Duasatu Mei; 6:25 am

sumber gambar. pixabay

Hujan belum terhenti.
Allahumma shayyiban nafii'an.

Satu dini hari tadi, dengan mata yang masih bugar, saya mengamati laptop. Sesekali melirik ponsel. Mengecek pesan masuk via media ataupun sekadar menaik-turunkan status whatsapp kontak ponsel (tanpa perlu membuka).

Suara hujan menjadi musik yang asyik (sekali). Ditambah degup jantung yang cukup mencekam, wkwkwk. Suara kertas, bolpoin, juga derak meja menjadi pengiring yang kompak. Setidaknya, saya tidak sendiri untuk begadang sejauh ini dengan alasan takut. hehehe

Saya melirik beberapa dus karton di pojokan. Satu, dua, tiga, ..., enam. Enam buah dus berisikan buku-buku yang terkumpul selama kurang lebih lima tahun. Semenjak mendatangi kota ini--Kendari--saya memuaskan dahaga saya dengan meraup banyak buku. Sama seperti ketika mengikuti Olimpiade Sains di Jayapura--2012 silam--saya benarbenar menyalakkan mata saat berkunjung ke gram*dia. Seperti menemukan air di tengah gurun, menyenangkan. Setelah menata dus-dus itu kemarin, sebuah ransel terpajang rapi di sampingnya. 

Saya kembali melihat waktu. Ini sudah terlalu larut untuk menyiapkan diri kembali bangun sebelum waktu imsak mulai. Oh iya, sekarang sudah memasuki hari ke-Lima puasa. Alhamdulillah (sejauh ini lantcar tjaya). Puasa memasuki seperenam waktu dan hujan pun tak kalah. Namun, menjadi hal unik sebab ketika waktu berbuka akan tiba, hujan seakan memahami posisinya. Hujan akan beranjak sebentar. Memberi waktu kepada para es untuk membungkam dahaga shaum-ers. 

Sebut saja pallu butung, pisang ijo, es buah, es cincau, es agar-agar  tanpa buah, ..., dan lainlain. Aneka penganan puasa lainnya begitu menggugah. Di hari sebelum ramadhan tiba, semua biasa saja. Ini seperti musim makanan, dear. Kamu dapat menemukan apa yang kamu cari.

Di saat seperti itu, pagi hari adalah waktu membosankan ketika hujan tiba dan saya tidak tahu harus melakukan apa. Selain diam di hadapan benda berlayar Empatbelas inchi, waktu yang nyaris terbuang sia-sia itu, harus dibuat produktif.

Alhamdulillah, Dua setengah tahun terakhir dipertemukan dengan sebuah dunia maya yang asyik. Dunia yang mengajarkan tentang keberkahan kolektif. Dimana semua kami ber-fastabiqul khairat untuk bekerja. Kerja dunia, dan akhirat utamanya.

Ramadhan kali ini, seperti sebelumnya... Teman-teman kembali menyemarakkan hal itu. Jika biasanya satu juz, di ramadhan suasana berbeda. Tidak tanggung-tanggung Sepuluh juz bahkan lebih. MasyaAllahu, semoga Allah selalu merahmati dan menjaga hati kita, kak-kak.

Bukan karena ingin dilihat--riya'--melainkan saling memotivasi. Layaknya mengisi lembar yaumian pekanan. Semua dengan rutinitas yang tidak biasa. Ada ilmuwan, teknolog, guru, mahasiswa, guide, juga profesi lainnya. Kita dapat menemukan segala bidang ilmu pengetahuan di sana. Termasuk peng-anggur-an seperti tsaya. DIA tahu, sangat mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya. DipertemukanNya pada apa yang dikehendakiNya. DijauhkanNya dari apa yang tidak dikehendakiNya. DitundaNya apa yang inginkan hambaNya untuk menguji sejauh mana prasangka hambaNya terhadapNya.
Ya muqallibal qulub,tsabbit qalbii 'alaa diniik




Sebelum hujan benar-benar deras, menyegerakan menebar jangkar adalah hal terbaik. Kita tidak ingin berlarut dalam ketidakpastian, bukan?
Maka, libatkan Allah di setiap urusan. Segala hal, jika diikutkan campur-tanganNya akan menjadi lebih baik. Berkahnya dapet, gitu.  
.
.
Pagiku belum pergi.
Juga hujan.
Kemana perahu harus kulabuhkan setelah menepi?
Jangkar harus segera kulepas.
Kutakut akan karamnya.
Juga karang.

Pagiku beranjak.
Menyimpan mentari dalam bayang.
Kemana dia pergi?
Kakiku harus segera melangkah.
Kutentukan pijakan.
Juga kebijakan.

Pagi.
____________________________

      Allah is everywhere. 
      i know, Allah is always beside me.
      kamu juga.
      thanks untuk siapapun atas doa dalam diam.


Kendari, 21 Mei 2018 | 6: 42 am
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a