We Have
Berharaplah engkau hanya kepada Tuhanmu
sesungguhnya Dia adalah sahabatmu yg paling setia yang tak kan pernah mengecewakanmu
Dengan segala yang dimiliki, kita tidak perlu berjalan hingga menemu tapal batas. Kita tidak diwajibkan untuk menggapai penghujung jalan. Kita hanya perlu mengikat hati lalu mengenalkan si sohib tentang jalan yang tengah kita runut mulusnya ini. Ini tentang hati (lagi). Inilah ke-khas-an tentang comfort zone. Dimana kita dapat menemu jalan seperti ini di antara banyaknya simpang jalan yang nampak?
"Do'a itu senjata seorang mukmin,
tiang agama, serta cahaya langit dan bumi"
(HR. al-Hakim)
Minimal, rasakan dahulu adem. Bagaimana? Tunjukkan. Bukankah kita memulai dari mengikat hati? Yap yap... Dengan apa? Harta tiada, benda tak mencukupi. Lalu? Bagaimana jika kita memulai dari do'a? Do'a itu murah. Malah gratis jika diungkapkan. Tidak dibutuhkan sebuah debit card atau kartu lainnya untuk mengirim doa. Mau pake wesel pos? Sms? Telepong? Telegram? Whatsupp? Line? Email? Medsos? atau aneka aplikasi tekno lainnya agar dibilang ke-kini-an gitu? Tidak perlu. Tidak usah. Do'a lebih mudah dari itu. DIA telah berbaik hati memberikan kemudahan agar kita mensyukuri nikmat. Tak perlu ingin dianggap gap-tek sehingga mengikuti trend di tengah kehidupan yang pas-pasan. Sederhana: sehari lima waktu di tiap akhir gerakan antara dua sujud, silah berucap; sehari dalam 12 gerakan indah di tiap waktunya; sehari dalam sekian jam bahkan keseluruhan waktu kita penuhi dengan do'a. Dan, DIA tidak pernah bosan mendengar do'a yang kadang berujung keluhan itu. DIA Sang Ar-Rahiim, Ar-Rahmaan.
"Maka
nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"
Sahabat, ruangruang jiwa kita tak sepenuhnya berisi. Separuh kita biarkan kosong. Separuh ada yang tak sempurna bentuknya. Hingga kini, (kita) masih dalam tahap pencarian. Layaknya kupukupu, kita mencari buaian yang sesuai. Terkadang, apabila tidak nyaman dengan tumbuhan A maka kita akan berpaling pada tumbuhan B. Begitu seterusnya, kita tidak akan pernah berhenti sebelum menemukan kenyamanan dalam konteks denotasi diri sendiri.
Tumbuhan pada dasarnya dicipta untuk memikat hewan penyerbuk. Misal: tumbuhan dengan kembang yang wangi, indah (terkadang wangi belum tentu indah) untuk memikat lebah; tumbuhan dengan kembang aroma tak sedap untuk memikat lalat;... dsb. Semua memiliki arti kehadiran. Tidak ada yang siasia dalam penciptaannya. Lebah, lalat, kumbang, dan hewan yang membantu penyerbukan lainnya telah ada manfaat bahkan keutamaan penyerbuk telah dijelaskan dalam kalamullah.
Kembali ke topik...
Pencarian masingmasing jiwa ada kadarnya. Ada yang lama dalam mencari. Ada yang cepat. Ada yang telah mendapatkan apa yang dicari dan di saat itu timbul keraguan. Mengapa? Sebab ekspektasi yang diharapkan tak sampai. Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan itulah mereka. Hei, ini seperti mencari indung telur. Seketika 50oribu juta se per ma berlarian menuju ovum. Mencari tuba valopi untuk kemudian dibuahi. Tetapi, kandas di tengah jalan terhalang zat asam dan akhirnya hanya 1 buah sel se per ma yang berhasil melewati ruang itu untuk kemudian menjadi zigot. Zigot yang kemudian telah berhasil, setelah melewati waktu 9 bulan 10 hari akhirnya melihat dunia. Lahir dan ketika tumbuh kembang, prosesnya tak sempurna karena banyak ini itu yang tak sesuai dengan kawannya. Melihat ini, mengapa saya tak seperti itu? Melihat itu, mengapa saya seperti ini? Lucu, ya???
Olehnya, jadilah pribadi yang pandaipandai bersyukur. Sebab, "kita" adalah 1 dari 500juta ribu sekian se per ma yang berhasil menjadi jawara. Tiada lain hanyalah namaNya yang harus kita berucap syukur. Namun, kita lupa. Mengapa? Sebab, kamu the other reason.
"As long as we have Allah
we have everything"
Kamu adalah alasan lainnya. Banyaknya pengharapan yang terbit dari cerpencerpen atau novelnovel teen-lit membikin jiwa terkadang murah rapuh. Kamu yang sebenarnya menjadi kamu dalam bentuk konotasi. Kata Sapardi, inilah hujan di bulan juni, gaes.
Baiklah, semoga DIA segera mempertemukan kamu dengan dia sehingga tidak adalagi another reason. Semoga setelah menemukannya, kamu segera berbalik bahagia dan tidak mengatakan a-i-u perihal konotasi kehidupan yang gamblang. Pertemuan itu entah kapan. Selamat menanti untuk warnawarna hati.
Lupa... Pertemuan itu, maknanya jangan dilupakan.
Jodoh, Rezeki, Kematian
tidak memberitahu waktu kapan dia akan datang.
Namun, kadang dia berbaik hati memberitahu petunjuk perihal kedatangannya.
Bukan memilih waktu yang pas (matang dan mapan)
tetapi saat telah maka genapkanlah.
Memang tidak memilih cara, usia, dan status.
Ia bisa menimpa siapa saja, usia berapa pun dg cara yang bagaimanapun.
dy. a. said
Kendari, 4 Maret 2016 | 7:37 am
Komentar