luruh
Kita sedang dalam perasaan tidak merayakan apapun. Hanya ingin jumpa, menatap, dan mendengar tentang apapun yang belum sempat atau bahkan berulang kali kudengar. Lalu di suatu malam Februari yang tidak pernah terduga, kubaca pesan yang membuat hati berdegup. Kencang. Tidak karuan, seperti halnya ketika burung terbang yang kutumpangi melintas di antara gumpalan awan.
Sejak itu semua yang kupersiapkan terlupa. Abu seperti halnya awan saat akan hujan.
Di Bandar Udara, tanpa berpikir panjang kukatakan apa yang membuncah melalui sambungan udara padamu, kecuali rindu. Jujur saja, sungkan rasanya untuk berbicara serius perihal itu. Aku takut genangan air akan memenuhi lesungku yang tak begitu dalam.
Sekelilingku sibuk dengan ponselnya. Aku berkaca di ponselku juga, menatap manik yang tak lagi seperti dulu. Barangkali dia tahu, aku ingin mengatakan apa yang tak pernah terucap. Dalam kesenjangan, tibatiba dikatakannya. Kujawab saja, "Iya," dengan terbata. "Saya juga, ..." begitu ucapnya.
Tak lama, petugas Bandara memanggil para penumpang. Aku bersiap, menyudahi percakapan dengan leher yang tercekat.
Sepanjang 820 km di ketinggian 30K kaki menjadi semu. Tidak ada lagi cerita saling tatap di awal tahun. Kita akan berkabar melalui telepon.
Maafkan hubungan yang kian meranggas. Meskipun jarak mengiris segala, kita tak akan mengandaskan rasa.
___
Rumah (tanpamu), 12 Februari 2020



Komentar