Before the Rain
"Biar hujan menghapus jejakmu..."
Kawan di sebelah benar asyik menikmati kawanan lagu band yang pernah ngetop dan digandrungi kaula muda ini. Yang melepaskan segalanya melalui hujan, sebab engkau bukan siapasiapa, dan yang berlalu biar berlalu. Semudah itukah hidup?
Temanteman di sejarah pasti akan protes dan tak menerima hal ini dengan mudah. "Kita" hidup dengan berdasar pada jas merah. Jangan sekalikali melupakan sejarah. Dan, baiklah karena tak akan melupakan sejarah itulah kita akan sulit jika tak mengucap maaf.
Maaf serupa kata yang begitu gamblang dan tak lagi kuno. Tak hanya kalangan bawah yang menerus mengucap maaf tetapi kalangan atas pun. Salahkah? Tidak. Semua benarbenar seperti hujan. Saya menganalogikan bahwa hujan dengan bebasnya dapat turun tanpa ada pergesekan tertentu. Ini tidak rasional tetapi dia nyata. Kehadirannya dapat menciptakan cinta. Misal, (1) dengan hujan, seorang penulis, penyair, dan penyanyi dapat menciptakan suatu hal yang baru, (2) mulai gagasan memberantas pengangguran dengan adanya ojek payung, (3) penjual jas hujan laris manis jualannya, (4) beberapa sekolah dengan terpaksa harus meliburkan diri, (5) anakanak gembira sebab sebentar mereka akan bebas berguyuran curah hujan, (6) ibu-ibu sibuk mengoceh dengan cucian sepekan yang tak kunjung kering, (7) bapakbapak semakin adem menikmati kopi kental beserta cemilan khas, (8) seorang anak bertemu dg anak lainnya, saling meminjam payung, saling kenalan, lalu jatuh cinta, dan (9) sang abdi negeri semakin muak dengan adanya kasus ini itu di sana sini.
Biar hujan menghapus jejakmu. Lepaskan segalanya.
Allahumma shayyiban nafii'an.
Hujan adalah berkah. Hujan tak begitu saja menghapus jejak. Biar hujan datang menghapus jejak lantas kita merasa senang? Hujan datang pembawa anugerah? Sepakat? Jika tidak, tidak mengapa. Hanya saja, ingin kuberitahu. Tidak ada cara bagi penduduk langit membalas pinta peduduk bumi. Salah satunya, simbiosis mutuliassme yakni dengan menurunkan hujan. Mengapa? Menikmati pelangi (rainbow), menikmati kehangatan keluarga, menikmati rintik, dan menikmati betapa DIA tak pernah tidur untuk mengingatkan. Betapa banyak ujian yang akan datang setelah hujan. Baik berupa disertai petir, guntur, kilat, atau sambaran peristiwa alam lainnya.
Maka, dari itu yang hidup menjadi mati, yang mati menjadi hidup. dan, begitulah cara-Nya membangkitkan. Kun-fayakun.
Masih ada negeri yang tak terberi hujan. Dengan adanya hujan teriring doa bagi mereka. Masihkah, masih semoga kita tetap berwelas asih membagi rantai harapan. Seribu rintik hujan hingga bermilyar rintik yang jatuh tak ada apanya dibanding sebutir peluru yang merenggut nyawa.
Jujur, saya tidak ingin melihat darah. Saya tidak menyukainya. Dan, itulah mengapa DIA memberikan saya jalan ini.
Hujan berkepanjangan dapat memberikan kenyamanan tanpa gelisah. Hanya tik tik tik di atas genting. Sementara perang berkepanjangan dapat memberikan kehancuran akibat nanar yang menggores semua sendi kehidupan.
dy a. said
Kendari, 23 Maret 2016 | 10:35pm
#PrayForHumanity #SaveHumanity
Komentar