Titik-titik yang Bertahan
Setiap tempat punya cerita. Baik buruh. Bagus jelek. Ganteng cantik. Sederhana. Mewah. Ukuran tertentu menjadikan seseorang memiliki tolak ukur/standar kapasitas yang berbeda.
Kita punya kenangan; yang kita taruh di tempat berbeda. Kita punya perasaan; yang bercampur logika. Kita memuja waktu yang enggan menari akrab di hadapan. Kita saling memendam angan lalu beradu dalam pikiran. Kita pernah berbagi; kemudian saling mengisi. Bersama.
Sabtu. Hari yang biasa saja. Dimana kita menyepakati sebuah senja untuk kita. Kita. Kita mengisi kekosongan waktu dan hati dengan melingkar. Menjadi titik titik kecil pelengkap kuadran. Melengkapi puzzle yang berceceran juga bergantian menjadi puzzle aneka rupa. Masing kita memiliki warna. Sebab hidup adalah tentang mewarnai. Bagaimana kita menjadi seorang yang miliki warnawarna lengkap (tak hanya hitam dan putih).
Sabtu. Hari yang biasa saja. Kita tak miliki patokan khusus untuk mengikat kata. Hanya sebuah tatapan jarak jauh sebagai penanda lingkaran kita, kemudian datang satu persatu jiwa menjadi titik kecil yang menjadikan lingkaran utuh. Selalu mencoba memahami dan menerka karakter adalah tugas terberat. Sebagai titik yang saling mengisi, kita akan mempelajari tiap gerak tubuh dan lisan yang tersirat. Lalu berandai.
Sabtu. Bersyukur bahwa di hari tersebut, janji bukan sekadar janji. Sebab para titik yang bertahan pernah saling mencari. Lalu menyatu, kini. Bersama menggambarkan perjalanan dengan getar yang sama walau terkadang beda. Namun, berbeda itulah yang menyatukan kita "kami".
Sabtu. Titik. Pencarian. Passion.
Itulah Sabtu bersama senja di Tugu UHO. Sebuah tempat dimana para penyuka diskusi bercengkerama.Kawanan berselimut tawa. Juga, selintas duduk mengamat senja berhadap-hadapan dengan sebuah gedung 4 lantai bercat kuning.
Sabtu yang nampak biasa tetapi bersama orang-orang yang luar biasa. Orang yang kelak dan sepertinya memang terjerembab dalam jebakan kesuksesan bersama para pemimpi. Pemimpi yang kelak memimpin.
Sabtu dengan doa. Tawa. Harapan. Tatapan. Impian. Tulisan. Pertemuan itu tidak sebentar saja melainkan sangat lama sehingga terkadang untuk mengurangi kebosanan bercanda atau mengisengi teman merupakan tingkah wajib.
Barangkali, bersama Sabtu kita lupa suatu isyarat bahwa cinta hadir tanpa butuh alasan. Tanpa alasan hingga tiap kekosongan selalu miliki pengganti. Membiarkan titik yang pergi, lalu kembali. Kemudian tak pernah kembali. Sesekali menengok. Dengan itu, kita harus mengingat bahwa pergi, membiarkan pergi adalah salah satu cabang perasaan sejati. Menatapnya dengan segenap perasaan.
Maka titik titik itu menjelma sebuah karya. Tiap titik miliki potensi yang bahkan mereka belum ketahui. Potensi yang memiliki kebermanfaatan besar bahkan dapat menghasilkan kebermanfaatan yang lebih.
sesungguhnya Allah beri fasilitas mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, tangan untuk berbuat, dan kaki untuk melangkah serta akal untuk memahami semua ayat-ayatNya.
Tetaplah bertahan. Jangan berada dalam kesendirian. Tetaplah menjadi titiktitik kecil yang melengkapi lingkaran. Sebab kelak kumpulan titik akan semakin besar; kokoh; dan kuat.
HK Newton 2:
"Suatu benda tidak akan bisa bergerak
sampai mendapatkan gaya yang lebih besar
dari hambatan yang dihadapinya."
Titiktitik
itu tak ubahnya senja. Seperti senja yang kerap kita--kami-- nikmati bersama. Datang membawa perubahan. Datangnya di nanti.
Datangnya dielukan. Jadilah titik yang tetap di kuadran. Datang dan menetapnya para titik untuk berpendar bersama adalah keputusan terbaik atas nama kehormatan perasaan.
![]() | |
| Selamat datang. Tetap bertahan. Jaga semangat. |
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 14.11.2016 | 6:52 am


Komentar