Surat untuk MITI KM



(Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away MITI KM “Aku dan MITI KM”)


***

“Sesungguhnya, kebaikan itu semuanya berada dalam keridhaan. Jika engkau mampu untuk ridha, maka lakukanlah. Namun, jika tidak mampu, maka bersabarlah.”

(Imam Abul Qasim al Qusyairi)




Di masa depan, Indonesia seyogyanya dapat berdikari dan maju, terutama di bidang pendidikan selaku the gate way mencetak generasi emas. Untuk mewujudkannya, pemilik jiwa muda harus bersatu untuk melakukan inovasi dan kreasi. Di mana sumber daya manusia terbaiklah yang bisa bertahan dan melanjutkan kegiatan bermanfaat terutama yang mendorong kemandirian bangsa.


Saya adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UHO angkatan 2013. Nama saya Diah Anindiah Said. Memiliki ketertarikan di bidang kepenulisan mengantarkan saya pada sebuah event yang kini menjadi pelengkap catatan perjalanan saya. Adalah LSIP UHO, dimana saya mengawali keberanian untuk mengenal dunia lebih jauh lagi. Sedikit banyak mengetahui beberapa hal tentang tulis menulis dan sadar bahwa saya masih sangat jauh dari kata ‘banyak tahu’ maka Dua tahun terakhir saya memutuskan untuk bergelut dengan lembaga ilmiah penalaran tersebut.


Berawal di Desember 2013, saya mengenal LSIP. Nama yang mengangkasa dengan reputasi yang luar biasa. Usia saya di kampus saat itu menginjak Lima bulan. Saat itu, berbekal rasa penasaran, saya memberanikan diri menelusuri lebih jauh lagi tentang LSIP. Butuh keberanian untuk melangkah dan menetap agar terus hidup dalam organisasi yang tentu membutuhkan bukti eksistensi sebagai kebermanfaatan di tengah gerus iklim akademik yang menuntut.


Bertepatan dengan adanya Temu MITI Wilayah Sulawesi disertai Pekan Ilmiah Nasional di Kendari, saya hadir sebagai peserta ‘salah alamat’ yang membawa pandangan tentang akan menjadi apa saya ke depannya ketika hadir di forum ini. Selama forum berlangsung, saya bertemu dengan Pak Dr. Abdul Kholiq selaku pemateri. Saat itu beliau memaparkan materi luar biasa tentang sinergitas keilmuan. Hadir juga para mahasiswa se-Indonesia yang tentu membawa aura intelek bersama solusi atas permasalahan yang diangkat dalam sebuah KTI, tak ketinggalan pemuda Sultra yang menawarkan produk pangan lokal. Apa itu MITI? Saya bahkan masih asing dengan nama tersebut dan belum berani mengambil langkah lebih jauh terhadap MITI walau terbersit sebuah kalimat ‘saya kelak akan menjadi bagian dari MITI’. 


Dicipta sebagai seorang makhluk sosial, bergerak sendiri adalah kemustahilan. Maka, untuk tumbuh dan berkembang saya harus berani untuk keluar dari zona nyaman. Saya butuh ruang dan sadar sangat perlu berada dalam lingkaran orang-orang yang memiliki passion yang sama untuk mewujudkan mimpi itu. Setelah lama mengurung pemikiran dalam ketidaktahuan juga kemalasan, saya mulai tergerak untuk kembali membuka catatan lama saat menghadiri Seminar Sociotechnopreneurship juga lembaran pendaftaran MITI KM yang sempat tersimpan tetapi tak kunjung terkirim pada tujuan. Surat cinta itu tersimpan rapi.


Saya tidak ingin mengulang hal tersebut; surat yang tak sampai seperti Kisah Zainuddin dan Hayati dalam ‘Tenggelamnya Kapan Van der Wijk’. Saya ingin melanjutkan apa yang telah saya mulai di LSIP. Setelah menunggu sekitar Dua tahun, akhir 2016 kesempatan itu datang. Banyak syarat yang tentu tidak dapat saya penuhi tetapi berbekal niat untuk berada dengan orang yang se-visi dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan juga dibarengi oleh faktor X, yakni doa dan keberuntungan saya mantap menyodorkan formulir pendaftaran anggota MITI. Semakin besar faktor X maka peluang untuk ‘menjadi’ itu ada. Saya berusaha menampilkan, memberi, dan menuliskan apa yang saya bisa.


Menjadi sebuah pertanyaan besar, apa yang akan saya lakukan ketika berada di MITI? Sebab latar belakang saya adalah pendidikan dengan berfokus pada bahasa dan sastra bukan seorang saintis, teknolog. Maka, kembali saya mencari arti. LSIP membantu saya menemukan apa yang saya cari. Ketika banyak orang menanyakan apa itu MITI, saya berharap saya telah tahu jawabannya bahkan berbagi jawaban. Ketika banyak orang bertanya sudahkah kamu gabung MITI, saya tentu berharap sudah. Kelak, ketika banyak orang kembali mempertanyakan, apa yang sudah MITI lakukan untuk daerah(mu) dan Negeri(mu), maka jawaban itu adalah SDM berjiwa KPK. Dan, ketika mahasiswa exacta berbondong-bondong menjadi bagian dari MITI untuk menjadi teknolog, apa yang harus mahasiswa sosial lakukan? Maka tugas kami adalah menjadi Ilmuwan.




“If you want to make your dreams come true, the first thing you have to do is wake up.”

(J. M. Power)



Tentu ke depannya akan banyak tantangan untuk menguji komitmen yang pernah saya ucap di awal kepengurusan. Namun, pengalaman tetap adalah guru terbaik. Belajar dari para pendahulu MITI, para tokoh yang menginspirasi, di antaranya Pak War dan Sensei Edi Syukur yang berhasil mendirikan PT. CTECH LABS EDWAR TECHNOLOGY di Negeri Matahari, Jepang.

Rakernas MITI KM 2017-2019 @MITI Center Depok


MITI bukanlah sebuah organisasi kacangan. MITI adalah sebuah perjuangan yang berupaya mewujudkan ‘Indonesia Maju dengan IPTEK’ ke ranah idealis mahasiswa dengan tata nilai KPK. MITI hadir menawarkan solusi bersama segenap pemuda yang tersebar di beberapa titik mancanegara untuk mencipta aksi nyata. Keberagaman inilah yang tentu tidak hanya menjadi proses transfer keilmuan melainkan untuk berjejaring dan berdampak juga pada belajar berbagi dalam program pengabdian masyarakat, bina desa, membangkitkan kembali eksistensi pangan lokal, serta mengajarkan untuk berusaha menyelesaikan apa yang telah di mulai.

Kini, tangan ini erat memegang tongkat estafet dan pundak ini memanggul kepercayaan sebagai pengurus MITI. Kepercayaan yang tidak begitu saja diberikan. Lima bulan berlalu, saya selalu mengulang membaca baris-baris nama yang memuat nama keseluruhan pengurus. Setiap kali saya membacanya, setiap kali saya mendapatkan kebaikan dari wejangan nutrisi dari Rumah Keluarga MITI KM X-1 Generation, pada saat itu pula pahala dan kebaikan akan mengalir deras padamu, para generasi muda yang semangatnya senantiasa membara yang kini tengah menjalankan misi sebagai agen berjiwa KPK.


Bersama MITI, hadir wajah-wajah muda; wajah yang akan terus bermetamorfosa menjadi Pak Warsito dan bapak-bapak serta ibu ilmuwan MITI yang berikutnya.



***



Ditulis oleh Diah Anindiah Said. Staf Ahli Bina Wilayah Sulawesi MITI KM



Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a