Harga Sebuah Pengakuan (1)
Gemetar. Takut.
Setidaknya ini yang saya rasakan sejak semalam. Mencoba menghibur diri dengan berbagai hal termasuk menulis. Pikiran tidak fokus dan persendian semakin payah. Saya perlu banyak penghapus pagi ini. Tanpa alasan jelas, ketakutan semakin besar. Mata sembab tanpa tangis.
Semalam, saya memulai menulis lagi. Memegang pena dan kertas, tetapi tulisan tetap tak berubah lebih baik. Mencong kanan mencong kiri. Mengakali menggunakan smartphone juga leppy, sama saja. Tidak membuahkan hasil. Semakin saya coba, getarannya semakin kuat. Menangis? Ingin tapi tidak bisa.
Sepagi ini dengan tulisan cengeng. Sebab saya tidak tahu. Percakapan percakapan yang memancing emosi berlebih padahal sejak siang kemarin saya tidak mengeluarkan sepatah katapun selain memanggil Obe... (kucing di asrama). Ponsel kerapkali jatuh. Kelingking keseringan mampir di tombol backspace. Ada apa?
***
Semakin ke atas, tekanan udara semakin ... sehingga membutuhkan persiapan matang. Semakin tinggi, semakin berkurang oksigen. Well, saya tidak sedang berada di puncak. Puncak keramaian, puncak gunung, atau puncak hatimu (wkwk).
Saya berusaha rileks, senyaman mungkin, mengurangi ketidaknyamanan tubuh saya sendiri. Nol. Ponsel yang jatuh semakin memperkeruh keadaan. Semakin tinggi frekuensi kejatuhan. Lepasnya kesing, terlempar jauh, hingga buku yang sekuel Khilafaur Rasyidin yang muat dua kini tidak bisa diangkat menggunakan dua tangan.
Pagi ini, masih bergetar. Sedikit tapi tidak lebih baik. Barangkali ada yang salah. Keluar dar koridor, tidak melalui alur yang tepat. Mencoba tetapi gagal. Trial and error.
"...cause the hardest part of this live
is
leaving you..."
Tentang gemetar yang tak kunjung usai. Tanganku latah, seketika berada di titik nol. Gagap karena ke-tidak-tahu-an.
Karena meninggalkan seseorang adalah hal yang sulit. Pisah adalah baik tetapi pisah menjemukan. Itulah kali sebab sebuah tanya tak perlu jawab. Tak perlu jawaban dan waktu khusus mengapa kita harus bertemu. Lalu berujung, mengapa harus pisah?
Melawan syaraf yang tetiba tak bersahabat begitu rumit. Seperti pemecahan misteri kapan ini kapan itu. Menuruni anak tangga kemudian menaiki setelah itu lompati satu persatu.
Inilah harga dari sebuah pengakuan (1). Akan sehat yang begitu berharga, akan cita yang begitu nyata, akan rindu yang amat sesak, dan kita yang tak satu.
"Ini seluruhnya untukmu,
tapi pulanglah--
padaku
seperti juga aku;
datang padamu."
(DWITASARI)
Getar. Kekuatan. Kepercayaan. Kita.
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 21.11.2016 | 8:07 am



Komentar