02 09 1438H

Hujan menjadi topik yang begitu menarik untuk diulas. Menjadi perantara penduduk langit dan Bumi, hujan serupa telepon genggam. 

Lepas pukul 3.30 subuh tadi, rintiknya mengetuk genting tiap rumah. Seolah mengabarkan, "Hai, ini aku. Aku datang." Hujan memiliki banyak cerita. Dan, tiap makhluk punya itu di sepanjang sejarah hidupnya.

Tentu hujan ini menjadi begitu awet dibanding hujanhujan sebelumnya. Entah terjadi pergolakan apa di sana. Hujan berhasil menjamu warga Bumi. Memasok debit air nan tinggi. 

Di satu sisi, hujan menjadi penggiring Ramadhan. Tepat memasuki hari ke pertama. Banyak doa terapal (pasti). Aku berharap semua baikbaik saja. Aku dapat menyelesaikan apa yang belum terselesaikan. Dan kamu, pun begitu.

Hujan mengantar rindu. Termasuk rindu pada ramadhan dan sejuta spekulasi tentang Ramadhan yang diguyur hujan. Ada baiknya, kembali kita menata erang erang. Menyusun kembali topik. Mengatur ritme. Menjaga hati.

Adakah hal yang lebih sulit dibanding menjaga hati?

Mari belajar tentang kesetiaan hujan pada penduduk bumi dan keikhlasan matahari. Hujan yang sedia berbagi spektrum warna agar dinikmati penduduk Bumi. Berbagi bahagia. Juga, matahari yang ikhlas bepergian sejenak. Meninggalkan kepenatan manusia atas gerah yang dibuatnya. Tak ada yang saling mengolok. Samasama merendahkan agar tercipta stimulus yang baik. Saling memaafkan, mengendalikan apa yang tidak terkendali.
___

Ramadhan tiba. Ramadhan tiba. Ramadhan tiba. Marhaban ya Ramadhan. Marhaban yaa Kareem.
___


dy a. said
Ranomeeto, 27 Mei 2017 | 08.49 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a