Sepotong Pagi dan Sebuah Sapa
Apa kabar?
Pagi ini, kawanan burung lesu berkicau hanya suara ponsel berisi nada-nada campuran klasik, pop, dan arabian.
Pagi ini, kawanan pepohonan tak seribut biasa. Tak ada bau embun juga kabar(mu).
Pagi ini.
***
Percayalah. Believe. Di tiap kata yang kamu tuliskan pagi ini adalah apa yang kamu lakukan dahulu.
Saya percaya, jangan sekali kali melupakan sejarah. Maka tengok sejenak ke belakang, barangkali ada jejak yang kamu tinggalkan. Dan, kini kamu merasakannya. Merasakan hingga kamu mulai pongah, jenuh, dan lelah dengan sendiri.
Tidak menampik. Saya boleh mengajukan tanya, waktuwaktu yang telah terlewati itu kamu kemana saja? Hingga apa yang menjadi kesah tak kamu ketahui. Ditutupinya segala hal yang membuat kamu tidak tampak hingga kamu tetap bersinar. Ditutupinya nodanoda itu.
Jangan memungkiri. Ada perasaan yang sepertinya tersembunyi. Boleh jadi, kepribadian yang berbeda. Ketidak sukaan menengok ke belakang juga belajar dari masa lalu.
Kamu salah, kawan. Harusya kamu menengok sedikit. Sedikit saja. Tidak usah banyak-banyak. Betapa keburukan ditutupi dengan kebaikan itu tidak mengenakkan tetapi kita harus melupakan buruk itu.
Aku menyalahkanmu. Kamu gagal. Gagal. Jika sedikit saja kamu ingin menengok, kamu akan sadar bahwa kamu hari ini adalah cerminan masa lalumu.
Berhenti menyalahkan. Kamu tidak selalu benar. Tidak sepenuhnya benar. Selaku pucuk pepohonan, baiknya menatap rantingranting terbawah hingga merasa akar. Apakah ketercukupan mineral terpenuhi? Apakah daun yang jatuh, mendapat tempat yang baik? Apakah rantingranting kuat bergelantungan di antara musim yang kejam?
Aku ingin tahu: siapa dihatimu. Hapuskan mereka dari kegundahan itu. Mereka adalah kamu. Kamu adalah mereka.
Aku kecewa dan ruang itu telah sesak sedari kita digenggam. Jemari kita kian tak erat. Aku tersenyum kamu juga. Entah hati. Aku menatap kamu mengalih pandang.
Aku terdiam mendadak.
Kamu beranjak.
Aku menahan rasa yang nyaris meledak
tanpa kata. Aku sesak
Sekali lagi, hapus apa yang baru saja kamu tuliskan. SUNGGUH, itu adalah kamu. Diri kamu, bukan orang lain.
Perjalanan masih panjang. Kamu tidak patut menyalahkan. Jika ingin menyalahkan orang, salahkan diri sendiri.
LIHAT KE DEPAN. TATAP. Masih panjang perjalanan, belum menemu ujung. Mata kita belum mendapat susuran. Apakah masih akan berkelok atau tetap lurus?
Berjalanlah. Kamu bisa. Berhenti membuat status menyebalkan. Itulah mengapa aku... .
Aku sudah menutup langkah bersama setahun. Walau berbeda daya tampung, kamu tetap sama menyebalkan seperti awal kita bertemu. Disatukannya kita, tak membawa dampak apapun. Hanya cerita simpang siur yang kawananmu ceritakan. Semakin siur, memojokkan, dan .... erghhh
Semoga kamu tetap bahagia.
Tidak lupa bagaimana tersenyum.
serta Mengingat masa lalu yang kau buat.
juga Jangan lupa menutup buku perihal diriku yang telah kau ukir susah payah. Aku tidak tahu cara berekspresi hingga mungkin kau akan menemu tulisan ini.
Yang baca jangan baper.
Jangan terlalu cepat merasa.
terimakasih.
semoga di episode berikutnya
ada cerita lain
dengan senyum yg baru
tingkah yang bijak
serta tatapan persaudaraan
kendari, 7.11.2016 |di sepotong pagi



Komentar