18 Februari



SATU

Di satu dan lainnya, tangis adalah ungkapan rasa berbentuk dan ber-rasa. Di antara sekian alasan, cinta-lah yang menjadi hal utama. Untuk apa kamu nangis? Untuk cinta. Jika bukan karena cinta, maka tak akan ada tangis. Benarkah begitu?

Saya pernah bertemu seorang. Dua orang. Lebih dari itu. Sesedih apapun, ia tak akan menangis. Sederhana: "Kalian tak perlu melihatku cengeng. Cukup aku sendiri," begitu katanya.

Kemudian, di lain waktu Allah sempatkan saya bertemu dengan banyak orang yang mudah mengeluarkan tangis. Karena apa? Entah, tetiba saja karena berbagai alasan.

Di waktu yang lain, tangisan terjadi karena ke-ter-kejut-an. Tetiba hujan deras di pelupuk mata. Kaget akan hal tersebut.

Juga, tangistangis perihal bahagia. Semisal tentang pertemuan. 

Definisi tangis selain ungkapan rasa berasa belumlah jelas. Antara kita, bahkan belum menyepakati apa itu tangis. Bdw, emng km prnh nngs?




DUA

Cinta: antara yang dipertemukan di sepertiga malam atau lebih sepertiga usia. Dmn km mnmptkn cntm? 

Di waktu lalu saat sedang duduk melingkar, seseorang berpesan tentang cinta dan hati. Katanya, "Dik, tak perlu menempatkan cinta di hati. Dia mudah berubah. Sekarang A, ntar B. Jangan di hati, cukup dalam doa kamu ucapkan cintamu. Sebab doa padaNya, Sang Maha Pembolak-balik hati, lebih dari segala hati."

Kami saling melihat, tersenyum. Mengejek dan menertawai diri. Benar juga, haha. 

Doa akan selalu kembali pada pemilik hati, Yang Haq. Sedang hatiku, yang hanya milikku hakikatnya adalah milik-Nya sehingga gak ada alasan untuk mengatakan, "Percaya sama hati kamu, itulah jawabannya." Yakin ga ngelibatin Sang Pemilik? akumahapaatuh




TIGA

Mimpi. Dua belas titik lima dua, memasuki Sembilanbelas Februari. Hujan mengetuk genteng. Ribut katakodok tidak ada. Pancuran air di kolam ikan sebelah menambah riuh. Barangkali kawanku tengah terlelap, bertemu mimpinya.

Jika tangis dan cinta dapat dibagi, apakah mimpi dapat dibagi? Memberikan separuh pada lainnya. Bisakah? Siapa tahu, ketika telah dibagi, dia akan menetas meskipun bukan denganmu. Setidaknya, kamu akan terus berusaha, bukan?




EMPAT

Cerita. Pada akhirnya, kita akan terus bercerita. Tanpa mengenal waktu agar tetap saling mengenal. Tentang hari ini, semua berjalan baik termasuk ke-absurd-an di dalamnya. 

Misal,
"Ibuk setelah liburan makin cantik deh."
"Mau nilai berapa kamu?"

"Ibu cantik, hari ini semakin cantik."
"Kalau Ibuk ganteng, itu masalah besar, Nak."

"Ibu pake skincare apa?"
"Mahal, napa emang?"
"Mau beli. Apa, Buk?"
"Air wudhu. Jaga sholat."

"Ibu make-up-nya merk apa?"
"Apa aja, asal ga buat wajah jerawatan."

"Ibu, kapan?"
"Besok ulangan." 😄

"Ibu, janji tidak ulangi lagi."
"Berhentilah berjanji kalo ga bisa ditepatin."


_______
Indonesia, 19 Feb 2020
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a