Sisakan Ruang (Sedikit untuk Kecewa)

“Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah”

-Izzatul Islam-

 

Sekitar 2014 saya pernah mengatakan, “Saya bersyukur dipertemukan dengan A. Orangnya baik, ramah, dan…” sederet kebaikan yang nampak padanya saya sebutkan secara gamblang pada B. B tersenyum menanggapi dan di akhir pertemuan, dia mengatakan, “Dik, sisakan satu ruang dihatimu untuk menaruh kekecewaan yang akan kamu dapatkan di masa depan.”

 

Sepanjang perjalanan dari Kampus Baru UHO-Kota Lama saya berpikir tentang maksud dari kata tersebut. Saya paham tetapi menuntut ingin diberi penjelasan. Seperti mengenyampingkan bahwa manusia-manusia langit tidak mungkin akan mengecewakan. Saya percaya itu.

 

Membaca tulisan Afifah Afra, mengingatkan saya pada nasihat tersebut. Terkadang, kita merasa telah dekat dengan seseorang dan mempercayainya. Namun, pada kenyataannya kita tidak mengetahui “Dia siapa? Siapa dia?” yang sebenarnya. Kita merasa akrab di media (nyata dan maya): saling sapa, mengomentari status, bertemu sesaat, juga tertawa bersama, bahkan membawakannya beberapa cerita penting dengan membuang waspada.

 

“Kan dia orang baik”. Label baik begitu mudah didapatkan. Status yang indah, bijaksana, postingan foto kegiatan yang mengundang “wah”, komentar yang membuka wawasan, serta profesionalisme yang memupus keraguan.

 

              Emotional intelligence/noun

The capacity to be aware of, control, and express one’s emotions, and to handle interpersonal relationships judiciously and empathetically.

 

Setiap manusia pasti pernah mengalami kekecewaan. Barangkali perbedaannya pada kadar kecewa.

 

Lantas, bagaimana cara agar mengenal seseorang?

Kemudian, apakah kita mengenal seseorang dengan baik?

 

Menurut Umar bin Khattab, ada tiga kriteria yang paling tidak dimiliki untuk mendeteksi hal tersebut.

1.       Apakah Anda pernah melakukan safar (perjalanan) dengannya? Safar dalam artian beberapa hari. Saat safar, dalam kelelahan dan segala crowded yang ada, akan merontokkan topeng pencitraan. Jika dalam safar ternyata dia masih bisa menampakkan kesabaran, kelembutan hati, sifat amanah, dan sebagainya, mungkin itu memang sifat aslinya.

2.       Apakah Anda pernah melakukan muamalah dengannya, khususnya muamalah uang dalam hal berbisnis? Apakah dia bisa dipercaya dan memberikan hak dan kewajibannya dengan baik? Apakah dia jujur dalam pengelolaannya? Jika iya, satu poin positif sudah Anda kantongi.

3.       Apakah Anda pernah memberikannya amanah tertentu? Apakah dia cukup amanah dengan melakukan apa yang Anda titipkan kepadanya? Atau dia justru menyia-nyiakannya, menganggap sepele amanah dari Anda?

 

Jika ketiga hal tersebut belum pernah Anda lakukan, jangan pernah menyebut bahwa Anda mengenalnya. Namun, jika dia teruji dalam ketiga hal tersebut, bolehlah kita mencoba menaruh kepercayaan, tetapi jangan utuh.

 

Lalu, apa obat kecewa? Adakah? Tiap diri memiliki cara tersendiri untuk menyikapi kekecewaan. Ada yang mampu mengendalikan diri dan ada yang terpuruk. Ada yang cukup dengan sekadar “MAAF”, juga sebaliknya “tak cukup dengan sekadar MAAF”. Bahkan, ada ungkapan “memaafkan iya, melupakan tidak”. Maka, Nabi SAW., berpesan “memaafkan itu jihad karena lebih berat daripada meminta maaf”.

 

Beberapa tips berikut dapat dicoba untuk menanggulangi kekecewaan.

1.       Berhenti bersandar pada selain Allah subhanahu wata’alaa. Kekecewaan disebabkan karena kita bersandar pada makhluk, kita berharap, dan harapan tersebut tak tercapai. (QS. AL-IKHLAS: 2)

2.       Introspeksi diri. Banyak yang merasa kecewa lantas mencari kambing hitam untuk melampiaskan. Kekecewaan yang hadir sebenarnya dapat dijadikan untuk menginstrospeksi diri sendiri: Apa yang membuat saya merasa sangat kecewa? Apa yang perlu dilakukan untuk mereduksi kecewa tersebut?

3.       Mengalihkan perhatian pada hal yang penting. Menjadi lebih bermanfaat dan produktif dibanding sebelumnya.

4.       Menerima apa yang terjadi. Apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk untuk kita. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah SWT.

5.       IKHLAS. Ambil sisi positif dari kecewa tersebut. Mengapa? Agar tak terulang kesalahan yang sama.

 

“Berdoa kepadaku”

 

Balik lagi, itulah manusia yang memiliki rasa takjub akan kebesaran Sang Pencipta; memuja dan memuji. Kebaikan bisa dicitrakan, status bisa diupayakan. Sisakan sepertiga rasa tidak percaya. SEBAB sehebat-hebatnya dia, dia hanyalah seorang manusia yang mempunyai sisi lemah. Jika 100% perasaan percaya kita berikan, kita akan begitu down jika ternyata dia tak sekeren yang kita kira.

 

“Jangan pernah mengharapkan banyak dari orang lain, tapi siapkan ruang di hati kita untuk kecewa.”

-QURAISH SYIHAB-

 

Ikhlas untuk memaafkan butuh proses. Sabar menghadapi adalah paksaan. Selamat mengelola emosi.

 

Sumber:

Tim Wesfix. 2016. Emosional Intelligence Itu “Dipraktekin”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Web Afifah Afra

---------------------------------------------------

Matahari terbit, Juli 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a