Iqra' dan Qalam; untuk Insan.
Ramadan tak melulu tentang estafet kita perihal amal ma'ruf nahi munkar. Seperti, berlomba ke masjid, mengkhatamkan alqur'an, dan berburu ta'jil.
Ada hal lain yang kerapkali terlupakan. Bagai terbawa bah, meluap begitu saja. Hilang. Siapa dia? Eh, atau apa itu?
Cobalah menebak; kuis. Perburuan masing jiwa telah mengena garis kesekian miliknya. Seorang pemburu akhirat pun begitu. Banyak hal namun kerapkali yang kecil itulah yang menghilang.
Dalam keterampilan berbahasa, terdapat 4 keterampilan. Sehari-hari, keempatnya amat berkaitan. Jika dalam biologi, mereka menyebutnya simbiosis. Nah, menyimak berbicara membaca, and the last menulis.
Yap, menulis menggenapi keempatnya.
Mengapa harus menulis?
Ini jawabnya...
Orang yang hobi menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat ketimbang tidak melakukannya.
Layaknya es krim, menulis adalah cairan yang mudah lumer dan beraneka rasa. Beda tangan beda rasa pun berlaku.
Layaknya koki, menulis adalah alat sedang kata adalah bahan. Bumbu perasa adalah kepekaan. Dan, kemauan adalah kurasan tenaga saat sendi sibuk menguleni bahan.
Layaknya cinta, menulis adalah rindu yang tak sampai lalu meluap menggempur awan. Kemudian tiba sebagai hujan dan hilang sebagai penawar hati yang luka. Haha...
Whatever, i mean writing is easy. We read, then we brave enough to see the world.
***
Menulis sejenis mencari jodoh. Kesulitan kata, mempersiapkan kalimat yang apik agar menjadi wacana satu padu, pun menaruh hal-hal kecil; penanda yang tepat.
Menulis butuh mak comblang. Ada yang namanya editor. Jadi, jangan takut unt uk menulis. Tulisan jelek, masih pemula, dan malu adalah alasan tradisional di era globalisasi. Masih zaman?
Menulis agar dipahami. I mean, mereka adalah makhluk hidup. Bagaimana membikin penampilan pasangpasang kata agar menaik, berarti, dan miliki nilai.
Menulis, menuliskan agar dikenang. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal baik.
Nun. Walqalaami walaa yasturun.
Menulis jua ibadah. Kok bisa? Nah, andaikan 2/3 air dapat menjadi tinta ut menulis maka keringlah. Tak ada lagi. Namun, hingga kini kita masih fine fine aja dengan pena, tinta aneka harga, dan kertas rupa.
Jangan membuat orang menunggu terlalu lama hingga orang lain berjuang mendapatkannya lebih dulu.
Ide, gagasan, atau apapun itu; tulislah. Dimanapun bahkan di atas selembar tisu pun. Bukankah seorang ulama terkemuka menulis dg menggunakan telapak tangannya sebagai kertas?
Segeralah rilis ide tersebut. Kembangkan. Bahkan jika tidak dapat dikembangkan, tampunglah. Anggap saja sedang di fermentasi. Setelahnya, silah memerah pahala. Raih unta merah dg menjadi orator pena jika tak mampu menjadi orator jalanan.
Masih ada alasan untuk tidak menulis?
Mulailah berkarya. Mulailah dari hal kecil semisal menulis. Jika bukan sekarang kapan lagi?
Berhenti membuang waktu. Jangan terlalu yakin dapat kembali menghembuskan nafas panjang ut hari esok. Tanamlah amal jariyah dg ilmu bermanfaat berupa tulisan.
Semangat berkarya. Ide, kecekatan, dan hobbi bahkan mencintainya dimulai dari teman dekat. Silah berekspresi. Jika telah kau temukan pasangan kata untuk kisahmu, jangan lupa pula persiapkan diri untuk sambut pasangan kamu. Hehehe
Jodoh tidak akan tertukar. Karena ukuran rusuk berbeda antar insan. Karena tak serupa akan menemukan pasangannya. Jangan mau kalah sama sandal jepit dan uang lusuh.
Manfaatkan waktu. Buat dirimu berharga. Yeah, semoga lekas berbenah. Selamat menjalankan ibadah puasa. Ramadhan produktif ibadah. Ibadah baca, bicara, dan nulis.
Syukuri yang sederhana. Bukan tidak bisa melainkan belum bisa. Jadikanlah kehidupan sebagai inspirasi untuk sesama.
Dy a. Said
Kendari, 10 Juni 2016 | 5 ramadhan 1437
23:30 wita
Komentar