Sepotong Pagi dan Semangkuk Cerita
Setulusnya. Sebenar-benarnya. Selamanya.
apa arti sebuah tanda juga penanda?
pagi pagi yang basah dan ringis tawa berkelebat
apa arti sebuah tanya juga jawab?
di kikuk rasa yang bergelimang tangis
ada hina. ada harap. ada ada saja.
langkah, ucapan, dan tatapan: satu.
apa arti sebuah tanda juga penanda?
pagi pagi yang basah dan ringis tawa berkelebat
apa arti sebuah tanya juga jawab?
di kikuk rasa yang bergelimang tangis
ada hina. ada harap. ada ada saja.
langkah, ucapan, dan tatapan: satu.
Pagi yang kali ini penuh senyum, kamu apa kabar? Baik sajakah? Long time no see. Dan, kata itu lebih baik kutuliskan lama tak jumpa dibanding aksen ke-barat-an.
Pagi ini, ada cerita bahagia yang lupa kusampaikan pada waktu lalu. Perihal bunga di taman yang mulai mekar tanpa duri. Durinya habis kukuliti satu persatu. Mengapa? Sudahlah.
Kamu pasti lebih penasaran menunggu apa yang akan kutulis 'kan? Sudahlah. Kuy bersantai sejenak. Aku lelah sedari berjalan dengan tatihan langkah diiringi gelak tawa. Ada ranah waktu yang tidak bisa kujangkau.
SEMENTARA tanganku bergerak cepat. Membuk sachet susu cokelat dan menata beberapa potong kue jadul di atas piring. Aku memandang ke arah pintu. Melihat punggung teman dan tarian khasnya di pagi hari. Pagi yang rewel. Klakson mas sayur pagi ini tidak terlalu ribut. Anak sekolah pun. Juga, dering ponsel tidak seribut pagi pagi sebelumnya.
Kamu dimana?
Apa kabar?
Long time no see, ya.
Meet up, yuk.
sebelum pagi menjulang
menjemput sinar
mengubah haluan
dan bunga yang kupegang melayu
aku lupa; dimana kutaruh kawanan bunga lainnya semalam.
ayo bertemu
dan akan kuajari kamu merajut
merajut pintalan rindu. hehe
serius. mari bertemu
rajutan bunga yang perlahan sengaja kulupakan namanya semakin banyak. semakin menumpuk di sudut tempayan.
maukah? akan kubawakan warna kesukaanmu. sebotol cokelat hangat. dan semangkuk kue ber-vla.
juga, sebaris cerita yang jumlahnya tentu tak hanya sebaris akan melengkapi pertemuan kita. berkolom kisah menunggu. aku tak sabar. segera tentukan waktu itu dan kita mulai bercerita sepanjang kita duduk hingga lelah.
aku tidak ingin menceritakan hal itu tanpamu. segera tentukan waktu itu dan kita mulai bercerita sepanjang aku dan kamu tertawa hingga lelah. lalu kita pergi, memetik kuntum selayaknya itulah kuntum yang layak kita catut di daun telinga. aku akan menjepitkan kuntuk itu di bros kudung yang kau kenakan.
baaaaaanyak cerita. banyak rasa. berapa lama aku harus terdiam menunggu jawaban? segera tentukan waktu itu dan kita mulai merajut. sebelum aku pergi, benar-benar pergi dan membenci waktu yang tak selalu berpihak.
segerakan
sebelum samasama kita sesali; mengapa terjadi
kemudian resah tidak bertepi
padahal kita telah hingga diranting
yang lain
hidup kita belum tenggelam
kamu terlalu lama menjawab
aku lebih baik menjauh sebentar
agar kita tahu, apakah kita tersesat?
sebab hati tidak kita tahu. barangkali benar, tangisan selama ini akibat hati kita yang memang tersesat. salah mengenali tuan. maka, kembalikan hati kita pada tempatnya. kembalikan cahayanya dan kita ulang semua dari awal.
jangan tanya sampai kapan begini. sebab aku pun tak tahu. inginku belum tentu inginmu. begitu juga sebaliknya. ayo berbalik arah. lupakan cerita yang ingin kuceritakan. simpan saja, kelak pada akhirnya aku akan berikan kisah milikmu. nanti. entah kapan.
mari samasama menunggu. ingatkan aku untuk menceritakan kisah ini. okehhh.
long time no see you. no meet up. let it go.
morning, kamu.
baikbaik, ya. jangan nakal.
aku percaya, di tiap pagi ada kisah baru yang akan kita ceritakan pada dunia. dan, dunia tidak akan tahu hingga saatnya tiba, dimana kita menceritakannya dengan perasaan yang meletup-letup. hm, jangan lupa bahagia. :)
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 3.11.2016 | 7:15 am




Komentar