Jika Mentari Tak Kembali
7:59 am wita.
Apa yang terjadi jika matahari benar-benar tak kembali? Apa yang terjadi jika matahari kembali tetapi dalam warna yang tak lagi sama? Bagaimana jika dia membawa kegelapan? Siapkah?
Sedari awal telah dikabarkan-Nya perihal ini. Telah cukup as-Syams mewarnai hari dengan warna benderangnya. Ini kali, dia tetap bersinar dengan pengecualian. Matahari tak akan terbit seperti biasa. Akan dilewatinya ruang dengan degradasi warna yang beda. Penduduk bumi siapkan cara terbaik. Ada yang telah bersiap menyiapkan kocek, memotret abadi "sengaja"; ada yang tengah merunduk memikir; ada yang gagah berdiri rukuk dan sujud merapal mantera doa perolehan perjalanan isra dan mi'raj; dan tentu, ada yang acuh tak acuh.
Di sepanjang hidup, beberapa jiwa pernah mendapati peristiwa alam ini. Mungkin ada yang sekali, dua, bahkan tiga atau empat. Untuk negaraku, perolehan data sekitar 350 tahun sekali dibanding negara lainnya yang mendapat keajaiban 30-50 tahun sekali. Tunggu... Ajaib? Sebenarnya, ini bukan kekonyolan tetapi ajaib secara denotasi berarti kita harus bersiap dengan segala kemungkinan. Satu di antaranya kegelapan. Siapa yang tak takut gelap? Boleh kita berkecoh, saya. Lalu bagaimana jika mentari benar-benar tak kembali tak seperti dalam Film Kiamat 2012? Bagaimana jika Dia benar-benar mengambil kepunyaan-Nya tanpa memberitahu sebelumnya?
Jika mentari tak kembali, takutkah Anda?
Menjadi cermin untuk melangkah. Yang selama ini selalu diagungkan untuk menjadi penyempurna. Matahari dan bulan. Syams dan Hilal. Debar hati beberapa jiwa. Bisik rindu, bisik resah, bisik bisik tetangga. Adakah mungkin tulisan ini benar hanya milik perseorangan atau khalayak? Adakah benar tulisan ini untuk menakuti dan menjadi omongkosong? Wallahu'alam.
Jika mentari tak kembali, takutkah Anda?
Baiklah, kusampaikan salam dari langit. Yang diturunkan Jibril pada Rasul-Nya secara mutawattir. Entah kita mendengarkan, membaca, atau mensyiarkannya. Ada harapan lain bernama cinta untuk yang ditinggalkannya.
Alangkah kerasnya hati.
Di saat harus memperbanyak tangis dan do'a seiring gerhana, justru meluapkan gembira dan bangga.
Hati ini memang sayu. Tenang dalam diam yang haru. Bibir ini memang jauh dari nafas-Nya. Mata ini memang jauh dari harapan-Nya. Tangan dan kaki ini masih begitu dosa. Sukar, sukar menyusuri jalan meluapkan rasa menuturkan sayang. Kasih yang berlimpah hanya sekedar ungkapan kebisuan. Alangkah kerasnya hati. Di saat harus banyaktangis dan doa yang teriring, masih ada kegembiraan yang terluap. Mengapakah sukar menyusuri jalan ini, sekadar tunduk sebentar?
MUNGKIN, ada yang hilang. Ada yang merona dalam kegelapan. Ada yang bersuara dalam diam, tak berkata. Tiada lagi artinya pengucapan, jika nafas benar terhenti, mata benar terpejam, telinga benar menajamkan panggilan, dan ruh bersiap kembali ke pangkuan. Tidak ada lagi yang manis. Hanya berharap, seketika dosa diampuni, tidak terlupa membaca dan mengingat bunyi syahadat. Tidak mudah melepas manisnya dunia. Terlalu sering jiwa ini nafikkanNya.
Sendiri hingga hujung. Namun, Dia masih membersamai. Di sini, hakikat cinta terucap. Sajadah tergelar: Bersama, tuaikan sunnah kekasih-Nya... .
tik tuk tak
berdentang di sudut kotamu
bawa rindu. serak
sulur almanak riwayatkan lembar usia
pada segala kemungkinan tentang bahagia.
bawa rindu. serak
sulur almanak riwayatkan lembar usia
pada segala kemungkinan tentang bahagia.
dy a. said
Kendari, 9 Maret 2016 | 8:35 am
Komentar