55 Hari: Is a Journey?

  Meninggalkan doa di sepotong pagi dan remah sepanjang kata. Kita mengenang matahari pagi itu, yang sempat mengabut dan enggan kembali. Lalu jalan yang tak sunyi menjadi sunyi penuh ilusi. Buat kita, jiwajiwa mula semakin bergiat ber-ilusi. Sesibuk kupu mencari nectar, di dada denting waktu kian lingsir. Dengan rakus, diksidiksi terebut dari buku tua yang tak layak baca. Pontang-panting tubuhnya menyelamatkan diri dari amukan rayap.

  Kita tak pernah se-akur dan se-formal ini sebelumnya. Tak ada kata pamit untuk berpisah. Walau cinta belum tertabur sempurna tapi wangi bunga sibuk merona. Kemudian, langkah wanita berpasangpasang dan sekelompok lelaki tanpa sengaja menginjak ranting, meninggalkan jejak berisi kenangan dan langit tak benar-benar berawan. Maka jangan katakan perihal suratan napas. Kita tak benar hilang. Kita masih pandai bercita-angan.

  Nama kita utuh: tertulis, terbaca, dan teringat. Bukan sebagai nama tetapi amanah. Bukan sebagai tulisan tetapi kualitas. Bukan sebagai pajangan tetapi pandangan. Demi masa: Masa depan tentunya. Ingatan kita tak selamanya lumpuh. Tetaplah berkirim kabar.

  Tahukah? Tuhan melihat kita yang hari ini, bukan yang kemarin.


“Aku mengenalmu, sebagai pribadi yang sederhana, darimu aku belajar bahwa ujian adalah anugerah untuk mendewasakan setiap insan yang dipilih-Nya, untuk menjadi pribadi tangguh. Termasuk cinta yang mendewasakan kita. Termasuk kesetiaanmu, yang menenangkan.”


dy a. said
Kendari, 11 Maret 2016 | 9:05 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a