Generasi Pena*
Nun.
Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.
begitulah aku jadi sepenggal bab kehidupan bagimu,
cerita sampingan |
kita tak meminta untuk mengawali, namun kita tutup dengan ketaatan
Saya tidak menjadi takut kemudian untuk menebar jala. Musim ini menjadi musim yang baik untuk bermain layangan di lapangan bebas. Musim dimana angin berembus mesra. Layangan tidak pernah gentar menggoyangkan lembut ekornya demi mengibas dan melawan terjangan angin. Dengan mendapatkan perlawanan, layangan terbang membubung tinggi tanpa resah. Hanya lakon tangan penari pengulur benang yang bebas hentak kanan, hentak kiri.
Saya tidak menjadi takut kemudian untuk menampar diri. Zaman ini adalah zaman karuan. Saat benang koyak terbelit tubuhnya sendiri atau angin memutuskannya. Menjadi gentar adalah pilihan. Pilihan untuk sendiri atau bersama juga menjadi gentar adalah pilihan ketika amanah sekadar aman, ah. Sabar dalam menetralkan keadaan hati yang begitu ruwet, amat menyiksa. Terlebih hati yang tak biasa, itu sungguh menimang dosa. Dosa yang tidak saya tahu artinya.
Siang ini, saya berani untuk kemudian menjadi sendiri di tengah keriuhan orang sekitar. Tidak menjadi gagap dalam menjalani lakon sebagai monolog kota. Biarkan waktu yang mengajarkan bahwa diam adalah perbuatan.
Aku menolak perang. Suaraku lantang. Tapi kamu curang. Curang untuk mengungkap. Anakanak di usia sepertiku semakin sibuk dengan kekeruhan waktu. Ketika gadget adalah idaman dan diri adalah lawan tangguh yang begitu sulit dikalahkan. Benar kata Imam Syafi'i dalam tulisannya, "air yang diam akan keruh, yang mengalir dia bening", terus bergerak, terus kreatif, jangan berhenti."
Sahabat, habiskan saja waktu dan pikiran untuk berkarya dan bermanfaat. Jika tidak lagi berpeluang untuk berkarya maka teruslah berjalan, baik seorang diri maupun bersama. Sendiri dengan kemampuan, kehebatan, dan kekuatan jiwa. Namun, lebih baik bersama dengan mereka yang berkarya karenaNya.
................ (???)...........................................................***....................
Sebab setinggi-tinggi ilmu, pertanyaan bagimu kelak "Siapa Tuhanmu?" |
sepanjang-panjang gelar, gelar terbaik adalah "Almarhum". Siapkah?
dy a. said
Kendari, 26 Maret 2016 | 1:53 pm @Gazebo Depan A2 FKIP UH0
*saat sendiri, dan kau benar-benar sendiri maka disitulah perenungan tentang kesiapan, siapa, dan sisa lakon menjadi tanya, jawab,dan pernyataan tak tergugah yang wajib terungkap.
Selamat mengingat, mengenang, dan merindu #Dy :)
Komentar