Harga sebuah Pengakuan (2)
// selama itu aku akan selalu mengingatmu //
// kapan lagi ku tulis untukmu tulisantulisan indahku yang dulu //
...
//mungkinkah kau kan kembali lagi //
//menemaniku menulis lagi //
// puisi terindahku hanya untukmu //
(Jikustik - Puisi)
// kapan lagi ku tulis untukmu tulisantulisan indahku yang dulu //
...
//mungkinkah kau kan kembali lagi //
//menemaniku menulis lagi //
// puisi terindahku hanya untukmu //
(Jikustik - Puisi)
***
Seperti langit runtuh, ketika itu datang. Di alam bawah sadar, harapanharapan bergelayut. Menerka. Mencari. Meringis. Mengemis.
Seperti langit berubahubah. Di sudut pandang yang basah, ideologi berlepas. Hempas. Terampas.
Seperti langit, biru. Di cokelat mata Asia, hati berlarian. Hati hati. Perlahan, pasti. Tak ingin mati. Menanti. atau Dinanti?
---
Kelak, ketika akan bercerita. Perihal
seorang anak bernama Dinanti. Yang kehadirannya teramat dinanti.
Kemudian malammalam tetap berlalu. dengan sebongkah keramat melamat lambat menuju langit. Meluncurkan beribu pias. Mencomot mantra tanpa melihat tetapi tepat. Lalu mengarah
menuju Arsy menjelma mimpi.
maka dengan ini mengakui, memahami arti hadirmu
Kun Fayakun.
Barakallahu laka wa barakah 'alayka wa jama'a baynakuma fii khair
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 15.12.2016 | 6:39 pm

Komentar