Murabbiyahku Jago Masak... ^^

in Frame. Kajian Kemuslimahan: 14 Maret 2014 bersama Ummu Izzat


"Kak!"
Begitu kami memanggilnya. Terkadang, di saat kami sadar, kami memanggilnya 'Umi'. Mendekati Tiga lebaran kini kebersamaan kami. Belum lama, tetapi cukup bahkan lebih dari cukup untuk membuat kami merasa bersalah, merasa bersahabat, merasa senang, sedih, kehilangan, rasa memiliki, dan rasa-rasa lainnya. 

al-Qalam, itu nama 'geng' kami. Berharap kami dari memberi kebermanfaatan. Karena kami berada di lingkungan al-Qalam. Entah mengapa bukan az-Zahra, raudhatul jannah, atau nama ummul mukminin. Tidak terasa, waktu membuat semua berlalu begitu saja. Seakan-akan al-Mulk masih terlafazh di tiap pekan. Ada yang masih berputar di an-Naba, al-Ghasyiyah, atau mengacak hafalan. Suara kanak menghiasi tiap temu kami. Kokok ayam. Yang paling dirindukan adalah tawa umi.

***

Sore tadi, menyambung percakapan teman seperlaga, berdua kami bahas apa yang akan kami hidangkan sebagai menu sederhana dalam rangka wujud syukur atas graduated yang baru saja tersemat di akhir nama kami. Setahun terakhir adalah masa mendramatisir  bagi kami berdua dan nyaris seluruh teman seperlaga. Meskipun berbeda tahun angkatan, tetapi mayoritas 2013 dalam laga harus menanggung akibat dengan duet bersama si dedek 2014.

Alhasil, berujung di sebuah percakapan menggelitik:
N : "Ikan yang dimasak dengan belimbing, Ukh."
.
D : "Seingatku bandeng presto, Ukh. yang diidamkan."
.
N : "Anti pintar memasak kah?"
.
D : "Goreng telur. Haha. Saya tidak berani masakkan umi, e... Berat."
.
N : "Iya, saya juga tidak berani soalnya umi pintar masak. Nanti ditertawai masakannya kita."
.
"Jadi gimana?"
.
"Menurutnya anti?
.
asdfghjkiutreclbkgdzzaaafghjkiutreclbkgdzzaaa fghjkiutreclbkgdzzaaa 
.
Kita ke rumahnya umi pale, Ukh."
.
"Saya lagi tahsin, Ukh."


Okay. wkwkwk. Sebenarnya percakapannya ga perlu diimajinasiin seperti itu. Hanya saja, saya ingin menjaga ingatan jika kelak saya  rindu dan sepintas ingatan ini muncul, maka  saya perlu untuk kembali membaca tulisan ini. ^^

Umiku--umi kami--memang pintar memasak. Jago. Karena hal tersebut, sampai saat menuliskan ini belum ada ide yang terlintas, menu apa nantinya. Hakikatnya, tidak butuh menu ala resto mewah nan mahal  yang dapat merogoh kocek. Asal semua dari hati dan sajian halal nan thoyyib, pasti akan nikmat.

Umi kami  kerap membuat  berbagai penganan. Mulai dari snack mini sejenis putu ayu, bakwan, pizza, bolu, hingga makanan berat, termasuk es lilin. Nah loh? Es lilinya enak... hehehe

Umi tak sungkan mengaduk bumbu yang digunakannya ketika memasak. Ada kalanya orang merahasiakan bumbu tertentu, tetapi umi tidak. Saya jadi teringat ibu. Jadi kangen masakan ibu! 

Umi--yang akrab kami sapa kak--tipikal mujahidah yang memberi inspirasi. Semua orang adalah inspirasi. Dan, kita akan mengambil teguk demi teguk kebaikan dari orang yang kita temui tanpa terkecuali. Sebab pada mereka ada ibroh yang sekecil apapun dapat menjadi pembelajaran luar biasa bagi kita yang bersyukur.
Termasuk dari umi: Mungkin karena  sebelumnya 'yah' saya adalah seorang single-Lillah, jadi perlakuannya beda. Sebelumnya kami bertemu di kampus, tetapi sejak perpindahan dimensi itu, semua berubah. Kami lebih sering bertemu di rumah, di sekolah, atau bahkan di sebuah ruang kecil dimana sering terselenggara syuro, kerja-kerja dakwah, keringat, tangis, dan lain-lain. Seluruh kinerja pemenangan terekam di ruang tersebut.

Kami harus menikmati seluruhnya. 

Allah SWT., berfirman dalam Qur'annya:
.........
"
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
"

Semua adalah rangkaian proses. Kita tak melulu harus bersama seorang. Kita perlu hidup di lingkungan heterogen. Sama halnya dengan masakan. Awalnya, masakan sejenis Coto Makassar yang hanya disajikan untuk kalangan bangsawan Kerajaan Gowa, kini hampir dapat ditemui di seluruh Indonesia. Semua dapat mencicipi kuliner ini. Coto makassar yang dahulu milik bangsawan, kini menjadi ikon kota. Tak afdhol rasanya ke Makassar jika tak langsung mencicipinya. Sama dengan berinteraksi. Tidak ada larangan untuk membatasi. Silakan berbaur dengan siapa saja (dengan catatan taat dan patuh pada adab).

Kembali ke topik, hehe.
Dari umi, sang murabbiyah--tentu selain ibu biologis--kami belajar bahwa salah satu keterampilan yang perlu ketika memasuki fase tak lagi sendiri adalah memasak. Bagaimana kita menjaga agar suasana tetap hangat, menjaga agar rindu tetap menggiring hati menuju rumah, menuntun rasa bahwa cita rasa keluarga adalah yang terbaik.

Maka, belajar masak adalah jawaban atas permasalahan sebagian kami. Jujur, ketika memikirkan menu Selasa nanti, ada rasa malu, takut, deg-degan, dan senang. Malu menyajikan, takut rasanya ga sesuai ekspektasi, deg-degan, dan senang bisa menyajikan sesuatu untuk dinikmati bersama. Bukankah bersama lebih baik dibanding sendiri? 'hai, jombs... #ditimpuk 
Memasak memang proses yang ribet. Namun, kita diajarkan untuk bersabar, bukan? Bahwa sabar tiada batas. Bagaimana saya melihat umi yang dengan tergesa-gesa sepulang sekolah, menyempatkan diri mengurus rumah, kemudian ke pasar demi membeli  bahan baku yang dapat diolah agar dapat kami konsumsi bersama, lalu menyajikannya agar dapat kami nikmati, berbagi ilmu, mengemong adik kecil--si tamvan dalam lingkaran mini al-Qalam; hai, ahmadun--setelah itu  mengurus lainnya. Kami telah menyita lebih dari dua jam waktunya. Terkadang ashar hingga isya. Terkadang menjelang maghrib sampai isya. Maafkan kami, Umi.

Umi yang selalu mengingatkan kami di tiap pekan tentang ini itu. Pesan tersirat dari aksi-aksi mini cukup jelas. Berlaku ramah terhadap tamu, adab menuntut ilmu, adab pergaulan, sikap, dan lain-lain. Ketika berumah tangga kelak, kalian akan merasa bagaimana mengemong; mengurus diri, anak, suami, rumah; termasuk pilihan berkarir atau meninggalkan karir. Kisah-kisah dari setengah menjadi genap pun turut menyertai tiap pekannya. Bahwa jodoh adalah suratan ilahi. Mau sesuai atau tidak dengan kriteria yang telah kamu tulis, jika dia jodohmu maka kun fayakun. Jadilah, mahligai yang mengarungi bahtera bersama. Permasalahan pasti ada. Ga usah banyakan milih mau kriteria ini itu. Tapi kan umi, sudah, ga usah tapi-tapi. Jodohmu, gambaran dirimu. Setelah  itu saya merenung, untung saya dulu gak jadi... #eh
Nah, dari yang jago masak boleh jadi jago yang lain. Apalagi, al ummu madrasatul 'ulaa jadi penting banget untuk menjaga asupan gizi keluarga. tulisan mulai gak fokus, gaes... 

Kata Umi, masak yang sederhana. Ga perlu mewah. Saya suka belajar apa saja. Menu makanan Indo atau Barat. Indo bermain di rempah, sedang barat, nah itu susah-susah gampang. Bisnis ketring? Ayo (jangan lupa pesan di saya, ya; canda umi (beliau memang punya bisnis ketring kecil-kecilan dan terima snack, ayo di order)) Intinya, kalian akhwat itu harus bisa masak! Kalau gak, sudah! Dan, perlahan kami menggangguk seakan mengerti arti dari seruan itu.


"
Al-ummu madrosatul ula',
izaa 'adadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq
"
- pepatah arab -


Belajarlah dari hal kecil. Mulailah dari sayur-sayuran. Lalu, lauk. Tempe, ikan, telur, daging. Gak enak kan tiba masa tiba akal... tetiba lebaran qurban dapet daging, ga tahunya ga bisa masak? :D

Dari murabbiyah, yang tiap pekannya meluangkan waktu untuk kami; Syukran jazakillahu khairan katsiran. Semoga Allah membalas apa yang telah kk berikan untuk kami. Ilmu, waktu, tenaga, dan lain-lain. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hambaNya yang taat dan terus ber-thalabul 'ilm.

Kelak, jika diizinkan memiliki mutarabbiyah; kita akan belajar banyak hal. Belajar dari sekarang. Perlahan. Ga langsung sekali. Bijak.
Karakteristik tiap murabbiyah berbeda. Maka, nikmatilah. Entah besok dengan siapa lagi kita akan berguru. Guru spiritual yang sekufu', yang terkadang tidak kita cintai tetapi mereka mencintai kita. Yang tidak kita inginkan, tetapi Allah inginkan kita agar bersama dengannya.

Hari ini kita dipertemukan dengan sosok yang pandai memasak. Lusa, boleh jadi sebaliknya. Atau bahkan jauh dari angan. Siapapun dia nantinya, tetaplah bertahan dalam jama'ah ini. Kita kuat jika bersama. Sebagai padi, kita akan kian merunduk. Patuh dan ta'at pada murabbiyah adalah cinta. Bukan cinta semata-mata cinta, tetapi karena Allah. 


Bersungguhlah kamu dalam menuntut ilmu, 
jauhilah kemalasan dan kebosanan
 karena jika demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan.
- Abu Hamid al Ghazali -


 Alhamdulillah, murabbiyahku jago masak. Saya ga boleh ga bisa, harus bisa lebih, kan Umi? ^^
.
.
Kendari, 5 Mei 2018 || menjelang maghrib - 10.13 pm 
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a