kendari: tentang teman, sahabat, dan yang pernah ada (1)
![]() |
| sumber gambar. pinterest |
"Kak, kk punya berapa sahabat?"
"Sahabat? Kk punya banyak teman."
"Tuh kan, sudah kutebak. Kak Diah tidak punya sahabat."
"Tidak juga."
"Terus, coba sebut lima!"
...
Percakapan sekian tahun silam. Di sebuah ruang. Saat itu, bangunan segi empat berwarna hijau itu belum sebagus saat ini. Sejak 2016 atau 2017, bentuknya lebih indah. Semakin besar. Dan, kuharap jalinan persaudaraan lebih dari besarnya ruang tersebut.
Di waktu tertentu, saya sering terbawa arus. Memaksa hati kembali melogika-kan masa lalu. Atau, memaksa logika me-rasakan hati saat itu. Semua rasa menjadi satu. Seperti mendoan juga cake ultah tanpa lilinlilin kecil.
Maka, kali ini saya akan menuliskan tentang mereka yang terkadang menghantui hari-hari saya. Bukan berarti mereka menakutkan, melainkan ada arti tersendiri terhadap kehadiran mereka. Lainnya? Semua ada. Namun, porsinya berbeda. Bahkan, barangkali ada yang besar pengaruhnya tetapi terlupa. Tak ingin ter-publish.
Saya kerap memikirkan, jangan sampai ketika teman-teman membaca maka akan dibilang aiueo. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa ketika satu waktu tiba dimana ingatan saya semakin melemah dan saya tidak lagi dapat mengingat dengan baik, melalui tulisan ini (semoga blog belum dihapus) saya dapat mengenang. Untuk sesaat (dan wajah A kembali membayang).
Saya berpikir--kebanyakan mikir--, saya akan berhenti melakukan semua ini ketika kaki saya benar beranjak. Saya berharap seperti itu. Its mean, lembaran lalu tanpa masa lalu. Cukup sebagai bayangan.
.
Belakangan, saya mengetahui tiap orang nyaris memiliki satu pandangan tentang saya. Apa itu? Apa hayo... :D
Seorang ibu mematahkan argument itu. Di tengah percakapan, awal perkenalan kami beberapa hari lalu di Bau-bau, she said, "Wulan, temanmu ini lucu." Saya tidak mengerti. Saya dan Wulan berpandangan. Lalu, berlalu begitu saja. wkwkwk
Lima tahun berada di Kota ini, banyak kesan. Banyak pesan. Banyak suka. Banyak luka. Banyak duka. Saya meramunya jadi satu. Kenangan. Sebab, dari hal ini pembelajaran-pembelajaran banyak terambil.
a c a k
.
Kendari, 16 Mei 2018 | 2.50 pm
tetiba, siang tadi mendadak mello-w. tangan saya gatal ingin menulis. percakapan yang tak sengaja di mulai akibat stori wa, menghasilkan tulisan di bawah ini. Meskipun, lebih singkat lagi. Saya mendadak syedih :D dan syerius.
.
N., S.P.
- tetiba pengen nulis tentang-nya di stori wa -
Pernah se-geng di BP Mentoring 2015 (Beliau Ketua BP Faperta, saya Sekretaris BP Fkip); Koord. Salam UKKI (Beliau Co. Acara, saya Co. Pubdekdok); teman 'halohalu' di 2016; se-Komisi sejak 2017 lalu; dan seLingkaran sejak puluhan bulan silam. Qadarullah, wisuda bareng, nama juga dipanggil barengan (padahal no. urut kami berbeda. Dia puluhan part A, saya 118 B).
Saya lupa, dimana saya dan dia ketika 2013-2014. Pertengahan 2015 memang menjadi pertemuan rutin kami sebab disibukkan oleh penerimaan mahasiswa baru. Tim kami harus bergerak merangkul para tamu di kampus hijau. Setelah itu, hubungan kami berjalan biasa. Layaknya, bersama akhwat lainnya.
Ketika 2016, saya memang tidak berkesempatan lebih mengenal. Saya harus fokus di ranah lain, yang sebelumnya jarang saya jamah. Kami jelas berpisah. Sedikit kaget saat itu mendengar bahwa 'dia lagilagi' mendapatkan sesuatu yang jauh dari tebakan kami. But, seperti itulah amanah. Percaya saja, dimana kamu ditempatkan itulah kepercayaan yang diberi. Ditunaikan.
Saat bersapa di tahun itu, dengan senyum dan tawa khasnya dia masih dapat melakukannya ketika kutanya, "Anti dimanami ukh?". Saya percaya, dia bisa. Di tahun itu pula, saya 'agak sedikit' dekat dengannya. Se-pemikiran, beda karakter pemikir dan pengeksekusi membuat kami nyaman, masalah internal, dan masih banyak lagi hal yang membuat 'saya nyaman dengan dia' (entah dia nyaman dengan saya atau tidak, ckckck).
Sejak itu, sejak percakapan tengah malam kami yang sedikit mainstream, saya sadar ada hati yang harus dijaga agar tak saling melukai. Ada amanah yang harus diselesaikan agar letih di jalan dakwah menjadi lillah bukan lellah.
Kami akrab dengan begitu saja. Seperti itu.
Kemudian, di 2017, ketika saya berharap akan dihilangkan serta menghilangkan diri dari petakan waktu yang lain, saya tidak dapat menghindari itu. Sebanyak apapun alasan yang saya beri, saya tidak dapat mengelak.
Lalu, muncul nama-nama. Satu diantaranya adalah dia. Jujur (lagi--hehe--), saya berpikir untuk tidak mempertahankannya. Menerbitkan namanya untuk membersamai pun tidak, karena saat itu saya benarbenar mencari yang sesuai dengan patokan yang telah saya buat. Saya bahkan berpikir, dia akan berada di ruang kerja sebelah. Tebakanku salah, wkwkwk. Kaget kala itu, gsjoavkfjeawpawkfgkr.
Atas beberapa pertimbangan, bukan karena kedekatan kami (saya gak suka menempatkan sesuatu berdasarkan kedekatan, hiks hiks sebab itu tentu akan mengalahkan kualitas--its so pity--), jadilah kami setim. Sebelumnya, kami di satukan di sebuah lingkaran kecil.
Perjalanan dakwahnya, memiliki banyak warna. Di malam beberapa pekan lalu, saya berkesempatan bersama dengannya. Hingga nyaris pukul Tiga dini hari, mata kami belum terpejam. Percakapanpercakapan saat itu mengalir begitu saja.
Darinya, saya belajar banyak hal. Tanya 'mengapa' memang membosankan, menyebalkan, tetapi itulah yang menguatkan. Saya tidak tahu jika saya yang berada di posisinya, akan seperti apa. Kami pernah kufur, futur, dan nyaris melenggang keluar arena. Namun, amanah dan lingkaran itu begitu erat. Tak dapat diterobos. Kami pernah menangis bersama ketika forum sedang berlangsung atas permasalahan yang kami hadapi.
Namun, lagilagi hal itu yang menguatkan kami. Sejauh apapun kita mencoba untuk berlari, tetapi amanah adalah jodoh bagi sang pemilik. Jodoh yang datang sebagaimana kita menjemputnya. Berkah tidaknya, tergantung pemilik. Maka, kuatkanlah hati atas ketetapanNya.
Dia yang terbaik. Sekalipun dia tidak pernah menerima trophy yang terbaik, tetapi dia yang terbaik. Tangguh dengan perjalanan dakwah yang penuh warna. Semoga dikuatkanNya pundak anti atas amanah dakwah juga ditautkan hati kita di jalanNya. Kelak, atas doa-doa yang kita panjatkan, itulah sedikit manisan yang menyelamatkan kita dari murkaNya.
Satu yang saya ingat pasti, bahkan seorang kakak yang saat itu adalah Ketua Departemen kami mengatakan, "Ternyata Dala itu Nurmalasari." atau redaksi lain, "Oh, Nurmalasari itu anti, Ukh?"
Tanpa bermaksud apapun: Saat akan beranjak, berpisah memang menyisakan kenangan.
Uhibbukifillah, Ukhti.
Diah Anindiah Said, ^^
.
.
.
## Aku tak pandai ##
aku tak pandai menulis, aku hanya ingin nulis terimakasih
aku tak pandai bersyair, aku hanya ingin berkata ana uhibbukifillah
aku tak pandai merangkai kata, aku hanya ingin mengatakan, aku sangat rindu masa2 itu
ini semua bukan sebuah kebetulan, tetapi Allah sudah mengaturnya.
Dan pada akhir, buliran air bening pun mendarat di pipi
Nurmalasari, 8: 41 pm
.
.
.
Ke depannya, dengan tersematnya sebuah amanah baru, kami harus pulang. Kami harus pergi. Pulang mengabdi, mengamalkan pengetahuan. Pergi, bertolak untuk menggagas ide demi sebuah perubahan. Tidak hanya sebuah melainkan lebih dari itu.
"Kalian; berdua pergi. Suasana seperti ini. Harusnya ada yang bersedih kehilangan dua orang ini. Harusnya kita sedih."
Tanpa bermaksud ujub, semoga Allah melindungi hati dari prasangka membanggakan diri sendiri. Saya ga ngerti, kenapa si kakak bilang begitu. Yang akan kehilangan dan paling terasa tentu adalah lingkaran kami. Namun, hal itu akan segera reda. Tidak berlarut. Lingkaran itu akan kembali membesar. Juga, untuk skup yang lebih besar, segala hal yang pergi akan tergantikan. Tentu dengan sesuatu yang baru dan lebih baik lagi. Maka, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Semua akan baik-baik saja.
Meskipun saya paham, keadaan kami memang sedang tidak stabil di samping kedekatan internal angkatan kami yang kurang solid. Sekat-sekat begitu terasa dan semakin menajam.
The last...
Kami sadar sepenuhnya akan konsekuensi yang kami buat. Itulah payahnya sebuah keputusan. Akan ada penyesalan, akan ada kerinduan. Sejatinya, tak perlu ada rindu pada sesuatu yang akan pergi. Tak perlu ada harapan utuk sesuatu yang akan datang.
Maka apabila kamu telah
selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain.
QS. asy-Syahr (94): 7
------------------------
Kendari, 16 Mei 2018 | 11:23 pm
diah a. said -seorang pembelajar

Komentar