Absurd

“Hidup ini hanya sekali, maka jadikanlah yang sekali ini menjadi bermakna, tinggalkanlah jejak agar kau dikenang"
 
 
19 November 2015
... Tidak banyak yang dapat saya lakukan di tanggal istimewa ini. Saya kebanyakan merenung dan berdiam seminggu terakhir. Satu diantara sekian banyak perenungan yang saya lakukan, pertengahan November selalu menjadi aksi tangis besar-besaran untuk saya.

    Biasanya, saya akan menjadi seorang bocah riang. Sibuk celoteh ke sana ke sini, mencari kesibukan: apapun itu. But, tidak untuk pekan ini. Saya benar-benar drop dari situasi-situasi sebelumnya. Pertengahan tahun lalu, saya benar-benar terhenyak dengan aksi partner saya dalam mengemban sebuah misi. Boleh dikatakan saya down.

    Dia, mudahnya mengatakan ini dan itu sementara saya dibuat tidak mengucapkan sepatah katapun. Sembari dia sibuk berceloteh, saya fokuskan berpikir antara hati dan logika. Tidak sulit. Saya sudah biasa dan harus biasa dalam hal multitasking sehingga berikutnya yang terjadi adalah saya lupa apa yang terjadi di antara kami berdua dan teman lainnya. Cukup menyebalkan tapi tidak ada pilihan untuk mengatakan, "Ya, kamu yang tegar, ya!"

    Rumit dengan hal itu, saya beralih pada amanah lain yang lebih membutuhkan saya. Dimulai dengan sibuk di beberapa kegiatan dan organisasi ekstra lainnya. Di sini, saya melihat sisi egois yang perlahan muncul. Dia tidak menyapa sama sekali, timbul tenggelam dalam rantauan mencari jati diri. Baru sekitar awal bulan lalu saya tersadar bahwa telah banyak yang berkorban untuk hal ini. Saya ingin kembali tapi tidak bisa. Saya ingin merajut kembali tapi keahlian itu tidak lagi ada.

    Ada jiwa yang tak tenang, di sisiku, sehingga mereka bergelantungan di tempat lain saat undangan untuk melingkar itu ada. Di sini, siang menjadi malam. Separah itukah kebersamaan yang terlibas waktu?

***

    Hari demi hari berlalu. Saya mulai menambah kesibukan dengan (kembali) bersemedi di perpustakaan maupun bookstore. Saya mulai menemukan sesuatu yang hilang dan semua itu selalu saya temukan di November. 

   Pada waktu tertentu, lelaki itu datang. Membawa sekeranjang kata bijak. Saya dengan perlahan mengunyah, menelan, dan memfilter kunyahan tersebut. Mulai halus dan tubuhku semakin bersahabat. Tetapi saya kemudian menemukan keanehan lain tentang bacaan. Mengapa? Gini, saya ingin menghabiskan waktu dengan tidak memikirkan sementara pemikiran yang menghasilkan tindakan egois dengan melahap bukubuku yang sama sekali tak pernah tersentuh. Beberapa hanya saya beli tanpa berniat membuka plastiknya. Beberapa bahkan hanya tuntas 5-10 halaman.

     Sesuatu itu benar-benar hilang. Saya merindukannya. Saya tidak lagi ingin benar-benar gelisah sebab hal rindu. Saya ingin berada di dekatnya untuk berceritera. Sadar bahwa di antara kami masih ada yang tembok pemisah, saya berupaya mendekat tetapi tidak bisa. Ini bukan tentang partner dan mereka yang mulai berlarian tetapi tentang dia. Saya mulai jengah saat sepeda yang dikayuhnya tak lagi sedia temaninya mengelilingi kota. Saya mulai jengah saat apa yang saya ingin semakin terlihat absurd.

    Yang mengalir membasuh luka semakin tersiksa. Dia, di hatiku. Menjadi yang pertama, untukku. Sifat kami tidak berbeda jauh. Nampaknya, saya benar-benar mewarisi sifat keduanya. Di satu sisi menjadi seorang riang, introvert, dan teramat susah ditebak. Tidak ada yang dapat mengenaliku dengan pasti. Kebanyakan mereka sok dan beranggapan bahwa, seperti itu dia. Memangnya seperti apa?

    Waktu semakin tergelincir. Mendekat dengan antrian. Saya perlahan ingin mundur dari dunia yang membikin saya semakin asing dengan diri sendiri termasuk saya melihat bahwa mereka mulai mengasingkan diri ini dengan pelbagai alasan.

    Oke... Tak lagi ada alasan untuk berleha. Waktuku lagi sebulan dan semua akan dihitung mundur. Dimulai sekarang. Kendari, 20 Nov 2015. 7:00 am (*)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a