Save Our Generation (3)

Tulisan ini dibuat untuk sekadar sharing atas ilmu yang didapatkan saat mengikuti sebuah kajian online about parenting.

Denger kata parenting biasa-biasa aja, ya, 'kan? Namun, bagi yang sensi-tif pasti akan memertanyakan, kok gitu? Kan kamu...? Okay, i'm single and whats the problem?

Tidak menjadi suatu permasalahan besar mendengar, membaca terlebih mengikuti kajian menyangkut hal tersebut sebab pada akhirnya kita akan dituntut untuk menjadi. Bukankah belajar untuk menjadi itu di mulai dari sekarang agar dimudahkan ke depannya? 

***
Ketika mengikuti materi, saya hanya membayangkan betapa repotnya kedua orang tua saya mengasuh saya untuk pertama kali. Sebagai sulung saat itu, pasti banyak kerepotan tak terduga yang muncul. Entah apa saja yang terjadi saat itu, sampai sekarang saya masih enggan menanyakannya. Kemudian disusul kedua adik saya yang menggemaskan. Tiga putri kecil pelengkap keluarga (yang sekarang tinggi, cerdas, dan cantiknya melebihi si sulung... hehe).


Dalam proses tumbuh kembang anak, bagi newbie parents pasti "merasa" trial dan error. Well, kesempatan kali ini saya tidak akan membahas tentang parenting dalam arti 'menjadi orang tua' melainkan tentang 'ke-organisasi-an'. Ya, karena emang setelah menyimak dengan 'sedikit' seksama, lingkup organisasi lainnya setelah keluarga dengan akulturasi yang berbeda ternyata sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang si kader atau anggota hasil rekrutan.

Organisasi adalah sebuah lingkup keluarga dalam versi lain. Selanjutnya kata organisasi diganti sebuah pohon, ya. Dalam keluarga inti, ada ayah ibu dan anak-anak. Bahkan kakek, nenek, dan buyut. Begitupun dengan pohon. Ada pucuk (pemimpin), ranting (ketua-ketua departemen/bidang), daun (para anggota), dan akar (para penguat/sepuh). Pohon pun memiliki jaringan-jaringan yang saling berhubungan sehingga menghasilkan kolaborasi yang baik guna menjaga keseimbangan tumbuh kembangnya.

Penanam benih yang baik,  akan mencatut tiap jengkal pertumbuhan tanamannya dengan baik tanpa melewatkan sebuah proses.Dan, tidak menutup fakta dalam proses tumbuh kembang dalam tiap regenerasi betapa penuh rasanya menanggung balada balado yang silih berganti.

ADA TRIAL AND ERROR. PANIK. KEHILANGAN KOMPAS, dan lain lain. Seorang penanam yang baik, tidak  boleh melewatkan satu proses pun dan jika itu terjadi secara alamiah, jadi mau diapakan lagi. Udah gitu. Udah deh.

Pengasuhan sang pemilik dalam dilihat pada grafik si tanaman.  Tumbuh kembang setidaknya mewakili tingkat konsistensi pemilik dalam mengasuh. Seorang pemilik tanaman profesional, akan bekerja keras merawat dan memperhatikan benihnya hingga menjadi berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya dengan Pencipta. Sedang seorang pekerja, hanya merawat atau melakukan pekerjaan sesuai bidangnya. Boleh dikata, seorang pekerja akan habisbisan bekerja sesuai job-desc-nya berdasarkan penuntutan upah.

Pemilik yang baik, tidak hanya akan melakukan job-desc sesuai keinginannya tetapi juga bekerja sesuai standar yang diberlakukan Sang Maha Pemberi sebab kelak akan dipertanggung jawabkan. Karena itu, mengasuh bukan pekerjaan sampingan. Memberi pembinaan untuk pengembangan soft-skill sangat diperlukan. Tidak hanya sekadar mengejar ke-ab-sah-an / legalitas.

sepenuh hati
sepenuh akal
sepenuh kekuatan fisik

Banyak. Beberapa lingkup tertentu secara tidak sengaja melewati sebuah proses dalam tumbuh kembang si binaan. Misal, sebagai anggota baru yang musti diberi asupan dengan baik agar tumbuh sehat dan kembangnya normal; si dia malah mendapat sebuah prestasi luar biasa. Tidak menjadi daun melainkan ranting bahkan pucuk. Mengapa bisa? terkalah.jawablah.

Secara umum, si penerima amanah dg serta merta merasa bahagia serta protes (jika dia paham mengapa abnormal) terkait akselerasi dirinya dalam berlembaga. Namun, secara psikologi jika dikaitkan dengan ilmu parenting yang sebenarnya, secara psikologi anak yang tumbuh seperti itu tidak akan normal 100%. Ada sebuah proses yang dilewatinya secara tak sengaja. 

Bahagia. Bangga. Senang. Dan sejuta perasaan cenat cenut itu akan menjadi utang perkembangan di kemudian hari. Masalah koordinasi perkembangan pemikiran, fleksibilitas berpikir, dan kemampuan menyesuaikan diri sangat mempengaruhi ketuntasan tahap perkembangan.

Bijaknya, ada yang sigap menerima keputusan: Yes, akselerasi. Parahnya, ada yang tegap menentang: No akselerasi!

Mengapa?
Stimulan yang diberikan antara ranting dan dedaunan berbeda. Pembelajaran dari generasi sebelumnya tidak dipelajari dengan baik. Berani memutuskan tanpa memberi reaksi kemudian. Saya menyayangkan, percepatan tahap yang tidak dibarengi stimulasi  yang baik. Para pencatut aksel, dengan entengnya mengangkat tetapi gengsi jika ditautkan masalah.

tanya: Mengapa ...?
jawab: sudah, selesaikan saja. seperti itulah keadaan dan memang amanah ... untuk mengatasi.

wiks. Gengsi. Cuci tangan.

Akhirnya, si anggota / kader baru harus move on. Berdamai dengan keadaan dan bekerja keras walaupun harus latihan terus. Jika kuat, segera bangkit sebaliknya jika lemah, maka dengan rapuhnya dia akan mencari tempat dimana sebuah sandaran kokoh dapat menahan kegamangannya. Tak jarang, ada yang berpindah layar atau bahkan berhenti di persimpangan. So, keeping your parental cool. Ingat, bahwa ketika beberapa dedaunan mulai tak tahan dengan cuaca buruk di luar sana, kamu harus sigap mengambil selimut dan mendongengkan cerita pendahulu. Sakit adalah keadaan normal.

Menjadi orangtua adalah prioritas. Tugas peradaban. Banyak profesi yang kita emban sepanjang hidup, kehidupan. Pekerjaan tak akan ada habisnya. Jika pucuk tak lagi tegar mengomandoi,  ranting tak lagi kuat menahan, maka mau dikemanakan para dedaunan?

Para dedaunan dan dahanpun membutuhkan sang leader untuk semua hajat hidupnya. Tak hanya kehadiran fisik tetapi juga perasaan dll. Jika terlalu sibuk, jadikanlah mereka prioritas di waktu yang sempit.

Al ummi madrasatul 'ulaa dan para bapak adalah kepala sekolahnya.
Presiden didampingi ibu negara agar stabilitas perempuan yang tergerak dalam PKK dapat terkoordinir.

JANGAN SAMPAI MENINGGALKAN GENERASI YANG LEMAH DI DEPAN!
jangan sampai meninggalkan di belakang generasi kita yang lemah!

Menjadi leader, pucuk sebuah organisasi bukanlah sebuah pekerjaan kecil. Ia adalah pekejaan peradaban. Pekerjaan hati sekaligus pekerjaan fisik yang akan paling banyak mengambil jatah usia (AD). 

Tiap tumbuh kembang harus diikuti. Jangan dilewatkan. Nampak keren memang akselerasi, wkwk. Olehnya, ketahuilah tumbuh kembang tiap dedauanan. Bila diketahui ada yang tidak sesuai tahap maka berikanlah stimulus. Belum cukup bekal? Jangan banyak alasan. Belajar tiap saat bukan saat ada masalah. 

Segala sesuatu harus mengikuti proses alami.Sebab tiap tahapan prosess ada pelajaran tersembunyi di balik semua fenomena yang muncul di permukaan. 

 Maha Besar Allah yang menciptakan segala sesuatu
tiada yang sama 

.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 18.11.2016 | 7:22 am 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a