ambilkan bulan, ... .
Hai... apa kabar?
Empat buah angka di sudut kanan benda elektronik berukuran Empatbelas inchi tepat di depanku menunjukkan 10:31 pm. Tidak ada yang riuh selain tawa dan cerita para penghuni petakan yang begitu terdengar bahagia sepanjang malam dengan bulan yang tak lagi sabit. Suara motor satusatu. Jangkrik tak berucap. Nampaknya, mereka tengah kehilangan suara.
Barangkali malam ini akan ada yang terjaga. Bergandeng dengan malam menjadi sahabat malam lalu menyapa pagi dengan mata serupa panda.
Lagulagu negeri ginseng sesekali terdengar. Kantukku hilang tersergap berlusin cerita yang tak kunjung terungkap. Lain kali akan kucerita. "Tapi" malam ini tetap berbeda di banding malammalam sebelumnya.
Aku tak lagi sendiri kini. Si bontot menemani. Kami banyak bertukar cerita. Dia menyenangkan. Dia mengisi satu sisiku yang kosong. Aku? Entah mengisi sisinya yang mana.
Semakin larut. Satupersatu anak beranjak meninggalkan pelaminan. Suarasuara sumbang khas mengusik. Berusaha untuk ikhlas adalah ketetapan yang tak boleh kabur dari kenyataan. Adakalanya harapan yang berlebih mengaburkan kenyataan. Itulah hidup. Mencoba mengikhlaskan (untuk sesuatu yang lebih baik; nantinya).
Dibanding memikir hal itu, aku memilih memutar lagu gubahan Ibu Soed. Terkesan kekanakkan. Bukankah kita tetap adalah anak kecil di mata orang dewasa sekalipun kita telah berusia dewasa?
"Kupukupu yang elok... bolehkah saya terbang... mencium bungabunga yang semerbak baunya... . Bolehkah kuturut bersama pergi."
Banyak. Banyak. Banyak. Oh iya, nyaris terlupa. Bagaimana kabarmu hari ini? Baikkah atau sebaliknya? Aku lupa mengabarimu hari ini dan juga, aku membiarkan bunga di taman sengaja layu. Aku kehabisan stok air untuk menyiram juga remahan pupuk sebagai penyubur. Kamu lupa meninggalkan persediaan sedang aku sengaja menanggal kesetiaan.
Sepuluh lewat Empattiga. Terlelap adalah hal menarik seperti malammalam sebelumnya. Namun, malam ini berbeda. Lalu, hujan yang bisa menetralisir beberapa hal tak kunjung datang. Cemas yang buncah berlebih tak baik. Aku memutuskan menggerakkan jariku ke sana kemari. Memicingkan mata. Mendongakkan kepala.
Ribuan malam tergambar. Tak sepuluh hati tergambar. Sebuah peristiwa berhasil menyebut segala peristiwa. Inilah rentang yang menggiring langkah cinta. Menyusun rindu selaksa tasbih. Menggilirkan ke 99 bulir dalam satu jiwa.
Kamu, bisakah mengajarku melukis hati? Mengajarku merentang waktu lebih baik lagi untuk menemu muara di tengah langit biru yang tersumpal awan putihv serupa jalan yang tak menemu akhir. Bahkan menjadi buntu.
***
Aku tahu; aku tak ingin menatap. Juga melihat. Terlebih membayang.
Mata.
Mata.
Mata.
Aku tahu; ini yang terbaik. Untukmu. Untuknya.
Selamat berbahagia. Dia yang baik untukmu. Sejuta doa mengantarmu.
Jalan memang berliku. Hatiku masih terpaku; nanar. Namun, inilah hakikat penantian. Bagaimana menyerahkan segala padaNya.
Kelak, kita akan saling menemu yang baik untuk kita karenaNya.
Selamat berlabuh. Akhirnya, satu jua.
***
...ada jawaban dalam doa. kau tahu bukan, hati tak bisa dipaksa? Mari berlabuh dan menambatkan perahu di dermaga yang tepat.
Bulan ini akan segera berganti. Dan, aku tak ingin bersinggah di stasiun bersama kemudiku yang mulai rapuh.
***
Sepuluh Limalima. Langit terang. Bulan benderang. Malam gelap, biru pekat. Ambilkan aku bulan, ... .
***
diah a. said - seorang pembelajar
Kendari, 3.5.2017
Komentar