j a n u a r i: izinkan aku bertamu

"... bergeraklah dan terus belajar 
hingga kau lelah dan kau dapati lelah kelelahan mengikutimu."


2 Januari 2018.
Bulan pertama penanda penanggalan Masehi telah memasuki usia Dua hari. Tidak banyak yang terjadi di Dua hari ini selain anak-anak yang girang meniup terompet; bapak-ibuk pekerja yang libur dan hari ini kembali memasuki kantor; kakek-nenek yang menggerutu tak kuat menahan deru mercon yang bertabur di langit seperti tepung. Pedagang berbahagia tentu. Seakan musim, semua tiba-tiba berseliweran di pinggiran jalan. Mengingatkan satu hal; bahwa yang pergi pasti akan kembali.

Sepagi ini sekolah-sekolah telah dipenuhi warganya. Seragam putih merah kembali menaungi daratan kota. Mereka tampak imut. Iya, imut.

Aku berada di sudut lain. Dimana aku dapat berkreasi walau dalam keterbatasan. Setengah jam berlalu dan kini setengah jam setelahnya seorang lelaki yang tak asing wajahnya datang. Datang dengan senyum yang sama. Dia pemilik suara itu. Satu hal menyebalkan: aku menandai aroma parfum yang dikenakannya. Hal yang paling menyebalkan bagiku adalah mengenali bau parfum dia,dia, dia, dan dia. Secara tidak langsung, di masa depan aku otomatis mengenang kisah lampau. Itu tidak seharusnya terjadi. Apalagi jika masa depan itu hanya berjarak setahun dua tahun. Its not romantic. wkwkwk 

Mobil tetap hilir mudik ke sana kemari mencari penumpang. Jumlahnya lebih sedikit. Aku menemu wajah gusar. Dan, aku sendiri gusar: tak dapat memalingkan wajah ke arah jam Duabelas. Seakan kaku.
Sesekali kulirik ponsel. Matahari masih bersembunyi di pukul Sebelas kurang Tigapuluh menit. Aku gusar terhadap beberapa hal. Melewati banyak hal. Melupakan sebagian yang lain. Meninggalkan separuh dariku.

Tuts tuts laptop ribut. Saling berlomba menggiring nada. Di sudut lain, suara batuk terbata-bata keluar. Tugas akhirku kembali terjamah setelah lama terabai. Ada yang berat, membatu kemudian mencair lalu membatu. Berputar; terus seperti itu tidak berubah.

Aku butuh komitmen sebagai kekuatan. Aku tahu, aku tak akan pernah sampai tujuan jika menerus seperti ini. Waktuku tak banyak. Aku hanya takut gagal. Selalu menginginkan semua berjalan sempurna adalah keburukan yang menerus tumbuh. Subur.

Jujur. Aku hanya perlu mencoba. Mencoba untuk memulai. Mencoba untuk melangkah. Mencoba untuk tersenyum. Mencoba untuk bersabar. Mencoba untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai.

Januari selalu memiliki kisah tersendiri.
Maka, mari memperjuangkan hak dan kewajiban agar terus dapat bertahan. Bertahan dari ganasnya kehidupan.


kendari, 2 Januari 2018 | 10.45 am
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a