Sederhana, Itu Cintakah?
Bahagia itu sederhana.
Sepersekian menit rangkaian kata itu berhasil mencipta satu makna. Sore ini, saya bersemedi di dalam ruang kecil setelah lelah menjadi bolang di pagi hingga siang. Sembari duduk lepas, mata saya berjalan memakan remah tulisan yang tertera. Saya semakin mengagumi mereka yang hebat. Walaupun, di waktu itu, seorang kakak yang baik hati (versi-ku) menegaskan bahwa jangan terlalu mengagumi dan menjadi sosok alay terhadap jiwa-jiwa lainnya. Mengapa? Timbangnya, kau akan mudah jatuh dan terperosok jauh jika mengetahui sisi lainnya. Awalnya, saya ragu dan hanya mendengar serta mengambil hikmah sepertiga dari ribuan kata yang terlontar. Namun, kini saya semakin percaya, memang manusia seperti itu adanya. Ada kalanya, ketetapan hati dan kodrat Ilahiah tak dapat kita hindari. Dan saya mengalaminya. Istilah beken-nah, panas-panas tai ayam, hangat-hangat indomie... Fiuhhh
Desember ini, saat matahari tidak lagi menjadi sahabat terbaik dan bintang semakin mengabur dari pandangan ada sosok yang hilang. Tidak hanya satu melainkan dua. Aku merana, dia merasa. Huhaaa... Lagi-lagi saya (sebagai penulis) ber-alay-ria. Izinkan daku :D
Bahagia itu sederhana. Tidak rumit. Cukup. Kututup mata: Perjalanan ini menjadi tidak akan pernah berakhir. Kepulanganku, awal Juli lalu semakin menegaskan semua. Tentang masa depan, masa lalu, dan masa kini. Semua butuh dijelaskan, dimengeri, dan dipahami. Sementara saya di sini masih diam tidak berkotek sepatah kata-pun.
Bahagia itu sederhana. Seperti ayah dan ibu... Ya, seperti itu! Perbincangan singkat yang menjadi jawaban atas semua tanya.
***
Kendari, 15 Desember 2015 | 6:53am
Komentar