4: 148

Ada masa ketika duduk lebih baik daripada berdiri; masa ketika meluruskan justru dianggap mendukung kebathilan.

    "Ka, senyumpi sedikit!"
    Perkataan seperti itu kerapkali terucap dari mereka hampir 2 bulan terakhir. Bukan hanya perkataan melainkan pula tatapan yang tidak dimengerti. Anggapan bahwa telah banyak perubahan membikin jantung ini berdegup tidak karuan dan seolah nanar untuk kembali menatap, menggenggam, dan duduk di samping mereka. Entah siapa yang tidak ingin diusik, saya masih gagal paham terhadap itu semua.

    Api yang kecil dapat dipadamkan dengan tiupan kita. Tetapi ketika api membesar, atau bara begitu memerah, meniup justru mengobarkannya. 

     Jangan menyulut api jika tidak ingin terbakar. Api yang dahulu sebagai penghangat, terkadang digunakan untuk meredam rasa sakit tidak lagi dapat berterima oleh keadaan. Tidak lagi berwarna biru atau hijau melainkan merah saga. Lambat laun amukannya berubah. Ini bukan perihal aku dan kamu, tetapi perihal hati. Sebaik baik pengendali api adalah seseorang yang dapat mengendalikan hati. Sebaikbaik wajah seseorang adalah hati yang bening.

 Adakalanya justru karena memahami kebenaran itulah seseorang harus menahan diri dari menegur keras agar kerusakan tidak meluas. 

    Dengan memahami hati, mengenal, lebih enak jika kita bersepakat untuk menyebutnya: belajar, mengenal, memahami. Dengan bijak, kita bersama belajar untu memahami kebenaran. Misal: seorang dengan tampang begitu diam duduk berteman buku. Tiada raut gelisah, sedih, murung, dan terkecuali masam yang nampak. Entah buku apa yang dibacanya, akan sulit bagi seseorang untuk mengenali apa yang tengah dilakunya selain membaca buku. Hal tersebut menjadi alibi seseorang untuk mengatakan bahwa dia judes, ya... atau dia kok gitu amat, ya?

    Sungguh, ini perkara biasa. Sedari jauh kita telah melihat kumbang yang amat menggelikan tengah mengitari kembang. Namun, kita tak tahu apakah kumbang tersebut benarbenar ingin melakukan penyerbukan atau sekedar menjadi pengamat. Kumbang tak  sembarang memilih bunga untuk diambil saripatinya. Seperti manusia, seharusnya manusia tak seperti itu. Tak cepat menilai orang hanya dengan melihat apa yang tampak.

Beberapa hal pergi tak kembali. Namun fajar tidak. Dia memberi harapan, membiarkan doa pergi, dan kembali membawa kebahagiaan. 

     Keputusan dalam hal penilaian tak jauh berbeda dengan fajar. Jiwajiwa tetentu sibuk membicarakan A dan B atau B, C, D, dan E tetapi perkataan itu akan kembali. Entah menimpa diri sendiri atau orang lain. Yang pergi dan tak kembali hanyalah amal. Dia tetap berdiam di tempatnya sampai waktunya tiba dan tak ada yang berani membantah kebenaran yang akan diungkap. Perkataan dapat berupa harapan, doa, dan sederhana: NASIB. Masih ada yang menggantungkan dirinya terhadap perkataan dan penilaian. Saya sepakat dengan Don't judge the people by the cover. Tidak semua yang nampak terlihat baik dan tidak semua yang baik akan nampak.

 “Allah tidak menyukai ucapan buruk dengan terus terang, kecuali orang yang dizalimi.
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. 4: 148)

   Bijaklah dalam bersikap. Tidak ada salahnya menilai tetapi jangan terlarut dalam sebuah penilaian. Sikap manusia tidaklah konstan. Ada perubahan di tiap jeda waktunya. Kita menilai, kita mendoakan, kita membantu. Kita bukanlah hakim atas setiap kebenaran dan kesalahan. Bukan penilaian mutlak yang diberikan melainkan do'a. Dengan perkataan yang baik, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui. 

    Ada saat kita harus menahan diri sejenak
memeriksa kembali
apakah yang kita lakukan sungguh-sungguh
termasuk dakwah dan amru bil ma'ruf. 

   So, kembali rapatkan barisan. Berdiri tegar sendiri tidaklah lebih baik dibanding berada dalam barisan yang rapat. Lingkaran yang tak kosong, yang jika diitari bersama maka akan membentuk satu kesatuan. Semakin banyak, semakin rapat maka epicentrum akan semakin kuat. Kita akan menarik dengan kekuatan bersama, bukan samasama menarik. We're kuntum khaira ummah.

   Tiada keutamaan yg lbh besar melebihi jihad
dan tiada jihad yg lebih utama dari jihad melawan hawa nafsu


dy a. said
Kendari, 5 Maret 2016 | 9:24 am 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a