gelombang pendek di atmosfer
"
Berhentilah untuk terus terlihat kuat, Nak.
Tersandung itu sakit, kamu bangkit tetapi tak usah
menahan beningnya kaca di coklat matamu.
"
![]() |
| di mula September, 2016 |
Langit tak perlu selalu biru. Sebab putihnya awan terkadang usil meng-combine-kan warna. Gumpalan awan akan terus menyatukan uap air yang nantinya semakin pekat menjadi rintik. Kita bersepakat menyebutnya hujan.
Hujan tidak melulu menjadi perantara makhluk bumi dan langit. Namun, hujan kadang mengalir, menderas begitu saja membelah pipi. Terkadang, sebagai makhluk hidup yang cengeng, saya atau bahkan lainnya (gak mau sendiri ^^), tetiba merintikkan air mata begitu deras. Ada kalanya akibat drama kehidupan, permasalahan pribadi, kehidupan sosial, atau hal lain yang tidak ditahu musababnya termasuk menonton film.
Hujan selalu bersanding mesra dengan pelangi. Tujuh spektrum warna dengan keindahan yang memukau. Entah dongeng tujuh bidadari dari kahyangan yang turun mandi ke bumi siapa yang memulainya, tetapi dongeng tersebut seperti nyata. Saya lupa curuk apa yang berada di barat Jawa. Semasa kecil, pernah membaca artikel tentang curuk tersebut. Meskipun bercita-cita ingin mengunjungi permandian tersebut, hingga beberapa kali ke sana belum pernah terwujud. wkwkkw
Perihal hujan, pelangi, dan matahari...
Langit apapun adanya, tetaplah sebagai tempat bernaung yang baik. Yang menghalau radiasi matahari, yang memberi ketenangan. Langit sebagai ruang yang teramat luas, terbentang di atas bumi. Tentang langit, ada pepatah mengatakan, "dimana tanah di pijak, di situ langit di junjung."
Seiring dengan rotasi, langit akan menggubah warna dengan sendirinya. Sebab sejatinya langit tidak berwarna. Langit menampakkan warna ketika terjadi
pembiasan cahaya matahari melalui atmosfer. Di dalam atmosfer terkandung
sederet gas, partikel debu dan butiran air. Partikel-partikel tersebut
menyebarkan cahaya paling banyak pada panjang gelombang pendek (biru dan
ungu) ketimbang panjang gelombang besar (merah).
Kendati ungu memiliki gelombang yang lebih pendek ketimbang biru,
tetapi langit lebih banyak menampakkan biru. Fenomena ini disebabkan
matahari lebih banyak memiliki warna biru daripada ungu yang dihamburkan
molekul nitrogen dan oksien.
Begitu pula ketika sore langit berwarna jingga atau kemerahan karena
telah kehilangan cahaya biru. Warna tersebut muncul seiring cahaya
matahari semakin jauh dari atmosfer bumi. Kemudian memasuki malam,
langit terlihat gelap atau hitam karena matahari sebagai sumber cahaya
terdekat tidak muncul. -sumber google-
"
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu itu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.
"
-QS Al-Isra' (17): 44
Tetaplah bernaung. Meskipun tidak benarbenar menjadi cahaya. Jangan sampai ada atau tidaknya diri menjadi hal yang biasa saja.
Tetaplah bernaung. Meskipun berhimpitan, tetapi tawa suka duka kelak menjadi satu hal berarti.
Tetaplah bernaung dan bersiap siaga. Naungan ada kalanya tergerus. Itu tugas kita mempertahankan. Jika tak bisa maka percayakan pada lainnya. Barangkali masa kita telah berakhir. Jiwa telah usang tetapi belum sepenuhnya purna menjalankan tugas.
"
Nahnu du'at qabla kulli syai'in.
"
Kendari, 4 Mei 2018 || 8.50 am
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar