atas nama aman(ah)

  
doc. pribadi penulis

"sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya
dan dipikullah amanah oleh manusia.
sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."
-QS. al-Ahzab: 72_


Zaman ini semakin edan!
Begitu kata-kata viral yang semakin sering terdengar. Edan kenapa? Ya, edan, gitu aja.

Kejemuan berpikir, kebekuan berpikir, dan pengekangan potensi menjadi badai yang terus menghantam. Krisis sumber daya itu semakin melanda. HARI INI, entah berapa jiwa yang hidup dalam ke-tidak-siap-sedia-an. Mengungkung diri dalam badai; menghindari perjuangan untuk mempertahankan apa yang telah di bangun. 

Kerja nyata!
Untuk apa kita bekerja? Tentu masing jiwa memiliki jawaban atas tanya itu. Kita bekerja sebagai usaha. Bergerak. Berkontribusi. Kemudian, bersinergi. UNTUK APA? Untuk mempertahankan eksistensi diri dalam kejumudan yang meraja-lela. Nyatanya kerja itu memerlukan pengorbanan. Dan, untuk berkorban kita harus berjuang. Keduanya se-paket agar mencapai kemerdekaan yang hakiki.

Maka, setiap pundak yang memanggul amanah memiliki proses untuk bertahan agar tak kalah dalam berjuang. Berusaha untuk menang melalui kontribusi-kontribusi nyata dengan takaran berlebih agar tidak mengalami kekalahan atas nama amanah. 

Amanah datang di saat yang terduga. Tiap amanah, laiknya hidayah. Jemput atau tunggu?
Lazimnya, amanah adalah kepercayaan. Banyak fase yang harus dilewati agar kepercayaan tak sekadar dipercaya melainkan penuntasan dan pertanggung-jawaban diri terhadap pencipta. Terkadang diri ingin rehat sejenak tetapi DIA datangkan kembali 'sesuatu yang baru' agar diri kembali bergerak. Tidak lama berleha.

"Innal amran kulahullillah"
Sesungguhnya segala urusan itu ada di tangan Allah

Cinta!!!
Perjuangan ini membutuhkan komitmen. Totalitas. Loyalitas. Banyaknya ujian menjadi besi penempa yang siap menempa hingga  diri terasah. Meskipun tidak sempurna terasah,  inilah kekurangan dan kelebihan selaku fitrah individu.

Maka, jangan pertanyakan cinta yang bahkan tak dapat tertangkup. Cinta atasNya, atas pemberianNya. Yang membuat kita, menjadi saksi sejarah bukan sebagai penonton tetapi  pelaku. Sebab kita adalah pemanggul peradaban.

Kita akan terus tumbuh lalu layu; menua. Kita membutuhkan mereka yang siap sedia memanggul tanggung-jawab di tengah  krisis kepemimpinan. Kita butuh mereka yang sanggup menembus badai; menjadi benih unggul. Bukan sekadar penikmat posisi, kekuasaan. Estafet ini harus tetap berlanjut (ada atau tidaknya kita) agar dapat maju dan berkembang  bukan malah mundur dan membuat 'taman yang telah dirawat menjadi begitu ekslusif'.

Kita harus siap dan mempersiapkan--mencari sosok pembaharu--. PR besar saat ini adalah menyolidkan inti sel. Mensinergikan  kembali kinerja jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan seluruh anggota tubuh.  Generasi ini memiliki tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. 

Ikhlas.
Karena kita telah bersepakat untuk  menanamkan rasa cinta dalam perjuangan ini, maka bersatulah untuk menciptakan kerjasama internal yang kokoh. Boleh jadi, masing diri memiliki pertentangan yang membuat 'tubuh' semakin sakit dan kalah dalam melawan virus yang semakin menggerogoti.

Olehnya ikhlaslah di tiap menerima apa yang dipercayakan. Tanpa bermaksud menggurui, pergerakan akan terkalahkan jika posisi internal porak-poranda. Setelah sosok ideal generasi pewaris telah ada, telah muncul, mari bersama belajar bekerjasama agar ketika berada di kerumunan massa kita dapat bergerak dan menerima kebebasan dalam perbedaan berprinsip.

Saya dimana saat amanah itu menyapa?
Rasulullah saw., bersabda, "Jaminkan untukku enam perkara dari kalian, niscaya aku jaminkan surga untuk kalian. Enam diantara keenam perkara itu adalah hendaklah kamu menunaikan amanah jika kamu mendapatkannya." HR Ahmad

Barakallhu fiik
Semoga Allah kuatkan diri dalam berproses guna membenahi diri.
(jangan lupa tersenyum dan bahagia)
.
.
.
diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 20 Agustus 2017 | 10:42 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a