Dialog Hati

"Kau dan aku selamanya. Memecah kebekuan menjadi cair. Padatan air yang melunak, semoga."


     Tidak ada yang tahu kemana kaki akan melangkah, tangan akan bergerak, bibir akan melunak, dan hati bertaut. Semua masih berdiam di koridor masing-masing. Kita, kukatakan "kita" memutuskan waktu yang terjelajah entah sampai ambang mana tiada menahu kecuali kepastian akan tujuan.

a: "Kamu penulis, ya? Tulisan kamu bagus-bagus. Aku suka!"
b: "Bukan, aku bukan penulis seperti yang kau kira."
a: "Lantas? Siapa yang menulis itu di dindingmu?"
b: "Jemariku!"
a: "Nah, lo! Berarti kamu 'kan?"
b: "Bukan!"
...
a: "Maaf, bukan aku. Kamu boleh mengatakan aku pandai menulis. Kau menikmatinya tapi aku tidak. Aku merasa gagal. Gagal dalam menuliskan nama-Nya di tiap langkahku!"

*** 
     Lewat proses seperti inilah seorang bocah sepertiku berkembang. Tidak dengan menjadi seorang introvert sejati. Saya masih berkutat dan membiasakan diri memahami keadaan mereka walau hanya dengan melakukan pengamatan. Dalam menulis, kita membutuhkan pengamatan dan pengalaman. Untuk kedua hal itu, pengamatan lebih mendominasi dibanding pengalaman yang hanya menyandang status sebagai resisten.

      Menulis tidaklah sulit. Cukup dengan menuangkan apa yang kita pikirkan, tuliskan. Namun, untuk hal ini saya gagal. Benar-benar gagal. Mengapa? Sebab saya begitu pandai menuliskan perihal ini tetapi menuliskan namaNya dalam hati begitu sulit. Tidak jarang saya lupa menuliskan namanya di tiap tindak. Tidak jarang saya mulai menggeser kedudukanNya dibanding dengan kedudukan yang lain. Astaghfirullahadzim

     Alhamdulillah, kini Dia semakin dekat, saya juga lebih mendekat dalam jarak sekian mili. Saya tidak akan dan tak ingin lagi meninggalkannya. Cukuplah Dia dalam relungku yang tertulis selain dua patriot gemawanku.

      Maka, tulislah dan dekaplah Dia denganmu. Niscaya Dia akan berada dekat denganmu. Berprasangkalah yang baik padaNya. Bukankah Dia tidak pernah dan tidak benar-benar meninggalkanmu(ku)?

***
     Selamanya, dalam satu periode kehidupan nafas manusia, torehan-torehan kecil akan selalu tersortir. Baik atau buruk, layak atau tidak, dan pantaskah untuk pribadi?

e: "Tahukah kamu apa itu demonstrator?"
f: "Yang biasa di jalan 'kan? Memangnya kenapa?"
e: "Selain itu, tidak adakah yang pantas kata untuk disandangnya sebagai predikat?"
f: "Hmm... Kupikir demo. Bukannya asal kata demo?"
e: "Tidak bisakah kita meniadakan istilah demo. Mungkin kita bisa menggantinya dengan kata yang lebih bijak. Orator, Narasumber?"
f: "Terlalu. Sudahlah!"
e: "Belum, tidak sampai di sini. Apa itu demonstrator, jadi apa itu arti mereka yang suka bernyanyi, menyuarakan suara hati?"
 ...

     Kita temua pelbagai macam studi kasus tentang ini dan itu. Kita mencoba menuntaskannya dengan ide-ide brilian dan cemerlang. Kita koarkan semua menjadi saran dan ungkapan. Kita bisa, karena biasa. Lalu? Boleh diri berbangga dengan cara berbicara di depan publik yang begitu persuasif. Saya salut dengan teman-teman yang dapat melakukan semua tetapi satu tanya: Sudahkah kita membicarakan tentang-Nya di depan keramaian? Sudahkah kita kenalNya dengannya? Sudahkah kita bersua dengan di sepertiga malam? Sudahkah, ...?

    Jangan pernah melupakan: Di atas langit masih ada langit. Di atas tanah masih ada lapisan lainnya. Di atas aliran darah masih ada kulit. Di atas derita masih ada suka. Di atas sayang ada rindu. Di atas sajadah ada kening yang basah. Di atas kata ada pemikiran yang logis. Saya tidak pandai berbicara. Sedih?  IYA. Namun, apa boleh buat. Saya harus belajar lebih baik lagi. Interpretasi B saya dapatkan dan ternyata semua tidak sampai di situ. Saat saya mulai paham dengan arti hadir segala makhluk asing, saya mulai meraba kesalahan kecil bahwa Dia jarang tersebut. Bukan Dia yang mengasingkan saya melainkan saya yang mengasingkannya.

Apa kabar lisan? Masihkah setia menabuh benih kebaikan?
Apa kabar tulisan? Masihkah sedia menebar benih kebaikan?

"Jangan katakan: Silahkan tanya pada rumput yang bergoyang."



Dy. Kendari, 21 November 2015 | 11.22pm | Good Night | Wassalamwr.wb 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a