j a n u a r i : meringkas jarak
![]() |
| pada jarak yang tak pernah terdekati. seusai Eid Fitri 1438H |
di tahun yang itu, kita tidak pernah lupa untuk berbagi kabar (walau sekadar emoticon pada layar ponsel). sesuap cuapan menjadi renyah yang lumayan kriuk agar bibir tetap merekah. sepotong canda melempem di selasar otak serta buih-buih adab di tapal kerongkongan. kita tahu; sama-sama tahu cekatan itu.
kemudian di tahun setelahnya, diam-diam menerjemah arti adalah rute baru. ber-alih mengubah lintasan, kita sibuk dengan cerita tentang seorang. seorang yang bahkan tidak mengetahui apapun tentangnya; siapa yang menceritakannya; dimana cerita tersebut tersebar; juga sejak kapan lautan kata atas namanya mencair di permukaan.
kita pernah bersenda di satu sore. berjanji untuk tidak saling mengungkit apapun perihal hal yang kita tahu bahwa kita tak menyukai itu. kita telah bersepakat. kita biarkan semua seperti nyala lagu pada radio. tetapi kata tetaplah kata yang jika terucap akan terngiang. melahirkan semakin banyak tanda. musik melow di sudut arah jam Sepuluh berganti beat. kita tertawa-ragu-apakah kita baik-baik saja?
sebelum hujan menuruni Bumi di Sabtu sore, kubaca sebilah papan beruntai doa. sejak itu, aku sadar... bertemu bukanlah satu cara menuntaskan rindu. selama ini kita sudah cukup sering bertemu ternyata. bukan lewat pesan di layar ponsel kita di tiap malam melainkan doa. kau ingat bukan, kita selalu menyemangati untuk saling mendoakan?
bulir-bilir jagung perlahan menguning. sebagian telah nyaris habis di plastik-plastik yang bertandang. sepagi tadi, ketika ibu menelepon, katanya Tiga hari lagi kiriman jagung akan segera tiba. yeayy. mangga, nanas, dan sekarang jagung. aku telah membuat banyak rencana. entah jagung berpulut kuning atau putih. aku menyukai keduanya. entah denganmu (setelah pertemuan terakhir).
jagung bukanlah segalanya. banyak lagi buah. tetapi kerasnya jagung tak seperti lainnya. untuk mengunyah Satu, merasanya langsung; tidak mudah. aku mengingat sepasang hati yang tertaut di pinggir pantai Map. menunggu jagung kuning terbakar manis dengan rasa sesuai pesanan. dan tiba, satu dari mereka tertawa memperlihatkan satu sisi unyu. selapis pelapis jagung menyempil. aku nyaris terbahak. bahkan untuk hal sekecil ini kamu tidak kunjung datang. aku nyaris salah menepuk bahu.
diam-diam pula aku membisiki ibumu. menanya banyal hal tentangmu. ibumu hanya mengulang satu hal. aku menyukai hal itu. kata yang membikin tenang. maka, bisik-bisik adalah hal lumrah antara aku dan ibu. sungguh, aku bukan tak percaya atau ragu. aku hanya memastikan.
bersamaan di pekan berikutnya, diam-diam ibu menyuratiku. aku menemukan sebilah papan tertaut lembar daun. itu tulisan ibu. sebenarnya aku tak ingin membukanya. tetapi harus. memberitahumu tentang itu, cukup mengirimmu emot atau memberi senyuman atau bahkan berkata singkat, "ibu mengirimiku pesan."
tentang kita, bagi ibu, jarak adalah waktu tentang bagaimana doa kita akan menyatu. bahwa jarak bukanlah alasan untuk menjauh. sebab kita di dekatkan oleh doa.
januari.
apa yang kita harapkan selainkan lebih tabah dari ombak januari?
kita hanya (lagi) perlu tahu: sejauh apapun kapal meninggalkan dermaga, ia tetap akan berlabuh di dermaga. bukan di stasiun.
januari.
tidak perlu menghapus jarak. karena kau cukup meringkasnya.
D
O
A
kendari, 8 Januari 2018
diah a. said - seorang pembelajar
4.12 pm

Komentar