untuk segalanya.

...

Kali ini dia tersenyum sebab aku telah kepadaNya. Kembali untuk menuntaskan rindu. Tetapi tidak ditahunya, rambatan puspaku masih subur menjalar. Semakin tinggi, tak teratur, berantakan, dan kini dia mungkin akan menggeleng terperdaya saat melihatnya. Sepertinya tak akan merah padam. Tak akan pula menggeram dan mengepalkan tangan. 



 
Dia: Untuknya, untukmu "yang" (selalu menjadi alasan untuk pulang)

...

Aku meramu sejenak, "Ma, telah 'ku temukan cahaya itu. ..."





------------------------------------
Kendari. Dy. 23.10.2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a