Bogor: Hujan, Pulang, dan Ruang (1)
Alhamdulillah alaa kulli hal
Purnama malam itu menyambut dengan girang. Oranye dan bundar utuh. Terduduk dan mengamati sekitar tanpa membutuhkan kata lisan selain adz-Dzikr, cukup untuk menjadi penikmat kenikmatan-Nya.
Banyak jalan baru yang terlewati. Tanpa perlu dihapal namanya, ejaan kata yang tersemat lebih untuk mengingat. Dan, sesuatu yang bulat berwarna oranye itu terus mengikuti.
Dia bukan baju kesebelasan timnas Negeri Kincir Angin yang sempat menjajah bangsa penghasil rempah selama 350th menurut sejarah. Dia bukan embrio dari telur bebek pula. Atau bola pingpong.
Tiap kelokan dia terus mengamati. Mengikuti jejakjejak jalan. Berotasi. Ada hal yang harus terucap kali itu, tanpa perlu bergumam.
Semakin banyak gedung bertingkat terlewati, dia makin cantik terlihat. Aku menyukainya dan well, kameraku tak baik mempersunting. Maka dg bijak, indera penglihatan dan otakku berkompromi untuk menaruhnya sebagai ingatan. Aku menaruhnya di satu tempat.
...
Kami (aku dan rombongan bus; penumpang) tiba di tempat pemberhentian bus terakhir. Segera jumpa dg bapak yg akan mengantar ke tempat selanjutnya. Perjalanan masih belum melelahkan.
Aku terdiam, tetap terdiam. Beberapa kali terhenti karena macet dan membeli penganan untuk sahur, akhirnya tempat yang dituju mulai menyapa pelan.
Hai.
Hai juga.
Assalamualaikum, Pengelana.
Wa'alaykumussalam, Kota Hujan.
...
Suasana asri, religius, dan bersahabat. Begitu menyenangkan untuk kemudian terucap sebagai catatan (1). Lelah masih memulai tapak untuk siaga.
...
Menyenangkan adalah ketika kita menunggu dan kepastian itu tak kunjung datang tetapi berbuah pertemuan sejati. Hingga subuh mendekati akhir beduk bertalu, setia kami menunggu. Menunggu dengan penuh lirikan ke luar paviliun. Setelahnya, kami berharap cemas agar semua menjadi baik baik saja. "Bukankah di dalam sahur terdapat banyak keutamaan?"
Waktu menunjukkan pukul delapan. Suasana semakin ramai. Mengitari daerah sekitar dan kami memutuskan agar segera kembali ke paviliun--secepat mungkin--.
Yang ditunggu telah tiba, seluruh kami berkumpul. Menanti sebuah temu. Tempat itu menjadi saksi, kami berkenalan sapa. Energi positif teramat mistis di sini. Yaps, frekuensi yang sama telah menyatukan kami.
...
Dua puluh generasi muda ditambah kakak kakak kece nan inspiratif. Ini begitu menyenangkan. Kemudian, kami mulai dibagi per kelompok. 5 orang jumlah per kelompok dan tiap kelompok menamai kelompoknya berdasar pada judul sebuah novel. Maka jadilah ke 4 kelompok tersebut melingkar, berdiskusi, dan menyelesaikan seluruh misi dalam tempo 2 menit.
Menegangkan. Seru. Canggung. Akrab; perlahan. Ada kelompok Hujan (1), Pulang (2), Happiness (3), & Negeri Lima Menara (5)--kelompok yang mendeklarasikan diri sebagai kelompok 5 bukan kelompok 4. Hehehe
So funny. Ada cerita penuh keceriaan. Berdua puluh, kami ada dan datang dg latar belakang yang berbeda. Ada siswa, mahasiswa, dan fresh gratuated.
Aku yang tergabung dalam kelompok PULANG, merasa bersyukur berada dalam kelompok itu. Mulai menentukan nama kelompok, yel-yel, hingga diskusi bersama Kak Hikaru (BPP FLP Pusat, Penulis), semua berjalan baik. Akrab kami serasa cepat menjulur. Kebaikan cepat mengalir.
"Mengajarkan banyak pelajaran hidup dan hikmah. Tidak cukup hanya menjadi follower kebaikan saja, tapi kitalah yang harus menjadi penggerak dalam kebaikan itu."
Berlima kami menjadi itu. Lia (Filsafat UI), Emil (Antropologi UI), Vikram (Smart Ekselensia DD), Jinggan (SMA Tri Guna Dharma Tangsel), dan saya, Diah (PBSI UHO). Sampai detik ini, sepertinya kami menjalin telepati baik agar dapat bersinergi di hari berikutnya.
Sehari ini begitu menyenangkan. Satusatu hikmah berserak mulai dipunguti. Aku mengambilnya. Aku mulai paham perihal rindu. Mungkin, salah satu rindu yang mulai tetas adalah berkumpul bersama. Bersama siapapun, yang memiliki frekuensi yang sama.
'ibratul lii ulil albaabi maa kaana haditsayaa yuftara...--terdapat pengajaran bagi orang orang yang berakal... .--"
Teringat kisah seorang Imam yang mendapat hikmah dari seorang pencuri. Seorang Imam dan seorang tukang roti. Seorang kekasih Allah yang ikhlas ketika akan dipukuli oleh pengikutnya. Hikmah berserakan dimanapun. Perjalanan masih panjang. Pun belum terasa lelahnya. Ayo bangkit.
Bangkit, Bergerak, Bersinergi.
Nun. Walqalamii wamaa yasthurun.
BPI Bogor, 21 Juni 2016 @Paviliun 1
23.00 wib
Diah A. Said
Komentar