Menghimpun Semesta (1)
Ruh-ruh itu seperti pasukan
yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling terpaut.
Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih. (HR Muslim)
Selamat datang, Juni.
Dengan kedatangan yang membawa gerimis tebal, Mei beranjak gugur meninggalkan dahan. Menyimpan cerita tersendiri bersama waktu dan lusinan anak manusia yang hahahihi sana sini.
Kemudian, setangkup harapan berlarian. Aku sembunyi. Berdiri. Mengintip samar. Berlari. Merunduk. Lalu dengan penuh kejutan, aku terduduk menatap layar ponsel.
Semua benar telah basah. Ada kenangan yang berjalan. Ada yang kuinginkan. Ada yang tak kuingin. Aku masih miliki jalan panjang, katanya. Aku masih ingin pertahankan hidup layaknya merpati.
Wew... Mengapa harus merpati?
Baiklah. Sepenuhnya, pada masa lalu yang ingin menguntitt, aku masih tertunduk malu. Aku tak hanya lali pada kehidupan melainkan penghidupan.
Mei benar benar jahat. Seperti dia. Dia juga. Dan, dia. Juni benarbenar tiba sesuai perkiraan. Mengantar jutaan mode yang tak ingin kutahu. Lalu dengan gamblangnya bertanya, "Apa kau sudah selesai dg urusanmu?"
***
Jun, dia sungguh luar biasa. Aku percaya, di bulan dg lambang Cancer ini banyak tetasan telur berhasil menjadi anak. Dan kita tak akan tahu sejauh mana anak akan bertahan dalam kerasnya kehidupan.
Jun, kedatanganmu ini kali bawa perihal apa? Konon, 1400an tahun lalu sesuai penanggalan hijriah, terjadi peristiwa akbar. Aku tidak turut andil tetapi aku percaya, jauh sebelum berang itu terjadi: 50.000th sebelumnya, kisahku telah abadi di lauful mahfudz. Dan, sembari proses berjalan, kisah abadi sang pembawa risalah pun berjalan apik.
Perang Badr dan nuzulul qur'an menjadi prosesi menarik. Jun, benarkah?
***
Jun, aku melihatmu tak biasa. Sebenarnya, Sapardi telah salah menulismu. Entah, sepertinya dia benar sengaja. Kala itu hingga kini tak pernah ada hujan bulan juni pu sakura yang mekar sepanjangjalan penuhi jalan.
Jun, aku tak bilang untuk menyingkir tetapi harusnya kau tiada. Aku menyerah. Siapapun yang kau sukai, aku tak peduli. Lepas kau pergi Juli akan segera bertandang dan itu pertanda kau benar menemukannya.
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Ruh itu seperti halnya tentara yang dipersiapkan akan bertemu dengan yang sepadan."
Jun, setidaknya kami bersyukur kau telah menemukan jalanmu. Rumah dimana kau dapat berpulang dan bersambut hangat. Aku tak hanya akan kemasi barang tetapi kremasi kenangan pun.
Jun... Dia sudah datang. Bersegeralah. Ramadhan pun 'kan tiba,tak genap seminggu. Aku hanya harus melupakanmu, 'kan?
Aku masih di sini.Kami. kau, di sana. Bersama malam yg dingin.
Ini malam gigil semayamnya sekujur tubuh. Aku tak banyak berdoa. Aku masih belia untuk usia dan terlampau dewasa demi permasalahan.
ya Allah kokohkanlah ikatannya, langgengkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah dengan nuur cahayaMu yang tiada pernah padam. Juga lapangkanlah dadanya dengan kurnia iman padaMu, dan jelitanya tawakkal padaMu. Hidupkan dengan ma'rifat mengenalMu. Dan matikanlah di atas kesyahidan di jalanMu.. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela..
***
Dy A. Said
Kendari, 1 Juni 2016 | 10:04pm
Komentar