hujan: sebuah usaha melupakan

RESENSI NOVEL 'HUJAN'

Judul Buku    : Hujan
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit  : Januari 2016
Tebal Buku    : 320 Halaman
Cover Buku    : Softcover oleh Orkha Creative
Penulis       : Tere Liye
 

"Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia.
Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."
 - (Hujan (DTL), Epilog, hlm. 318))


doc. pribadi penulis. desa sumber sari kec moramo kab. konawe selatan | September 2016




Tidak ada yang lebih tabah dibanding menerima kemudian  melepas apa yang telah dicapai.  Seperti sebuah dongeng, tentang seorang raksasa yang menangis dalam sebuah hutan dengan tinggi separuh tubuhnya. Raksasa yang patah hati. Menangis sekian hari hingga mengusik habitat--ekosistem-- makhluk lain. Hutan lebat yang menjadi saksi tangisannya menjelma lautan akibat keruk kesedihan mendalam. Peri laut dalam yang terusik pun menghampiri. Menawarkan beberapa permintaan. Maka, tibalah sebuah kesepakatan terjadi.  Sang raksasa tak ingin bersedih sementara makhluk lain tak ingin terusik. Atas segala usaha dan tindakan, raksasa yang ingin menghilangkan rasa sedih untuk selamanya berubah menjadi sebuah batu nan besar. Batu yang kemudian menjelma pulau hingga benar-benar memberikan rasa sedih hanya tinggal sedih. Raksasa tak lagi bersedih, makhluk lain tak terusik, dan ekosistem berjalan seperti biasa.

Kiranya, di dunia ini tak ada lagi Esok dan Lail versi ke-dua. Cukup Esok dan Lain dalam fiksi Darwis Tere Liye. Tentang bagaimana persahabatan, pengorbanan, dan rindu menjelma satu kata: cinta.  Juga, penerimaan. Maybe, tepat jika disebut sebagai cinta dalam ikhlas.

Penerimaan, terutama terhadap hal-hal yang menyakitkan, memang tidak gampang. Kita bisa saja bertahun-tahun menanam perasaan benci terhadap hal itu. Bersumpah tidak ingin bertemu orang-orang yang terlibat. Bersumpah ingin melupakan agar perasaan kita menjadi tenang, damai, tanpa kenangan menyakitkan itu.  Tetiba saya mewek di tengah malam. Insomnia saya kambuh terpikir beberapa hal yang sebenernya udah ada penyelesaiannya jauh-jauh hari. I mean, its clear now. Cuma, dasar cewek, ya... Sulit move on. Saya memutuskan untuk mematikan paket data sedari pk 9 malam dan menghabiskan salah satu seri novel DTL, yakni Hujan.

Hujan tidak memberikan efek yang begitu dramatisir tetapi cukup membuat sebuah pernyataan terkuak. Beberapa hal dalam hidup tentu tidak sesuai dengan apa yang telah terencana.  Sebuah keputusan menjadi penentu. Bagaimana memutukan suatu hal tanpa melibatkan ego. Mencintai tanpa tanya. Melupakan tanpa membenci.

"Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya menetap dihati kita saja,
tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita.
Maka biarlah begitu adanya, biar menetap dihati, diterima dengan lapang.
Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan.
Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian."

Seperti pada umumnya novel karya DTL, Hujan diceritakan seperti itu. Ya, gitu. Ngalir gitu aja. Baiknya, saya menuntaskan novel ini terlebih dahulu dibanding menyelesaikan sekuel Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang sembari menanti Komet. Hujan mengulas tentang aktivitas Esok--Soke Bahtera--sebagai seorang ilmuwan muda. Di usia Limabelas tahun telah menunjukkan bakat istimewa dan mencuri perhatian walikota hingga menjadikannya anak angkat.

Esok di tiap tahunnya kemudian menjelma menjadi seseorang yang sukar di tebak. Esok dengan waktu terbatas yang dimiliki hingga proyek rahasia serupa bahtera nuh. Bagaimana teknologi mutakhir 2050  menjawab semua. Mungkinkah kapal Nabi Nuh as.,  akan kembali berlayar? Apakah DTL terinspirasi membahas kehidupan di masa yang akan datang yang tentu lebih baik dari kehidupan di masa kini? Sekiranya, tiap buku fiksi yang ditulisnya adalah jawaban.

Dan, Lail seorang  gadis Tigabelas tahun yang belum memiliki rasa apapun--tepatnya belum mengenal cinta--.  Gadis yang kemudian tumbuh menjadi seorang gadis berprestasi kemudian membawa kenangan-kenangannya dalam sebuah ingatan. Bukankah cinta tak mesti memiliki jika saling menyukai dalam diam? Lantas mengapa harus cemburu?

Jujur di awal membaca novel ini bahkan sejak buku ini terbit saya merasa tidak tertarik  untuk memiliki juga membaca. Saya merasa novel ini akan sama saja dengan novel sebelumnya tetapi memang itulah kenyataannya. Tokoh utama pun cenderung membosankan (tapi udah saya ulas di atas, ya, sisi lainnya). Lalu mengapa saya memutuskan untuk membacanya? Asupan bacaan ringan saya akhir-akhir ini menipis. Saya semakin fokus menamatkan bacaan-bacaan whatsapp (omaigat). Gak! Saya hanya bosan memiliki buku fisik. Kebetulan bacaan ini di share dg softcopy maka saya memutuskan untuk membaca hanya dengan mengorbankan beberapa kb data internet saya terkuras.

Apakah kamu pun harus membaca buku ini ? Tidak. Namun, ketika membuka lembar demi lembar novel ini kamu akan merasakan bagaimana rasanya harus tegar ketika ditempa masalah, melangkah maju ketika masalah begitu berat, dan rasanya jatuh cinta. Ada rasa ketika rindu bertemu pasangan, bertemu kembali setelah sekian lama tidak bertemu, dan cemburu. Yang pernah atau sedang remaja mungkin akan tersenyum melihat tingkah Lail.(**)


“Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. 
Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. 
Masuk akal, bukan?"
 - Maryam, halaman 200 

___ 

"Apakau menyukai hujan?" -- Tidak.
"Apakau membencinya?" -- Tidak.
"Apa yang kau rasa ketika itu?" -- aku hanya berpikir untuk berlari dan menangis di bawah rinainya dengan bebas tanpa seorang pun tahu jika aku sedang menangis.

"Penerimaan jauh lebih bijaksana daripada melupakan. Menerimanya menjadi bagian dari diri kita. Menjadi pelajaran bagi diri kita. Dan adalah bagian dari merawat hati kita dari prasangka.

__

diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 14 August 2017 | 11:36pm  
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a