November Newsletter

Apa kabar?
Di sepotong pagi berusia 7953 hari, seorang anak duduk menerka kisah yang akan datang. Tidak ada harapan pasti untuk masa yang telah terlewati tetapi masih ada untuk masa depan.

Seorang anak yang gemas memamerkan gigi kelinci di usia 1825 hari.  Aktif berbicara di usia 370 hari. Aktif berlarian di saat yang bersamaan. Tidak hanya berlari melainkan gesit memanjati tiap senti kusen. Dan di 1700-an hari hingga kini tetap sedia mempertahankan rutinitas baca tulis. Seorang anak yang bahkan di usianya telah mampu melafalkan juga mengingat perkalian 1-10. Anak yang entah bagaimana kemudian akan diceritakan. Entah sebagai apa dia nantinya.

 Dia masih meraba bayang. Mengelus permukaan yang halus, ringan, sesekali berbuih, pun dapat menenggelamkan. Tak diketahuinya pun, akan ada apa di masa yang akan datang.

Dia masih sibuk menghitung usia.

Mencari keganjilan keganjilan untuk kemudian digenapkan. Dia sementara menyepi. Mengamat bayang. Mengingat kata.

"Ketahuilah bahwa apa yang mestinya luput darimu, tidak akan menimpa dirimu dan apa yang ditakdirkan menimpamu, tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran. Kelapangan itu menyertai kesempitan dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
-HR. Tirmidzi-


Hidup adalah soal petakan waktu. Mengisi wadah, menelusuri lorong, hingga berhentian di tiap sisi untuk mengamat sekilas apa yang perlu dan harus dibenahi. Bukan lagi tentang bagaimana tetapi SIAPA agar tak lagi ada salah dalam langkah juga tutur serta tindak.

Hidup adalah mengayomi. Bagaimana si lemah dan si kuat saling bertahan dan mempertahankan di tiap situasi. Tidak dengan meninggalkan melainkan menjaga. Terkadang perihal hidup dengan usia yang telah mencapai ribuan hari, ciptaan masih lupa akan makna hidup dan belajar. Kemarin menjadi hari ini, hari ini menjadi pengalaman, dan besok memperbaiki langkah. Inilah keadaan dunia. Kita hidup dan belajar -Abd. Hadi al 'Umairi-

Hidup adalah ketaatan. Ketika kewajiban menjadi tuntutan dan hak menjadi turutan.

Hidup tentang sebuah kesempatan. Kesempatan untuk berbuat baik, cukup, atau secukupnya. Sebab akan ada reaksi di tiap aksi. Akan ada balasan untuk kini dan nanti, baik bagi mereka yang patuh dan taat dan mereka yang patuh. Patuh untuk berbuat baik. Ketika patuh dan taat melakukan hal baik, maka balasan kini dan nanti akan didapatkan tetapi bagi mereka yang patuh hanya akan mendapat balasan di masa kini tetapi tidak di masa yang akan datang.

Apabila kesempatan emas menghampirimu, segeralah raih sebelum ia meninggalkanmu. Sebab apabila ia telah pergi, jangan harap bisa mendapatkannya kembali.


Di sepotong pagi berusia 7953 hari, seorang anak duduk menerka kisah yang akan datang. Tidak ada harapan pasti untuk masa yang telah terlewati tetapi masih ada untuk masa depan.

Dia lebih kuat dari apa yang dia pikirkan, seperti kata seorang kaka.

Dia lebih cerdas dari apa yang  diketahuinya, seperti kata seorang senior.

Dia lebih tangguh dari apa yang dibayangkannya, seperti kata seorang adik.

Dia lebih tegar dari yang dilihatnya, seperti kata seorang ibu.

Dia lebih pendiam dari diamnya, seperti kata seorang kakak.

Dia lebih tak mudah goyah dari kegamangannya, seperti kata seorang senior.

Dia terlalu memiliki segala kesatuan dua pahlawannya, seperti kata soerang bapak.

***

Maka, tidak ada waktu untuk berkesah. Mudah membenci, menyukai, mencinta, dan membangkang. Maka seperti itulah kehidupan. Tidak pantas atas itu mengeluh karena segala sesuatu tak berjalan tak sesuai harapan.  Olehnya, jika ingin memperpanjang umur, perbanyaklah bersyukur.

November newsletter.
Kehidupan kita tak seberuntung yang kita kira. Ada yang menjalani kehidupan dengan untung, buntung, dan beruntung. Sebab dari kehidupanlah kita belajar untuk lebih menghargai apa yang telah diberikan.

November newsletter.
Pagi ini, sepotong kenangan tetap datang; selalu akan datang di tiap pagi. 7953, bukan angka yang sedikit. Berhasil melalui 1000 hari dengan matahari yang selalu bersinar adalah  anugerah.

Teruslah berbuat baik hingga kita lupa untuk berbuat jahat. Teruslah disibukkan dengan kesibukkan karenaNya hingga kita lupa untuk disibukkan hal tak berarti. Teruslah berkarya dan bermanfaat.

Tanamlah kebaikan
sebab ia akan tumbuh dimanapun engkau menanamnya.
  
SEMANGAT PAGI. Sehat selalu. Jangan lupa bahagia.
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 11.11.2016 | 6:45 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a